Yuk Lirik! Cerita Menarik dari Lima Jenis Kerupuk di Indonesia

Yuk Lirik! Cerita Menarik dari Lima Jenis Kerupuk di Indonesia
info gambar utama

Kawan GNFI, sadar atau tidak hampir semua makanan lokal di Indonesia disajikan dengan kerupuk. Mulai dari nasi goreng Jawa, bubur ayam Cianjur, soto Betawi, rawon, ketoprak dan masih banyak lagi.

Nah, selain secara visual ia kerap disandingkan dengan kuliner tanah air, cita rasanya yang berpadu satu di dalam mulut dan bunyi “kriuk” akan menambah selera makan. Tak mengherankan, berbagai kalangan suka dengan kerupuk.

Ria Ricis, kreator video dengan lebih dari 20 juta pengikut di media sosialnya Youtube, terang-terangan pada caption Instagramnya mengaku “suka makan kerupuk”. Dilansir dari laman Tempo.co (26/06/2019), bahkan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, saat ditemui di tempat kediamannya bersama Jusuf Kalla atau JK, bernostalgia mengingat kenangan bersama saat makan kerupuk.

Padahal nih kawan, dulu sejarahnya sekitar abad ke-19, kerupuk adalah makanan yang menjadi simbol keprihatinan saat masa penjajahan di Indonesia, ujar Fadly Rahman selaku sejarawan dan penulis buku Jejak Rasa Nusantara di laman Kompas.com (9/08/2020).

Masyarakat Indonesia dari kalangan bawah pada saat itu hanya bisa menyantap kerupuk sebagai lauk. Sebab bahan makanan seperti daging sangat minim, dan jikalau ada di pasar harganya sangat mahal.

Kerupuk yang dimaksud adalah kerupuk aci, bahan utamanya dari singkong yang dibentuk menjadi tepung lalu dicetak kemudian dijemur dan akhirnya digoreng. Namun kini, tanpa pandang bulu kerupuk dapat dinikmati oleh semua orang. Kawan mudah mendapatkannya di warung pinggir jalan, pasar, restoran, dan bahkan hotel berbintang.

Seiring berjalannya waktu kerupuk juga tampil dengan bahan utama, bentuk, dan harga yang bervariasi. Hingga pada akhirnya inovasi yang dilakukan pada makanan renyah ini, melahirkan cerita menarik yang beragam, apa saja itu?

Ini dia cerita dari lima jenis kerupuk di Indonesia:

1.Proses Pembuatan Kerupuk Kulit

Sumber: Wikimedia Commons
info gambar

Bahan dasarnya bukan dari umbi-umbian tetapi dari hewani seperti dari kulit sapi, kulit kambing, ataupun kulit kerbau. Pada umumnya kerupuk kulit disebut dengan kerupuk rambak.

Namun di Sumatra, ia kerap disebut karupuak jangek dan sangat nikmat apabila disiram dengan kuah gulai. Dari satu lembar kulit sapi atau kulit kerbau bisa menghasilkan 6 kg kerupuk siap pasar, bila kawan ingin mengintip proses pembuatannya dari awal, ingat saja tahapan 10P.

Mulai dari tahapan pemilihan kulit sapi atau kerbau yang harus berkualitas, lalu masuk ke tahapan kedua yakni proses pencucian kulit, tahapan ketiga ialah pengapuran kulit dengan larutan kapur tohor sekitar 96 jam atau 4 hari, ini bermaksud agar bulu mudah dihilangkan sekaligus juga dapat meningkatkan daya kembang serta kerenyahan kerupuk kulit nantinya.

Setelah itu kawan akan masuk ke tahapan keempat yakni pembuangan sisa larutan kapur dari kulit dengan air mengalir, jika sudah bersih maka masuk ke tahapan kelima yakni pengerokan bulu, tahapan keenam maka kawan akan sampai ke proses perebusan kulit, tahapan ketujuh yakni pemotongan kulit yang sudah matang sesuai selera, setelahnya masuk tahapan kedelapan yakni proses perendaman potongan kulit dengan tambahan bawang putih dan garam selama kurang lebih satu jam, tahapan kesembilan yakni penjemuran kulit dibawah sinar matahari selama 2-3 hari atau sampai kulit kering.

Terakhir kawan akan sampai ke proses penggorengan kulit sapi atau kerbau sebanyak dua kali, dimana kulit hasil jemuran digoreng dengan minyak bersuhu rendah terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan memasaknya ke minyak goreng panas bersuhu 100 derajat celcius.

2.Kandungan Kerupuk Melinjo

Kerupuk Melinjo Mentah Sumber: Shutterstock
info gambar

Kawan GNFI, kerupuk ini tak lepas dari kandungan purinnya yang relatif tinggi, yakni berkisar 50-150 mg/ 100 g bahan. Purin sendiri sebenarnya merupakan zat yang sudah ada dalam tubuh manusia dan juga terdapat pada setiap bahan makanan baik dari hewan maupun tumbuhan.

Dilansir dari Buku Menu dan Resep untuk Penderita Asam Urat (2008) oleh Rita Ramayulis, DCN, M.Kes dan Ir. Trina Astuti, MPS., ternyata makanan sehari-hari yang dikonsumsi seperti seafood, daging segar, jeroan, dan lainnya lebih kurang mengandung 600-1000 mg purin.

Sehingga, pada praktiknya kita memang tidak bisa terhindar dari makanan yang mengandung purin. Namun optimisnya, kawan bisa mengatur pola makan sehari-hari, seperti salah satunya mengontrol konsumsi emping melinjo ini.

3.Rasa Kerupuk Jengkol

Sumber: Flickr
info gambar

Karupuak jariang orang Minang menyebutnya, kebanyakan hasil produksinya diolah dari industri rumahan yang bahan utamanya dari jengkol tua. Mendengar bahan bakunya saja mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap ekstrem makanan ini, sebab baunya yang cukup menyengat.

Namun, kawan bisa mencoba dulu kerupuk jengkol ini sebelum benar-benar jatuh cinta dengan penganan jengkol lainnya, karena prosesnya sudah melawati tahap pengukusan dan dicampur dengan tepung tapioka. Makanya bau jengkol dan rasanya yang pahit, tidak kentara terasa di lidah.

Apalagi bila kerupuk ini sudah dibaluti dengan sambal lado khas Minang dan disediakan dengan nasi panas. Wah rasanya akan menggugah selera.

4.Asal Kerupuk Sanjai

Sumber: Wikimedia Commons
info gambar

Terbuat dari singkong putih yang diiris tipis-tipis memanjang. Modifikasi rasanya ada tiga yang terkenal yakni pedas manis karena dilapisi oleh saus gula, acap kali disebut sanjai balado atau pun jika kawan ingin mencoba yang asin biasanya kerupuk sanjai berwarna kuning karena ada bumbu campuran kunyit, bawang putih dan garam sebelum digoreng, serta terakhir rasa tawar murni irisan tipis singkong yang renyah.

Merujuk pada namanya sendiri, Sanjai adalah daerah di Sumatra Barat, tepatnya berada di Kelurahan Manggis Gantiang Sanjai, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan.

Kampung Sanjai ini jaraknya 3 km dari Kota Bukittinggi. Oleh-oleh khas yang kini terkenal dari Jam Gadang ini, diolah sebagian besar oleh Amai-Amai sebutan untuk wanita setengah baya disana.

Industri Rumah tangga (IRT) yang mengembangkan kerupuk ini, usahanya biasanya turun temurun ke generasi berikutnya, yang dalam proses produksinya masih mempertahankan cara-cara tradisional dengan tujuan untuk mempertahankan keaslian dan kualitas yang telah ada selama ini.

Produksi kerupuk sanjai tidak tahu kapan persis mulanya, tetapi yang jelas pionir pertama kerupuk berbahan dasar singkong di Sumatra Barat. Ya, dari Kampung Wisata Sanjai ini.

5.Ikonisnya Kerupuk Uyel

Sumber: commons.wikimedia.org
info gambar

Secara kasatmata, ia berbentuk bulat berjaring atau keriting dan biasanya berwarna putih, sangat identik dengan perayaan hari kemerdekaan Indonesia.

Kawan bisa lihat hampir disetiap gambar 17 Agustusan mulai dari anak muda sampai tua, lomba makan kerupuknya kerap menggunakan kerupuk uyel putih.

Sebab dengan bentuknya itulah maka tali rafia bisa mengikat erat disela-sela makanan renyah ini. Nah, bisa kawan bayangkan bukan? apabila kerupuk yang dipilih berbentuk persegi, tanpa bolongan, tentu panitia 17-an akan kesusahan mengikatkan tali rafianya.

Adapun sebutan untuk kerupuk uyel ini juga banyak ada yang bilang kerupuk kampung, kerupuk Palembang dan lain sebagainya. Selain itu secara bahan dasar kerupuk uyel ini sederhana hanya terbuat dari campuran tepung terigu dan tapioka, bawang putih, garam, bumbu penyedap serta gula pasir.

Sumber: Tempo.co | Buku Menu dan Resep untuk Penderita Asam Urat (2008) oleh Rita Ramayulis, DCN, M.Kes dan Ir. Trina Astuti, MPS. | Kompas.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YG
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini