Sejarah Hari Ini (7 Oktober 1945) - Serbuan Kotabaru

Sejarah Hari Ini (7 Oktober 1945) - Serbuan Kotabaru
info gambar utama

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, badan-badan perjuangan terbentuk di berbagai daerah demi melawan tentara Jepang maupun Sekutu.

Salah satu bentrokan dengan tentara Jepang terjadi di Kotabaru, Yogyakarta, pada 7 Oktober 1945.

Dua hari sebelumnya, para pejuang merebut gedung Cokan Kantai dan dijadikan sebagai Kantor Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah.

Gedung Cokan Kantai ini kemudian dikenal dengan Gedung Nasional atau Gedung Agung.

Sehari setelahnya, rapat perebutan senjata dan markas Osha Butai di Kotabaru dilakukan.

Perundingan dengan Butaico (Angkatan Pertahanan Jepang) Mayor Otsuka, Kenpeitai (Polisi Militer) Sasaki, Kapten Ito dan Kiambuco lantas dilakukan Mohammad Saleh (KNI), R.P. Sudarsono dan Bardosono atas nama Badan Keamanan Rakyat (BKR) di markas Osha Butai, tujuannya agar Jepang menyerahkan senjata dan kekuasaannya dengan sukarela.

Namun perundingan berjalan buntu. Dentuman granat yang terdengar pukul 20.00 WIB pada 6 Oktober, memberi tanda bahwa perundingan akhirnya gagal.

Rakyat dan para pemuda terus mengepung markas Osha Butai di Kotabaru.

Bahkan di kampung-kampung, malam itu dilakukan persiapan pengerahan massa pemuda dengan suara siap-siap secara estafet.

Dalam waktu singkat telah berkumpul banyak pemuda dan terus bergerak menuju Kotabaru.

Rakyat dan para pemuda terdiri dari berbagai kesatuan, antara lain TKR, Polisi Istimewa, dan BPU (Barisan Penjagaan Umum) sudah bertekad untuk menyerbu markas Jepang di Kotabaru.

Rakyat dan Pemuda dengan senjata seperti parang dan bambu runcing sudah siap, tinggal menunggu komando.

Sebagai bagian dari strategi penyerbuan para pemuda telah memutuskan sambungan telepon, kemudian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, maka sekitar pukul 03.00 WIB tanggal 7 Oktober 1945, terdengar lagi dentuman granat, menandakan aliran listrik pagar berduri yang mengelilingi markas Jepang sudah dipadamkan.

Para pemuda segera menyerbu markas itu dan dimulailah pertempuran di Kotabaru.

Dengan demikian, terjadilah pertempuran antara rakyat, pemuda dan kesatuan di Yogyakarta melawan tentara Jepang.

Ternyata Butaico Kotabaru menolak untuk menyerah. Akibat serangan para pejuang Indonesia semakin ditingkatkan.

Jepang mulai kewalahan kemudian mengadakan kontak kepada pihak para pejuang Indonesia untuk berdamai. Para pejuang Indonesia boleh memasuki markas.

Setelah pintu itu dibuka, maka para pemuda pejuang memasuki pintu, ternyata di tempat itu telah disambut tembakan gencar senapan mesin yang sudah disiapkan Jepang dengan demikian banyak pejuang gugur.

Melihat pemandangan itu para pejuang Yogyakarta mengamuk.

Sumber:
info gambar

Beribu-ribu massa menyerbu markas. Akhirnya pihak Jepang benar-benar terdesak dan berkibarlah bendera merah putih.

Pasukan Jepang satu per satu mulai menyerah. Senjata demi senjata beralih ke tangan pejuang Indonesia. Gudang senjata juga disebut oleh para pemuda, sehingga banyak mendapat senjata.

Pada saat itu beberapa pemuda telah berhasil memasuki markas Kotabaru melalui selokan saluran air (riol) dan langsung berhadapan dengan Otsuka. Ternyata Otsuka mau menyerah, asalkan dihadapkan pada Yogya Koo (Kepala Daerah) Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1945 sekitar pukul 10.00 markas Jepeng di Kotabaru secara resmi menyerah. Bendera merah putih berkibar di Kotabaru dan beratus-ratus tentara Jepang ditahan serta senjatanya dilucuti.

Setelah Markas Kotabaru jatuh, usaha perebutan kekuasaan meluas R.P. Sudarsono kemudian memimpin perlucutan senjata Kaigun di Maguwo.

Monumen Serbuan Kotabaru
info gambar

Semua senjata, 15 truk serta beratus-ratus peti granat tangan dapat dirampas dari tangan Jepang. Dengan berakhirnya pertempuran Kotabaru dan dikuasainya Maguwo, maka Yogyakarta berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia.

Demi mengingat peristiwa tersebut sebuah monumen diresmikan di Kotabaru oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 7 Oktober 1988.

Monumen tersebut terletak di kompleks Asrama Korem 040 Pamungkas, Jalan Wardhani Kotabaru Yogyakarta.

''Tetenger ini didirikan untuk memperingati puncak pengambilalihan kekuasaan dari pihak Jepang di Yogyakarta dengan serbuan bersenjata dan pertumpahan darah yang dikenal sebagai Pertempuran Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945,'' terang yang tercantum dalam prasasti pada Monumen Serbuan Kotabaru itu.

---

Referensi: Kotabarukel.Jogjakota.go.id | Kebudayaan.Jogjakota.go.id

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini