Indonesia Juarai Penghargaan Spirit of Shell Eco-Marathon 2020 untuk Kawasan Asia

Indonesia Juarai Penghargaan Spirit of Shell Eco-Marathon 2020 untuk Kawasan Asia
info gambar utama

Kawan GNFI, Royal Dutch Shell kembali melangsungkan kompetisi global Spirit of Shell Eco-marathon (SEM) yang diadakan dalam format baru (virtual) di tengah pandemi ini. Ajang ini berlangsung dari bulan Agustus hingga akhir September 2020 yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara di benua Asia, Amerika, dan Eropa.

Secara umum, Spirit of Shell Eco-marathon merupakan sebuah penghargaan khusus yang dianugerahkan Royal Dutch Shell kepada tim-tim mahasiswa yang selama masa pandemi ini telah menunjukkan ketekunan, kepedulian, empati, serta inovasi.

Semangat dan minat yang besar terhadap STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) ditunjukkan oleh tim-tim mahasiswa peserta Shell Eco-marathon dengan wujud karya dan kontribusi mereka terhadap lingkungan sekitarnya.

Sementara Shell Eco-marathon adalah kompetisi global tahunan bagi para pelajar dan mahasiswa yang menguji gagasan inovatif mereka untuk menjawab isu-isu efisiensi energi hari ini dan masa depan.

Tetap membangun semangat di masa sulit

Lain itu, hal yang tak kalah penting dari ajang ini adalah membangun semangat di situasi yang serba tak mudah ini, soal bagaimana anak-anak muda ini ditantang untuk tetap berkarya dan berinovasi.

Seperti diutarakan oleh Norman Koch, Global General Manager Shell Eco-marathon, dalam unggahan video di akun @shell_ecomarathon. Dalam kata pembukanya ia menyebutkan bahwa pandemi global telah menghentikan kesempatan bagi tim-tim mahasiswa untuk berkompetisi di trek balap dan mengadu kemampuan berinovasi mencapai efisiensi energi, namun itu tak menghentikan mereka untuk tetap berbuat baik bagi sesama.

Pendek kata, Shell Eco-marathon mengajak tim-tim mahasiswa untuk tetap mengobarkan semangat berkarya dan berinovasi meski dalam kondisi atau situasi sulit sekalipun.

Memang, situasi saat ini belum memungkinkan untuk menguji hasil karya dan inovasi tim dalam sebuah trek--yang lazim dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, namun mereka tetap harus bisa menggambarkan semangat inovasi dan ketekunan yang merupakan bagian dari tantangan yang dihadapi pada lingkungan di sekitarnya, serta tetap peduli terhadap sesama.

Karenanya, ada beberapa aspek yang menjadi kriteria penilaian Spirit of Shell Eco-marathon di tahun ini yang meliputi empat elemen, yakni empati, kepedulian, inovasi, dan ketekunan.

Pihak Shell juga melakukan adaptasi dengan situasi pandemi, yakni kompetisi yang mengadopsi format acara secara virtual. Para peserta dapat berpartisipasi dengan mengirimkan konten video berdurasi maksimal lima menit yang menampilkan karya inovasi mereka, serta menjelaskan gagasan serta proses pengembangan inovasi yang dilakukan secara efisien, fungsional, dan mengutamakan aspek keamanan.

Tim Indonesia langganan juara

Boleh dibilang, anak-anak muda Indonesia memang kerap meraih juara di ajang ini, dan tongkat estafet itu terus dijaga hingga kini. Sebut saja juara dari ragam kategori yang diraih tim Indonesia pada kurun satu dasawarsa terakhir (2010-2019), tak terkecuali di tahun ini (2020).

Adalah Tim Apatte62 dari Universitas Brawijaya, Malang, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan menjuarai kompetisi Spirit of Shell Eco-marathonVirtual Off-Track Award 2020 untuk wilayah Asia, yang diikuti oleh Brunei Darussalam, Tiongkok, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Tim-tim mahasiswa dari berbagai negara tersebut berkompetisi memperebutkan penghargaan ini. Video-video yang mereka kirimkan diseleksi oleh panel juri yang terdiri dari eksekutif Royal Dutch Shell, tim Komunikasi, tim Teknis dan tim Keselamatan hingga akhirnya terpilih 3 tim dengan perolehan nilai tertinggi di masing-masing kawasan, yaitu Asia, Amerika dan Eropa.

Satu hal yang sangat membanggakan adalah 3 tim yang terpilih mewakili Asia merupakan tim-tim dari Indonesia. Apatte62 dari Universitas Brawijaya, Semeru dari Universitas Negeri Malang, dan ITS Team Sapuangin dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Ketiganya mengusung inovasi yang solutif dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, baik lingkungan kampus dan kota tempat mereka menuntut ilmu khususnya di masa pandemi Covid-19 ini.

Rhea Sianipar, VP External Relations, Shell Indonesia, menyatakan kebanggaannya atas prestasi semua tim dari Indonesia yang berhasil masuk ke tahapan final dari kompetisi Spirit of SEM.

''Kemenangan Tim Apatte62 yang akhirnya keluar menjadi juara merupakan suatu bukti bahwa generasi muda Indonesia tak pernah berhenti berkarya dan berprestasi. Bahkan di situasi pandemi seperti saat inipun, anak-anak muda Indonesia mampu mencetak prestasi dunia yang mengharumkan nama Indonesia.'' ujarnya.

Rhea juga menyebut bahwa tim Apatte62 mampu memukau para juri dalam empat aspek penting yang menjadi kriteria, yakni ketekunan, kepedulian, empati, dan inovasi, yang mereka tunjukkan dalam kompetisi.

Tim yang mengesankan para juri

Secara garis besar, kemampuan kreativitas tim Apatte62 dalam mengampu dan menerapkan sains, teknologi, teknik, dan matematika, untuk merespon pandemi covid-19 memberikan kesan tersendiri bagi para juri.

Apatte62 adalah sebuah tim yang dinilai para juri berhasil menunjukkan bagaimana kolaborasi dapat menghasilkan sebuah karya yang luar biasa, seperti yang disampaikan pimpinan eksekutif Shell yang mewakili penjurian untuk wilayah Asia.

Tim Apatte26 yang beranggotakan 12 orang, terdiri atas:

  • Muhammad Alfian Ambong,
  • Rayhan Nabil,
  • Aulia Rahma Dieny,
  • Rafif,
  • Ezrha Pragiwaka,
  • Devin Anindya Satyatama,
  • Muhammad Reza Baramardhika,
  • Calvin Fajar,
  • Dwiagni Putra,
  • Miftah Solahuddin,
  • Fahri Fauzan, dan
  • Dr. Eng. Ir. Denny Widhiyanuriyawan, ST., MT sebagai dosen pembimbing.

''Terima kasih kepada Shell Eco-marathon yang telah memberikan penghargaan Spirit of Shell Eco-marathon. Kami sangat bangga atas penghargaan ini, dan ingin terus bisa berkontribusi kepada masyarakat dengan prestasi-prestasi kami lainnya,'' ucap Manajer Tim Apatte62, Muhammad Alfian Ambong.

Dalam kompetisi virtual ini, video karya tim Apatte62 berhasil menceritakan kisah perjalanan mereka dalam mengembangkan robot desinfeksi berteknologi sinar UV untuk sterilisasi ruangan demi berkontribusi pada pencegahan penyebaran virus penyebab Covid-19.

Teknologi mereka tersebut dinilai sukses dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan yang menawarkan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan pandemi di seluruh dunia. Terlebih lagi, tim Apatte62 terus menyempurnakan teknologi robot tersebut demi mewujudkan aspirasi mereka untuk memproduksi karya tersebut secara massal agar manfaatnya dapat dirasakan di seluruh nusantara.

Sementara itu, Semeru dan ITS Team Sapuangin juga mengusung inovasi mereka yang juga sangat solutif. Semeru menciptakan MOLIS, sebuah mobil listrik yang digunakan sebagai sarana transportasi bagi tamu-tamu di lingkungan kampus. Mereka juga memproduksi face shield menggunakan printer 3D dan didistribusikan kepada tenaga kesehatan di Malang.

ITS Team Sapuangin menciptakan beberapa karya inovasi, diantaranya bus kota yang didesain dengan kemampuan sirkulasi udara yang baik untuk mencegah penyebaran virus dan ventilator rendah biaya untuk mendukung ketersediaan ventilator di rumah sakit-rumah sakit di Surabaya.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini