Sejarah Hari Ini (4 Oktober 2000) - Kelahiran Provinsi Banten

Sejarah Hari Ini (4 Oktober 2000) - Kelahiran Provinsi Banten
info gambar utama

Provinsi Banten dibentuk berdasarkan UU No. 23 Tahun 2000 tertanggal 17 Oktober tahun 2000.

Adapun puncak perayaan terjadi pada tanggal 4 Oktober 2000 saat puluhan ribu masyarakat Banten datang ke Gedung DPR RI di Senayan Jakarta, dengan Sidang Paripurna DPR untuk pengesahan RUU Provinsi Banten.

Akhirnya, masyarakat Banten pun sepakat tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Provinsi Banten yang saat itu dipimpin oleh Bapak H.D. Munandar sebagai Gubernur dan Ibu H. Ratu Atut Chosiyah, SE sebagai wakil Gubernur.

Kala itu masyarakat Banten yang memenuhi pelataran gedung DPR-MPR RI tumpah ruah saling bersalaman, berangkulan sambil mengucapkan selamat.

Teriakan "Allahu Akbar" terdengar kencang, pekikan "Hidup Banten" saling bersahutan satu sama lain.

Banten sendiri terbagi atas 4 kabupaten dan 4 kota, yaitu: Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Serang, Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kota Cilegon, dengan luas 9.160,70 Km2.

Letak geografis Provinsi Banten pada batas Astronomi 105º1’11² – 106º7’12² BT dan 5º7’50² – 7º1’1² LS, dengan jumlah penduduk sebesar 12.927.316 pada 2019.

Letaknya berada di Ujung Barat Pulau Jawa sehingga memposisikan Banten sebagai pintu gerbang Pulau Jawa dari arah Sumatra.

Posisi geostrategis tentunya menyebabkan Banten sebagai penghubung utama jalur perdagangan Sumatera – Jawa bahkan sebagai bagian dari sirkulasi perdagangan Asia dan Internasional serta sebagai lokasi aglomerasi perekonomian dan permukiman yang potensial.

Batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah Barat dengan Selat Sunda, serta di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, sehingga wilayah ini mempunyai sumber daya laut yang potensial.

Pada saat itu, ide menjadikan Banten sebagai sebuah provinsi berdasarkan pertimbangan berikut:

  • Pertama, karena terdorong dengan Limaliha (harta/kekayaan alam), yakni potensi alam yang melimpah baik hasil pertanian, perikanan laut/darat, perkebunan, tambang emas, maupun industri yang mampu menyumbangkan devisa negara cukup besar
  • Kedua, karena terdorong dengan Walihasabiha (keturunan), yakni tokoh-tokoh Banten dari keluarga Kesultanan, ulama/kiai, tubagus, mas atau entol dan lainnya. Banyak dari mereka yang menjadi tokoh-tokoh nasional yang mengabdi lembaga-lembaga pemerintah di pusat hingga daerah, termasuk para pejuang kemerdekaan RI pada masa lalu yang mempunyai andil cukup besar dalam kemerdekaan
  • Ketiga, Walijamiha (kecantikan/daya tarik daerah, yakni letak geografis daerah Banten yang berada di lintas Pulau Jawa dan Sumatra sebagai "pintu gerbang" ibu kota negara RI, DKI Jakarta
  • Keempat, Walidiniha (ketaatan agamanya), yaitu faktor penentu untuk dapat menguji berhasil atau tidaknya cita-cita menuju Provinsi Banten guna menyejahterakan masyarakat. Ini tergantung pada tekad para pejabatnya dalam mengemban amanat

---

Referensi: Detik.com | Penghubung.Bantenprov.go.id | Juliadi, Soni Prasetia Wibawa, Bayu Ariyanto, Pahlawan Putra Satria Negara, Mimi Lumbiyantari, "Ragam Pusakan Budaya Banten"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini