Pintu Baru untuk Kebangkitan Bali

Pintu Baru untuk Kebangkitan Bali
info gambar utama

"Kasihan Bali, sepi banget," kata salah satu teman saya yang baru kembali dari dinas di Bali. Dia juga mengirim foto yang membuat saya merinding; deretan kios sepanjang Seminyak, yang biasanya riuh rendah oleh berbagai kegiatan jual beli toko suvenir, warna-warni kaos barong atau tas anyaman rotan, kini berisi deretan rolling door yang tertutup rapat.

Di balik setiap pintu yang tertutup itu, ada kerugian yang luar biasa. Dari mulai penjualan yang terhenti, rantai pasok yang macet (pengrajin tidak bisa menjual karyanya), sampai penghasilan yang terhenti akibat karyawan yang tidak bisa bekerja. Milyaran ruginya untuk setiap pintu, sementara pintu yang tutup banyak sekali.

Turis berjalan di sepanjang toko yang tutup di Bali | Foto: AP Photo/Firdia Lisnawati
info gambar

Ini baru Seminyak, belum lagi Tanah Lot, Monkey Forest, dan wilayah-wilayah wisata lainnya. Bak kartu domino yang runtuh berurutan, tutupnya setiap pintu toko suvenir, mulai dari los Pasar Ubud sampai ke kios di wilayah Candi Dasa membawa petaka sampai ke desa-desa, dan sentra-sentra industri di Bali.

Saya membayangkan, pengrajin kayu Tegalalang yang kini sepi, penghasil tekstil batik dan perak di Celuk nyaris berhenti, dan sentra industri makanan kacang goreng di Tabanan turun drastis produksinya. Seluruh Bali, merasakan dampak dari tutupnya pintu-pintu toko suvenir di seluruh Bali. Nah, apakah pembaca mulai melihat masalahnya?

Mengapa produk-produk Bali yang luar biasa, seperti pia Legong sampai selimut logo Jack Daniel's hanya dijual lewat "pintu" yang sama, yakni toko-toko suvenir di seluruh Bali?

Memang, dalam kondisi normal, "pintu" inilah yang paling mudah untuk menghasilkan uang. Saking banyaknya turis di Bali, tinggal buka pintu dan dipajang saja, pasti ada yang membelinya, bukan? Namun, wabah Covid-19 mengajarkan kita bahwa tidaklah baik mengandalkan ekonomi satu provinsi hanya lewat satu "pintu" saja. Memangnya "pintu" apa lagi yang bisa dibuka?

Hari menjelang sore, ketika kami selesai memasang mesin pengisi botol (filling machine) berkecepatan tinggi di Sababay Winery, Gianyar, Bali. Perusahaan ini mempunyai ide gemilang, yakni membeli anggur hasil petani Bali Utara dengan harga bagus.

Kemudian, mereka mengolahnya menjadi wine, menjualnya ke seluruh Indonesia, serta melakukan ekspor. Di sisi pabrik, tempat karyawan istirahat, ada kebun kecil yang cantik dengan pohon kamboja dan anggrek bulan menjurai ditimpali angin semilir sejuk dari Pantai Lebih di seberang pabrik.

"Pak, kok di Cibitung nggak ada pabrik bikin taman seperti ini, ya?" kata karyawan saya. Belum saya menjawab, sebuah minibus datang dengan rombongan turis yang ingin mencicipi Sababay Wine sambil melihat proses produksinya.

"Kamu pikir di Cibitung ada pabrik yang menerima turis seperti ini?" jawab saya sambil tertawa.

Bali, punya satu "pintu" yang belum dibuka, yaitu industri dan potensi ekspor. Pengalaman memasang mesin di Bali membuat saya geleng kepala. Betapa susahnya menemukan barang teknik di Bali. Baut, mur, selang, semuanya dari Surabaya.

"Padahal, banyak produk lokal Bali yang sebenarnya bagus dan bisa diekspor," kata I. B. Rai Budarsa, dari keluarga pemilik Dewi Sri Distillery sekaligus founder Hatten Winery Bali, dalam acara IG Live yang dikoordinasi oleh Forum Fermentasi Nusantara.

Bayangkan, jika "pintu" ekspor dan industri di Bali mulai dibuka. Orang-orang Eropa yang tidak bisa terbang ke Bali, tetap bisa membeli cokelat single origin Bali di supermarket mereka. Karena Bali identik dengan "wellness", maka orang Amerika pecinta Bali, bisa membeli sabun, shampoo, dan produk perawatan tubuh lainnya dengan ramuan yang diproduksi di Bali.

Warga Australia yang punya kedekatan hati dengan Bali, bisa membeli Barbecue Sauce dengan rasa sambal matah Bali, atau membeli beras single origin dari Jatiluwih yang bisa disantap sambil membayangkan hamparan terasering di tempat asalnya.

Dengan dibukanya pintu-pintu baru ini, maka Bali tidak akan terlalu bergantung pada kehadiran wisatawan, tetapi brand-nya bisa menghasilkan devisa bahkan untuk Indonesia, tidak hanya untuk Bali.

Setelah trauma Covid-19 selesai, sudah saatnya Indonesia membantu Bali mengembangkan pintu industri ini untuk memberikan perlindungan dan jaminan agar jangan sampai krisis yang sama menerpa Bali lagi di masa depan. Dengan meningkatkan ketahanan ekonomi Pulau Dewata yang kita cintai bersama ini. Yuk, kita bangun Bali kembali, dengan pintu-pintu baru yang membuatnya sejahtera!*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini