Pesona Bena, Kampung Adat Purba di Pedalaman Flores

Pesona Bena, Kampung Adat Purba di Pedalaman Flores
info gambar utama

Kawan GNFI, di Flores, NTT, tak hanya kampung adat Waerebo yang tersohor bagi para pelancong domestik maupun mancanegara. Tapi ada satu kampung adat purba yang merupakan kampung adat tertua di Flores, yakni Kampung Bena.

Nama Bena, dikatakan berasal dari nama suku asli pertama yang berdiam di daerah itu. Namun begitu banyak cerita tentang asal muasal kampung purba yang diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun lalu itu.

Terletak di kaki Gunung Inerie (2.245 mdpl), atau tepatnya berada di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, kampung yang memanjang dari utara ke selatan ini terkenal dengan rumah adat Bena dan artefak yang merupakan peninggalan tradisi nenek moyang mereka.

Pada bagian tertingginya atau di ujung kampung, berbatasan dengan tebing terjal. Disana kawan GNFI akan terlihat lebih dari 40 buah rumah yang saling berhadapan. Kawan juga dapat melihat pintu masuk kampung yang hanya bisa di akses dari arah utara.

Peninggalan peradaban megalitikum

Secara arsitektur, rumah adat tradisional masyarakat Bena beratap alang-alang dengan lantai yang merupakan padu padan dari batu-batu gunung. Ini sekaligus menjadi bukti, bahwa kampung ini merupakan sisa peradaban megalitikum yang masih bertahan.

Secara struktur geografis, kontur kampung ini berundak. Sebagian rumah penduduk terletak di bawah, sementara sebagian lainnya terletak di atas, yang dibatasi dengan tanah lapang tempat diadakannya acara adat.

Saat penulis mengunjungi kampung ini pada 2017, pada area tengah kampung terdapat Nga'du dan Bha'ga, yang merupakan simbol hubungan kekerabatan antara leluhur dan generasi itu hingga seterusnya.

Nga'du yang bermakna simbol nenek moyang laki-laki, bentuknya menyerupai sebuah batu runcing yang menjulang. Sedangkan Bha'ga berati symbol nenek moyang perempuan, fisiknya secara umum menyerupai bentuk miniatur rumah.

kampung bena, flores
info gambar

Mata pencarian penduduk bagi kaum laki-laki adalah berladang. Selain hasil pangan jagung, umbi-umbian, dan kacang-kacangan, mereka juga menanam kopi dan kemiri yang tumbuh subur di kaki Gunung Inerie.

Sementara kaum perempuannya lebih tekun menenun yang hasilnya dijual kepada pelancong, atau dikirim ke kota Bajawa.

Secara umum, ada 9 suku yang menghuni rumah-rumah adat di Kampung Bena, yakni Bena, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, dan Ago. Setiap suku tinggal pada deretan undakan yang berbeda. Oleh karenanya, jika kawan berkunjung ke sana, akan menemui sembilan undakan tersebut.

Suku Bena, yang dianggap suku paling tua dan pendiri kampung, tinggal di undakan tengah. Ikatan adat dari kampung ini lebih luas lagi, karena ada ribuan jiwa yang merupakan keturunan warga Bena bermukim di luar kampung adat.

Warga kampung Bena menganut kekerabatan dengan mengikuti garis keturunan pihak ibu. Sementara lelaki Bena yang menikah dengan wanita suku lain maka akan menjadi bagian dari klan istrinya.

Khusus untuk wanita di Bena, mereka wajib untuk memiliki keahlian menenun dengan bermotifkan kuda dan gajah sebagai ciri khasnya.

Hingga kini, warga Bena pun meyakini bahwa di puncak Gunung Inerie bersemayam Dewa Zeta yang melindungi bakal mereka dari marabahaya. Jika memandang gunung tersebut, maka pada bagian barat gunung terlihat belantara nan lebat, sementara pada bagian lereng selatan, nampak area perkebunan.

Menurut keterangan warga kampung pada penulis, gunung yang pernah meletus pada 1882 dan 1970 tersebut bisa didaki saat musim kemarau, antara Juni hingga Agustus. Dari puncaknya kita dapat melihat pemandangan elok ke segala arah, termasuk Kota Bajawa di sebelah barat laut dan birunya Laut Sawu di bagian selatan.

Rute menuju Kampung Bena

Jarak Kampung Bena kurang lebih 19 km dari pusat kota Bajawa--ibu kota Kabupaten Ngada. Untuk mencapainya bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor. Meski jalurnya sudah relatif baik, namun kawan GNFI juga tetap dituntut memiliki keahlian mengemudi yang mumpuni guna menaklukkan jalan berkelok dan naik turun.

Jika kawan berangkat dari Labuan Bajo, maka bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jasa travel ke kota Bajawa. Sampai di Bajawa, bisa dilanjutkan dengan menggunakan jasa ojek dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam.

Sementara, jika kawan baru saja berwisata ke Danau Kelimutu di kota Ende, maka bisa menggunakan jasa travel atau bus jurusan Ende-Bajawa, kemudian turun di Mataloko, yang disambung dengan ojek menuju Kampung Bena.

Kampung Bena dibuka untuk para pelancong mulai pukul 8:00-17:00 WITA. Ketika masuk, kawan GNFI cukup mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Donasi sebaiknya menggunakan uang kertas karena uang koin tidak digunakan oleh masyarakat Kabupaten Ngada.

Karena lokasinya yang relatif terpencil, kawan GNFI tentu tak bisa menemukan penginapan di sekitar perkampungan Bena. Para wisatawan biasanya memilih menginap di Bajawa karena jarak tempuh ke Kampung Bena tidak jauh.

Jika menginap di Bajawa, pastikan membawa pakaian hangat karena suhu di kota Bajawa cukup dingin terutama pada malam hari.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini