Bung Tomo, Menggelorakan Semangat Merdeka Berbekal Kartu Pers dan Radio

Bung Tomo, Menggelorakan Semangat Merdeka Berbekal Kartu Pers dan Radio
info gambar utama

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "bung" berarti sapaan akrab kepada seorang laki-laki atau yang lebih tua setara dengan "abang". Kata sapaan ini mulai populer pada masa perang kemerdekaan.

Sifatnya netral, tidak mengenal kelas, orang yang dikenal atau tidak bisa disapa dengan: "Bung!" Meskipun sifatnya tidak membeda-bedakan, ada beberapa nama tokoh nasional dalam sejarah Indonesia yang sering memakai sapaan ini di depan namanya, salah satunya Sutomo.

Bung Tomo, begitulah biasanya ia dipanggil oleh rakyat Indonesia pada masanya. Sapaan itu kian melekat karena ia pandai mengobarkan semangat para pejuang lewat orasi seperti Sukarno yang juga disapa dengan sebutan "Bung."

Perjuangan Bung Tomo tidak bisa lepas dari perang tiga pekan di Surabaya pada 1945. Gelora perlawanan pada episode ini terbilang singkat, dari setelah proklamasi sampai pertempuran Surabaya usai. Meskipun singkat, tetapi sangat berarti. Buktinya, pidato penyemangatnya masih sering diperdengarkan saat Indonesia memeringati Hari Pahlawan.

Kawan GNFI pastinya tahu, sejumlah tokoh nasional punya cara khusus saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bung Tomo pun begitu, ia punya spesialisasinya sendiri ketika berjuang. Kemampuan orasinya menjadi ujung tombak, juga kemampuannya dalam menulis artikel berita. Maklumlah, Bung Tomo adalah wartawan, hak istimewanya dalam profesi tersebut pun menjadi andalan ketika perang kemerdekaan di Surabaya.

Keturunan Pendamping Pangeran Diponegoro

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya pada 3 Oktober 1920. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang.

Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat, suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Sutomo kecil dengan keterbatasan ekonomi keluarganya masih senang belajar. Ada suatu masa ia harus belajar di pinggir jalan memanfaatkan cahaya lampu jalanan. ''Kebetulan di rumahnya ada tiang listrik yang dilengkapi lampu penerangan jalan,'' terang Sulistina, sang istri yang mendapatkan kisah masa kecil itu langsung dari suaminya.

Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, tetapi tidak pernah resmi lulus. Setelah putus sekolah Sutomo mengisi hari-harinya membantu perekonomian keluarga. Menjadi ball boy lapangan tenis orang Belanda sampai jasa antar-jemput cucian tetangga.

Pada 1947, Sutomo alias Bung Tomo mengungkapkan Indonesia terus menekan Belanda meskipun situasi Surabaya pada saat itu kekurangan makanan.
info gambar

Sutomo yang masih bau kencur terpesona dengan Sukarno. Bersama kakeknya dari pihak ayah, Notosudarmo, Sutomo diajak ke rapat umum di Surabaya tempat Sukarno berpidato. Pidato-pidato Sukarno menyentuh hatinya yang saat itu masih buta soal politik. ''Saya, kemudian ikut bertepuk tangan, walaupun sebagian ucapan Bung Karno itu tidak saya mengerti,'' kenang Bung Tomo dalam buku Menembus Kabut Gelap, Bung Tomo Menggugat.

Peristiwa terpenting bagi kehidupan si kecil Sutomo ketika ia bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI, kelak digabungkan dengan organisasi kepanduan lain dan menjadi Pramuka). Notosudarmo kembali berperan, karena ialah yang mendorong Sutomo mengikuti KBI. Filsafat kepanduan ditambah kesadaran nasionalisme diperolehnya dari kelompok ini. KBI merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formal Sutomo muda.

Pada usia 16 tahun (beberapa sumber menyebutkan 17 tahun), ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Pandu Garuda adalah sebutan bagi kepanduan yang telah menyelesaikan tingkat kecakapan tertinggi pada golongannya. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Kartu Pers, Tiket Masuk Arsenal Jepang

Bung Tomo berprofesi sebagai wartawan pada akhir tahun 1930-an. Pada 1938, ia menjadi redaktur mingguan Pembela Rakjat. Setahun berikutnya, tulisannya juga menghiasi majalah Poestaka Timur. Sebelum menjadi wartawan muda, ia sudah rajin mengirim tulisan ke Soeara Oemoem di Surabaya. Di harian Ekspres juga terdapat kolom khusus yang dituliskan olehnya. Sebagian tulisan Bung Tomo yang terbit di muka umum ini berisikan propaganda untuk melawan kolonialisme Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bergabung dengan kantor berita Domei di Surabaya. Tugasnya kala itu memasok berita ke kantor perwakilan Domei di seluruh Indonesia. Berita disebarkan lewat pesan kawat oleh penyampai pesan yang saat itu disebut markonis.

Gaji di Domei lumayan, tetapi kebebasan Bung Tomo dikekang. Sangat dilarang bagi Domei memberitakan kekalahan-kekalahan militer Jepang. Hal itu tak jadi soal bagi Bung Tomo, karena yang terpenting ia mendapatkan akses dan suplai informasi penting bagi kaum pergerakan.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Pasifik dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Domei Surabaya pun bubar. Bung Tomo bersama wartawan lain kemudian mendirikan Kantor Berita Indonesia di depan Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit).

Panti Asuhan Don Bosco di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang menjadi gudang persenjataan.
info gambar

Domei sudah bubar, tetapi kartu persnya masih di tangan Bung Tomo. Kartu pers inilah yang menjadi andalan dirinya ketika melakukan perebutan gudang persenjataan (arsenal) Jepang.

Letak gudang persenjataan Jepang berada di Panti Asuhan Don Bosco. Bangunan yang berdiri di dalam kompleks seluas 4,5 hektare tersebut sudah berdiri sejak 1937.

Sebulan setelah kemerdekaan atau pada 16 September 1945, arek-arek Suroboyo bergegas ke Don Bosco. Tujuannya apalagi kalau bukan merebut persenjataan milik Jepang. Mereka terbilang nekat. Masalahnya para arek-arek ini hanya bermodalkan senjata tradisional seperti bambu runcing, pedang, dan celurit.

Suasana di Don Bosco tegang. Sekitar seribu pemuda dan rakyat Surabaya termasuk Bung Tomo ikut menyerbu. Tentara Jepang sendiri sudah siaga di depan bangunan, di atas pohon, bahkan di bawah truk.

Namun, seorang kakek tua memberi amanat pada kemlopok pemuda Surabaya itu untuk menyerahkan tugas perundingan kepada Bung Tomo. ''Kakek ini minta rakyat Surabaya percaya pada saya,'' tulis Bung Tomo dikutip dari buku Dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru.

Bermodalkan kartu pers Domei dan sedikit-sedikit bisa berbahasa Jepang, Bung Tomo pun diizinkan masuk ke Don Bosco untuk menghadap Mayor Hashimoto. Perundingan berlangsung alot. Hashimoto emoh menyerahkan pedang samurainya. Namun, ia akhirnya luluh juga menyerahkan pusaka keluarganya itu pada rakyat Surabaya.

Penyerahan gudang persenjataan itu lalu ditandatangani Hashimoto dan perwakilan rakyat Surabaya, Jasin, di mana Bung Tomo menjadi saksi penyerahan tersebut. Saking banyaknya senjata api di gudang Don Bosco, sebanyak empat gerbong kereta api dikirimkan Bung Tomo ke pejuang Indonesia di Jakarta.

Pekik Semangat untuk Pejuang via Radio Pemberontakan

Bung Tomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan semangat kemerdekaan. Orasinya lewat corong radio mampu membakar semangat para pejuang muda di Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Dari bilik radio yang terletak dari sebuah rumah di Jalan Mawar, Surabaya, Bung Tomo menyuarakan pidatonya. Bung Tomo menamainya Radio Pemberontakan. Dinamakan demikian karena radio tersebut penuh semangat pemberontakan. Orang-orang yang tidak mempunyai radio biasanya akan keluar rumah, mengerubungi tiang pengeras suara yang tersebar di Surabaya demi mendengar pidato penyemangat Bung Tomo.

Radio Pemberontakan disiarkan pertama kalinya pada 13 Oktober 1945. Bung Tomo grogi, maklum ini pertama kalinya suaranya menggema untuk publik. Namun berbekal pengalaman melihat pidato Sukarno, Bung Tomo sanggup menyerukan orasinya.

Bung Tomo berpidato di depan rakyat Jawa Timur, 1950an.
info gambar

Pidato Bung Tomo dari Radio Pemberontakan terus bersuara tiap sore sampai batas kota Surabaya karena dipasangkan pemancar oleh teknisi Antara, Hasan Basri. Daya pancarnya kemudian berlipat ganda setelah Hasan memasangkan pemancar besar bekas Angkatan Laut Jepang.

Radio Pemberontakan kian menggebrak setelah wanita Amerika Serikat berdarah Skotlandia, K'tut Tantri, menyiarkan pidato versi bahasa Inggris. Saat Sekutu menggempur Surabaya dengan bom pada 10-12 November 1945, K'tut memilih bertahan di Radio Pemberontakan. Berbeda dengan K'tut, Bung Tomo menyiarkan pidatonya dari kota Malang karena Surabaya sudah berbahaya baginya. ''Tentara Sekutu menjanjikan hadiah besar bagi bagi mereka yang berhasil menangkapnya,'' terang K'tut.

Mengutip dari Bung Tomo: Soerabaja di Tahun 1945, sejarawan Rushdy Hoesein berujar. ''Mungkin dia satu-satunya orang yang saat itu menyadari pentingnya radio bagi perjuangan.'' Kemampuan Bung Tomo dinilai bagus ketika berpidato, baik dalam struktur dan tata bahasanya. Kemampuan itu tentunya ia dapat ketika menjabat sebagai wartawan Domei.

Setelah Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo sempat terjun di dunia politik pada tahun 1950-an. Hanya saja ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Sukarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Bung Tomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.

Bung Tomo turut menghadiri Sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Malang pada Maret 1947.
info gambar

Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 pada era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Bung Tomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.

Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, tetapi ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Infografik Bung Tomo
info gambar

Bung Tomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, tetapi tidak menganggap dirinya sebagai seorang muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981, ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji.

Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ibadah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya sesuai dengan permintaannya ketika masih hidup.

Makam Bung Tomo.
info gambar

''Aku terharu sekali. Tukang becak, tukang sayur, penjual bakso bahkan sampai anak-anak sekolah ikut bersama pejabat tinggi mengantar Bung Tomo,'' kata Sulistina yang ikut mendampingi dalam ibadah haji hingga mengantar jenazah suaminya ke tempat pemakaman.

Karena menilai perannya dalam revolusi fisik sangatlah besar, pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo pada 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh, pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.

---

Referensi: Sutomo (Bung Tomo), "Pertempuran 10 November 1945" | Sutomo (Bung Tomo), "Menembus Kabut Gelap, Bung Tomo Menggugat: Pemikiran, Surat, dan Artikel Politik, 1955-1980" | Sarjono M., "Kisah Bung Tomo" | Sulistina Sutomo, "Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawanmu" | TEMPO Publishing, "Bung Tomo: Soerabaja di Tahun 1945"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini