Sejarah Hari Ini (9 Oktober 1879) - Belanda Bangun Kembali Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Sejarah Hari Ini (9 Oktober 1879) - Belanda Bangun Kembali Masjid Raya Baiturrahman Aceh
info gambar utama

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Beberapa sumber menyebutkan masjid ini dibangun semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada 1612.

Sementara sumber lain mengatakan bangunan masjid sudah ada pada 1292 yang dibangun oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah.

Jauh setelah itu, sewaktu tentara Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar.

Namun, untuk mendapatkan hati rakyat Aceh, masjid tersebut dibangun kembali.

Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman dibakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877, dengan mengulangi janji jenderal Jan van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johan Wilhelm van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman.

Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala negeri sekitar Banda Aceh, di mana disimpulakan bahwa pengaruh masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100 persen beragama Islam.

Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Karel van der Heijden selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu.

Kemudian, tepat pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879, diletakan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil yang diiringi tembakan meriam 13 kali.

Bangunan masjid yang baru dirancang oleh arsitek terkenal asal Belanda bernama Gerrit Bruins dari Departement van Burgelijke Openbare Werken Batavia dibantu seorang Letnan Cina, Lie A Sie, yang berperan sebagai kontraktor.

Masjid Raya Baiturrahman didesain dengan gaya Moghul (India). Sebelum membuat rancang bangun masjid tersebut Bruins terlebih dulu melakukan survei ke berbagai masjid di berbagai kerajaan Islam saat itu.

Bahan bangunan masjid didatangkan dari berbagai daerah, yakni sebagian materialnya dari Pulau Pinang, marmer dari negeri Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Myanmar dan tiang-tiang besi dari Surabaya.

Pembangunannya saat itu menghabiskan biaya sebesar f 203.000 (dua ratus tiga ribu gulden).

Sebenarnya ada pro dan kontra terkait pembangunan kembali masjid ini.

Sebagian dari mereka menolak karena pembangunan masjid disponsori oleh si kaphe (sebutan rakyat Aceh bagi orang Belanda non muslim).

Walaupun demikian, pengerjaan pembangunan tersebut tetap dilakukan sampai selesai dengan satu buah kubah.

Upacara serah terima lantas dilaksanakan pada 21 Desember 1881 ke tangan ulama kondan, Teungku Marhaban.

Masjid Raya Baiturrahman pada 1922-1923.
info gambar

Pada 1935, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas pada bagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah, perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dekerjakan dalam tahun 1967 M.

Kemudian pada tahun 1975, terjadinya perluasan kembali dengan bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya.

Perbaikan dan penambahan tempat wudu dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayt Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.

Pada masa pemerintahan Gubernur Ibrahim Hasan (1991), terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri.

Bagian masjid yang diperluas, meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat salat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudu, dan 6 lokal sekolah.

Tak hanya bagian dalam, karena perluasan juga meliputi halaman, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama di depan masjid.

Pada ujung tahun 2004 atau tepatnya tanggal 26 Desember 2004, terjadilah gempa bawah laut yang memicu tsunami dan menimpa kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Banyak korban meninggal dan infrastruktur rusak akibat bencana alam tersebut.

Namun, masjid ini tetap selamat tanpa kerusakan berarti sehingga banyak warga Aceh yang berlindung saat dan pascakejadian.

---

Referensi: Kebudayaan.kemdikbud.go.id | Prof. Dr. M. Dien Madjid, "Catatan Pinggir Sejarah Aceh: Perdagangan, Diplomasi, dan Perjuangan Rakyat" | Laina Hilma Sari, Izziah, Erna Meutia, "Mesjid Bersejarah Aceh Dalam Perspektif Kenyamanan Spasial Arsitektur" | Abdul Baqir Zein, "Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini