Terbersih di Dunia, Inilah 4 Rahasia Kebersihan Desa Penglipuran Bali

Terbersih di Dunia, Inilah 4 Rahasia Kebersihan Desa Penglipuran Bali
info gambar utama

Bali memang menyimpan banyak sekali keindahan. Penghargaan sebagai destinasi terbaik dari aplikasi internasional TripAdvisor sudah sepantasnya dipegang oleh Pulau Dewata. Provinsi yang penduduknya mayoritas beragama Hindu ini selalu menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, sehingga peluang pendapatan dari wilayah ini begitu besar dan menjanjikan.

Besarnya animo wisatawan ke Pulau Bali, tak membuat penduduknya terlena akan godaan budaya asing yang perlahan-lahan dapat menghilangkan budaya dan tradisi asli mereka. Akibat keinginan kuat inilah banyak desa-desa tradisional di Bali masih tetap bertahan, dan malah menyabet berbagai penghargaan nasional maupun internasional.

Salah satunya adalah Desa Penglipuran, salah satu desa adat di Kabupaten Bangli, Provinsi, Bali. Desa ini berada di ketinggian 600 meter diatas permukaan laut, 45 kilometer dari Kota Denpasar.

esa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali | Foto: blackpackerz.wordpress.com
info gambar

Ketika memasuki desa ini, udara segar langsung bisa Kawan rasakan karena Desa Penglipuran memiliki temperatur yang relatif sejuk dan dingin, yaitu sekitar 16-29°C. Selanjutnya, Kawan biasanya langsung disuguhi loloh cemcem, jamu khas Desa Penglipuran yang memiliki rasa unik.

Desa ini terkenal amat bersih. Tak ada sampah berserakan, tak ada limbah rumah tangga berceceran, serta tak ada puntung rokok yang biasanya ada di mana-mana. Desa ini pernah dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia, serta berbagai penghargaan lainnya yang tentunya amat membanggakan Indonesia.

Tentu terkadang Kawan bertanya-tanya, apa yang menyebabkan keadaan di Desa Penglipuran bisa sebaik itu, sehingga mendapat banyak penghargaan dan telah diakui dunia. Berikut ulasan yang telah dirangkum untuk Kawan!

Ajaran Tri Hita Karana

Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali | Foto: kbatur.com
info gambar

Masyarakat Desa Penglipuran memiliki landasan operasional dalam kehidupan yang bernama Tri Hita Karana. Landasan ini mengatur tiga hubungan manusia dengan kehidupannya di dunia, antara lain hubungan manusia dengan Tuhan (prahyangan), hubungan manusia dengan manusia lainnya (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam lingkungannya (palemahan).

Melalui ajaran palemahan inilah, masyarakat Desa Penglipuran berkomitmen untuk menjaga keseimbangan ekosistem di lingkungan mereka. Menurut ajaran ini, manusia sebaiknya berusaha mempertahankan harmoni kepada alam agar terjaga keasriannya. Umat Hindu mempercayai ajaran bahwa jika manusia memberikan pelayanan baik kepada alam, maka alampun akan membalas dengan memberikan pelayanan terbaiknya kepada manusia.

Menurut Managing Director Desa Penglipuran Bali, I Nengah Moneng, contoh penerapan Tri Hita Karana di Desa Penglipuran adalah pengaturan tata ruang desa, serta komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan.

"Sebagai salah satu bukti kami melestarikan lingkungan. Pertama kami punya hutan bambu 45 hektar. Tanahnya tidak boleh diperjualbelikan. Tidak boleh pengalihfungsian jadi tempat lain, boleh jadi tempat wisata tapi jangan merusak," papar I Nengah Moneng mengutip Kompas.

Komitmen kuat masyarakat dalam menjaga lingkungan

Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali | Foto: Dicky Bisinglasi/Cultura
info gambar

40% dari wilayah Desa Penglipuran adalah hutan bambu. Penduduk setempat dilarang keras menebang pohon bambu disana tanpa seijin tokoh masyarakat setempat. Hal ini terjadi karena mereka menganggap tanaman bambu sebagai simbol permulaan mereka, karena mereka meyakini bahwa bambu-bambu disana ditanam oleh pendahulu mereka.

Sebagian besar bangunan di desa ini seperti Pawon (dapur), Bale Sakenem (tempat upacara keluarga), dan Bale Banjar (bangunan bersama) juga terbuat dari bambu sehingga sangat ramah lingkungan.

Tata ruang Desa Penglipuran sangatlah rapi, teratur, dan berorientasi lingkungan. Warga Desa Penglipuran juga berkomitmen untuk selalu menjaga tata ruang wilayah mereka agar tetap bertahan sampai seterusnya.

Penerapan Awig-Awig, aturan adat Desa Penglipuran

Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali | Foto: cchurchphotography/Instagram
info gambar

Mengutip Tempo, penduduk Desa Penglipuran memiliki aturan adat setempat berupa tradisi lisan leluhur yang dinamakan awig-awig. Aturan adat tersebut mengatur banyak hal mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.

Pada awig-awig tersebut, tertulis beberapa aturan diantaranya larangan membuang limbah cairan rumah tangga lewat selokan depan rumah, serta larangan membuang sampah ke jalan utama desa. Semua limbah tersebut harus masuk ke septic tank yang berlokasi di belakang rumah mereka, sehingga saluran air depan rumah hanya dilalui oleh air hujan.

Kendaraan bermotor juga dilarang melintasi jalanan di Desa Penglipuran. Penduduk setempat maupun wisatawan juga dilarang keras untuk merokok di sebagian besar tempat.

Pemberian sanksi yang tegas

Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali | Foto: penglipuran.net
info gambar

Peraturan bernama awig-awig tadi juga memiliki konsekuensi yang cukup tegas. Apabila penduduk melanggar, mereka mendapatkan sanksi berupa pelaksanaan askara danda (bayar denda) berupa memberi sesaji ke tiga pura dan persimpangan jalan, berupa lima ekor ayam dengan warna bulu yang berbeda. Sampai saat ini belum ada penduduk yang melanggar dan memperoleh sanksi tersebut.

Rencananya, sanksi juga akan diberikan kepada wisatawan yang melanggar. "Untuk pengunjung yang melakukan pembuangan sampah sembarang masih kita bentuk dalam peringatan-peringatan, kalau denda sih belum," kata I Nengah Moneng mengutip Detik.

Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali | Foto: pwellesley/Instagram
info gambar

Desa Penglipuran mendapatkan respon baik dari berbagai pihak. Berbagai titel telah disematkan kepada desa adat ini. Pada 1995, Pemerintah RI memberikan penghargaan Kalpataru karena sukses menjaga hutan bambu ditempat mereka.

Desa adat ini juga meraih penghargaan ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) tahun 2017 pada kategori pelestarian budaya. Selain itu, Desa Penglipuran juga termasuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Puncaknya, Desa Penglipuran dinobatkan sebagai salah satu dari tiga desa terbersih di dunia versi majalah Amerika Serikat, Boombastic Magazine. Saat itu Desa Penglipuran mendapat penghargaan bersama dengan Desa Giethoorn Belanda dan Desa Mawlinnong India.

Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali | Foto: muthebogara.blog
info gambar

Itulah beberapa alasan yang membuat Desa Adat Penglipuran Bali sukses meraih banyak penghargaan mengenai kebersihan dan perhatian mereka tentang alam lingkungan sekitar mereka. Setelah pandemi semakin baik, apakah Kawan tertarik untuk berkunjung ke sana?

Sumber: Univeristas Diponegoro | Disparbud Bangli | Tagar | Cultura | Kompas | Tempo | Hipwee | Detik | Intisari

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini