Berjemur Sembari Santai di Pantai Tablolong, Kupang

Berjemur Sembari Santai di Pantai Tablolong, Kupang
info gambar utama

Menjalani akhir pekan sembari santai di pantai memang menyenangkan, kawan. Jika membicarakan pantai di Indonesia memang tak pernah ada habisnya, maklum, Indonesia adalah negara kepualaun dengan bibir pantai yang terhampar dari ujung timur hingga ujung barat.

Bahkan Indonesia termasuk negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada dengan total panjang 99.093 kilometer, bahkan berpotensi lebih panjang lagi jika diukur lebih detail.

Salah satu pantai yang memesona di kawasan timur Indonesia adalah Pantai Tablolong. Pantai ini berada di wilayah selatan Kota Kupang, NTT, atau persisnya berada di wilayah administrasi Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Pantai ini juga dikenal sebagai Pantai panas Tablolong, karena memang cuacanya yang cenderung panas di sana. Pantai ini juga dikenal memiliki pesona terumbu karang yang terlihat elok ketika air surut yang tersebar di beberapa lokasi garis pantai.

Jika tertarik untuk lebih jauh melihat pemandangan bawah laut yang dangkal, kawan GNFI dapat melakukan selam permukaan (snorkeling) di airnya yang jerih. Terik matahari membuat kontras perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit di pantai ini.

Sekadar saran, karena masih minimnya jasa peminjaman alat snorkeling, ada baiknya kawan GNFI membawa perlengkapan tersebut, atau menyewanya sat melintas di kota Kupang.

Dengan kondisi pantainya yang relatif memiliki gelombang tak terlalu tinggi, kawan GNFI juga dapat mengajak keluarga untuk berenang, bermain air, atau bahkan hanya untuk melepas penat di ria lopo (semacam bale-bale).

Karena cuacanya yang panas, bagi yang ingin berjemur sembari santai, pantai ini nampaknya menjadi lokasi yang cocok di seputaran wilayah Kupang. Hembusan angin pantai pun, bakal membuat suasana menjadi lebih rileks.

Tempat migrasi ragam jenis ikan

Menukil Indonesia Kaya, pantai yang berjarak 30 kilometer dari Kota Kupang ini diapit oleh Pulau Rote dan Timor. Daya tarik pantai ini juga kerap dijadikan arena olahraga memancing skala nasional hingga internasional saban tahunnya.

Diadakannya acara tersebut bukan tanpa alasan, karena kurang lebih sejauh 10 mil dari garis pantai merupakan jalur migrasi ikan yang cukup ramai dari perairan Laut Timor menuju Laut Sawu.

Beberapa spesies ikan pun kerap bersembunyi di karang-karang sepanjang garis pantai Tablolong. Selain itu, kekayaan biota lautnya juga menjadikan Tablolong sebagai pantai penghasil rumput laut terbesar di NTT.

Lain itu, dengan memanfaatkan airnya yang jernih serta kaya akan ragam jenis ikan, para nelayan sekitar juga membudidayakan ikan di sekitar pantai.

Di pantai ini juga terdapat Pohon Centigi (Pempis Acidula) yang berkembang subur di sekitar bebatuan karang. Pohon ini merupakan sebuah tanaman golongan perdu yang banyak dicari karena keunikannya.

Lantaran suasana pantainya yang hening, pada pagi hari ketika udara sejuk, para pelancong kerap memanfaatkan pantai ini sebagai tempat meditasi guna menenangkan pikiran.

Akses dan akomodasi

Jika ingin mengunjungi pantai ini, disarankan kawan GNFI menggunakan kendaraan pribadi atau sewa, karena belum ada kendaraan umum yang mengantarkan hingga ke lokasi.

Dari pusat Kota Kupang, kawan bisa menuju arah Tenau dengan waktu tempuh sekitar satu sampai 1,5 jam. kawan GNFI bisa menyewa kendaraan bertarif Rp100 ribu (motor) hingga Rp300 ribu (mobil) untuk durasi sehari.

Tentunya, kawan GNFI akan dimudahkan dengan banyaknya marka yang akan memandu jalan, hingga sepertinya tak sulit untuk menemukan pantai ini. Dan sesamainya di lokasi, siapkan saja uang Rp5.000 untuk harga tiket satu orang, plus Rp2.500 untuk tarif parkir kendaraan.

"Walau letaknya pantainya di pelosok, namun untuk parkir dan keamanan sekarang sudah relatif aman," kata Fuad Sauqi, pengunjung asal Kupang pada penulis beberapa waktu lalu.

Jika ingin menginap di homestay, seperti ditulis Wisata Tanah Air, bagi turis domestik hanya dikenakan tarif yang cukup terjangkau, sementara untuk turis bule harganya bisa lebih mahal.

Namun menurut beberapa wisatawan, ada juga penginapan sejenis Vila yang relatif lebih mahal. Karenanya hanya sedikit wisatawan domestik yang memilih menginap di tempat itu.

Saat ini, seperti wisata pantai pada umumnya, di sekitar pantai juga terdapat warung makanan dan fasilitas penunjang lainnya seperti toilet, kamar ganti serta sarana bermain untuk anak-anak.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini