Berbagi Kabar Baik Untuk Negeri dengan Berbagi Kisah Melancong #DiIndonesiaAja

Berbagi Kabar Baik Untuk Negeri dengan Berbagi Kisah Melancong #DiIndonesiaAja
info gambar utama

Kawan GNFI sudah berapa lama tidak liburan? Sejak pandemi di pada bulan Maret, rasanya keinginan untuk bebas terkungkung dari rumah semakin ke sini semakin menggebu-gebu, ya. Jika kondisi sudah kondusif nanti, sudah aman, tempat wisata mana yang ingin Kawan GNFI kunjungi?

Jepang? Korea? Turki? Atau bahkan negara-negara Eropa?

Kalau negara-negara itu masuk dalam daftar tempat wajib dikunjungi setelah pandemi, pertanyaanku sekarang, kenapa tidak #DiIndonesiaAja? Dari pada menunggu lama ke luar negeri karena akses para pelancong antar negara masih sangat dibatasi, negeri ini sebenarnya menyuguhkan tempat-tempat wisata yang pilihannya sangat banyak.

‘’Berwisata di negeri sendiri itu menyenangkan karena pilihan Indonesia itu palugada, ‘apa lo mau, gue ada’. Mau pilihan nature, culture, sampai tempat wisata buatan, itu semua ada pilihannya. Indonesia memberikan banyak pilihan aktivitas,’’ begitu kata Diah Paham, Direktur Komunikasi Pemasaran, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Barekraf) saat acara webinar Kemenparekraf x Good News From Indonesia (GNFI) bertajuk Good News is Good News pada Rabu (7/10/2020).

Kekayaan Indonesia
info gambar

Rasanya memang betul. Konon, untuk bisa mengelilingi Indonesia dari pulau satu ke pulau lainnya, butuh waktu hingga 37 tahun. Itupun kita hanya punya waktu satu hari untuk menikmati satu pulau. Padahal satu pulau di Indonesia menyimpan ratusan atau bahkan ribuan keindahan. Baik dari keindahan alamnya, juga etnis budayanya.

‘’Di Sumatera itu ada 54 bahasa. Analoginya, kalau kita jalan dua jam naik mobil, kita sudah ketemu etnis dengan bahasa yang beda. Jalan dua jam lagi, kita bertemu dengan bahasa yang beda lagi,’’ papar Akhyari Hananto, Founder GNFI pada acara yang sama.

‘’Saya tinggal di Surabaya, jalan ke arah timur 35 menit, nyebrang Madura, ketemu Bangkalan. Tapi apa bedanya antara Surabaya dan Bangkalan? Banyak! Beda banget! Bahasanya beda, konsumnya beda, sambelnya beda, dawetnya beda, kuahnya beda, tarian-tariannya beda, gamelan-gamelannya beda. Ini nggak ada di tempat lain selain di Indonesia,’’ analogi lain disampaikan Akhyari lagi.

Jadi, rasanya satu hari saja tidak cukup jika kita memang ditugaskan untuk mengenal seluk beluk dan rahasia keindahan dari setiap pulau, atau bahkan setiap distrik yang ada di Indonesia.

Desember 2020 sebentar lagi. Seharusnya di tengah libur anak-anak sekolah, semester kuliah berakhir, cuti bersama akhir tahun, merupakan momen yang pas untuk berlibur. Pandemi ini memang belum berakhir, tapi Kawan GNFI sebenarnya masih bisa untuk tetap merasakan nikmatnya liburan denga #DiIndonesiaAja. Tentu saja dengan mematuhi segala protokol kesehatan.

Tentu saja pemerintah, dalam hal ini Kemenparekraf/Barekraf tidak tinggal diam. Kawan GNFI sudah tahu protokol kesehatan berbasis CHSE?

CHSE sendiri singkatan dari Cleanliness, Health, and Environmental Sustainability yang diterapkan di destinasi-destinasi pariwisata Indonesia. Kabarnya, Labuan Bajo menjadi tempat percontohan prioritas yang akan menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE ini.

Bali, tentu saja juga jadi tempat percontohan prioritas. Siapa, sih, yang tidak ingin ke Bali? Di tahun 2020 saja, di tengah pandemi yang membuat orang tidak bisa bepergian, Bali dengan Ubud-nya dinobatkan sebagai The Best Cities in the World to Visit dalam daftar World’s Best 2020 yang dirilis oleh Travel+Leisure, salah satu media publikasi wisata dunia dari Amerika Serikat.

Satu lagi penobatan membanggakan dari Tourlane, salah satu agen wisata internasional, menyebutkan bahwa ‘’Bali is World’s Most Instragammed Island’’. Sedikitnya tagar Bali maupun mention Bali di Instagram mencapai 60.473.066 kali. Angka yang sangat besar, bukan?

Tak heran, jika para wisatawan nusantara juga ternyata secara data yang ditemukan oleh Kemenparekraf/Barekraf memang membuktikan bahwa Bali menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang segera ingin mereka kunjungi jika Desember 2020 nanti pandemi ini bisa segera berakhir.

Kota Wisata yang Ingin Dikunjungi
info gambar

‘’Data ini bagus untuk kita ketahui, jadi ketika kita membuat satu konten, khususnya destinasi yang diminati oleh wisatawan nusantara. Kita tahu ke pasar mana kita akan tawarkan destinasi-destinasi ini,’’ ungkap Diah.

Tapi apakah benar sudah aman untuk berwisata?

‘’Pariwisata itu bisnis persepsi memang,’’ ungkap Nia Niscaya, Deputi Menteri Bidang Pemasaran Dalam Negeri, Domestik, dan Mancanegara, Kemenparekraf/Barekraf, pada sesi webinar yang sama.

‘’Ketika orang yakin akan sesuatu, dia mau pakai. Tourism juga begitu. Ini soal cerita, karena kalau kita lihat secara digital, perjalanan seseorang untuk sampai bereksperimen itu panjang,’’ lanjutnya.

‘’Jadi orang itu dari dreaming dulu (untuk berwisata). Dreaming itu dibangun oleh apa? Ya berita-berita, cerita-cerita. Dari situ, mulai dia searching tentang destinasi. Begitu dia searching, dia bikin planning. Ketika sudah punya planning, dia booking (tiket), bayar segala hal.’’

‘’Saat traveling, dia eksperimen, punya experience. Nyobain rujak cingur di Surabaya, Bakso Malang, tengkleng di Solo. Terus dia sharing. Nah, sharing-nya dia ini akan jadi dreaming buat orang lain. Artinya apa? Sebelum orang itu hadir, betapa persepsi itu harus dibangun,’’ jelas Nia.

Pulau Padar
info gambar

Lalu tugas siapa membangun persepsi ini?

Bukan hanya GNFI, tapi kita semua harus dan bisa memberikan persepsi yang positif tentang Indonesia. Kawan GNFI punya kesan apa terhadap makanan, kultur, budaya, alam indah Indonesia? Tak peduli dari sudut mana, tapi kawan pasti punya kesan yang bisa diceritakan kepada orang lain. Kisah itu bisa jadi mimpi (dream) buat orang lain untuk berkunjung dan mendapat pengalaman yang sama.

‘’Jadi kawan-kawan, kami tunggu perjalanan kawan-kawan semua di seluruh nusantara dan kami tunggu kawan-kawan untuk gabung bersama Kemenparekraf dan GNFI, untuk menyebarkan kabar baik dari daerah kawan masing-masing, untuk membangun persepsi negeri ini dengan baik,’’ ajak Akhyari.

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini