Pulau Kenari, Surga Wisata dengan Keunikan Multibahasa

Pulau Kenari, Surga Wisata dengan Keunikan Multibahasa
info gambar utama

Pernahkah kawan GNFI mendengar tentang Pulau Kenari? Ya, pulau ini merupakan sebutan lain dari Alor, nama sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang juga disematkan pada nama pulau dan kepulauannya.

Pulau yang disebut-sebut tak kalah cantik dari Kepulauan Karibia ini tergolong masih sepi. Namun jangan salah, keelokannya terkenal sampai ke mancanegara sebab menyimpan sejumlah keunikan, termasuk kekayaan wisata.

Pulau Kenari atau juga dikenal juga dengan sebutan Bumi Kenari, disebut demikian karena kawasannya yang didominasi oleh pohon kenari. Bahkan Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, terkenal dengan julukan Kota Kenari karena terkenal menghasilkan kenari degan kualitas baik. Demikian tulis Travel Kompas.

Tak heran jika kemudian kenari menjadi komoditas terbesar pulau ini. Kawan GNFI bisa menemukan kenari sebagai kuliner khas, oleh-oleh untuk dibawa pulang, juga sumber inspirasi para penenun di Alor.

Keunikan multibahasa dan surga wisata

Pulau Kenari juga dikenal unik sebagai satu-satunya wilayah di NTT yang memiliki 42 bahasa daerah. Meski begitu, perbedaan bahasa antara satu desa dengan desa lainnya bukan merupakan hambatan dan mereka tetap berkomunikasi lancar menggunakan bahasa Indonesia.

Dengan kekayaan pulau dengan komunikasi multibahasa tersebut, pulau ini juga unggul soal jumlah destinasi wisata daerah nan lengkap.

Berikut di antaranya:

Wisata sejarah

Selain mendapat julukan sebagai Pulau Kenari, Alor juga dikenal dengan julukan Pulau 1000 Moko. Moko adalah alat musik khas Alor berbentuk lonjong yang mirip gendang. Alat musik ini terbuat dari perunggu yang oleh masyarakat Alor dijadikan sebagai sebagai mas kawin dan alat untuk membayar denda. Dan hal itu sudah dilakukan sejak zaman leluhur mereka.

Rata-rata penduduk asli Alor pasti memiliki moko sebagai peninggalan turun-temurun dari leluhur mereka. Moko bagaikan barang sangat berharga yang nilainya akan terus bertambah seiring waktu. Bisa dibayangkan, berapa puluh ribu Moko yang tersimpan di pulau Alor yang berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa tersebut.

Moko atau juga disebut nekara perunggu merupakan benda budaya zaman pra-sejarah. Menurut para ahli Arkeologi dan sejarah, teknologi pembuatan Moko Alor berasal dari teknologi perunggu di Dongson, Vietnam bagian Utara. Kemudian teknologi ini menyebar ke berbagai daerah di Asia Tenggara, termasuk ke pulau Alor.

Secara fisik, moko berbentuk seperti drum tangan dengan diameter 40 cm hingga 60 cm dan tinggi 80 cm hingga 100 cm, serta memiliki bentuk dan desain yang bermacam-macam, termasuk ornamen-ornamen khas Indochina seperti gajah dan ornamen lain yang beragam.

Satu buah moko bisa dibanderol seharga Rp50 juta. Harga ini, menurut mereka, pantas mengingat arti pentingnya ikatan perkawinan, yang akan mempersatukan berbagai keluarga.

Alat musik Moko
info gambar

Seseorang ahli antropologi bernama Cora Dubois pernah meneliti tentang Moko. Dia menyatakan bahwa Moko mempunyai 4 fungsi, yakni:

  • Sebagai simbol status sosial. Memiliki jumlah dan jenis Moko tertentu menunjukan status sosial seseorang dalam masyarakat. Kepemilikan Moko ini mempunyai status sosial yang cukup tinggi dan terpandang. Bahkan orang yang memiliki Moko ini dalam jumlah tertentu akan berpengaruh dalam setiap kepemimpinan tradisional.
  • Sebagai mas kawin. Seorang pria yang hendak menikah menyerahkan sejumlah Moko kepada keluarga perempuan calon istri. Jika pihak keluarga pria tidak memiliki Moko, maka keluarga tersebut mereka harus meminjam moko kepada Tetua Adat. Peminjaman ini tidaklah gratis, karena pihak keluarga pria harus menggantinya dengan sejumlah uang yang jumlahnya cukup besar.
  • Sebagai alat tukar ekonomi. Sejak dahulu orang Alor mengenal Moko sebagai alat tukar seperti uang. Dalam hal ini Moko dapat di tukar dengan barang tertentu.
  • Sebagai alat Musik. Moko dapat menggantikan fungsi tambur yang terbuat dari kulit kayu dan kulit hewan. Alat musik Gong dan Moko biasa dimainkan untuk pengiring tari-tarian. Dalam pandangan orang Alor, Gong yang berbentuk plat dalam posisi telungkup adalah lambang kewanitaan. Sedangkan Moko berbentuk bulat dalam posisi berdiri adalah lambang kejantanan.

Jika kawan GNFI berkunjung ke sana, kawan GNFI bisa tahu lebih banyak tentang alat musik ini dengan berkunjung ke Museum 1000 Moko di Kalabahi.

Wisata adat dan budaya

Pulau Kenari memiliki beberapa desa yang sarat budaya lokal dan masih melestarikan tradisi adat. Salah satunya Desa Takpala yang terletak di Kecamatan Alor Barat. Kawan GNFI bisa mengunjungi desa ini sekira 30 menit saja dari Kota Kalabahi. Lokasinya berhadapan langsung dengan keindahan Teluk Takpala.

Tarian takpala
info gambar

Di sana, para pelancong dapat menyaksikan tarian lego-lego yang dibawakan oleh penduduk asli yang disebut Suku Abui. Ada pula rumah tradisional bernama Lopo yang berbentuk limas.

Hingga kini penghuninya masih setia memasak dengan cara tradisional, yakni menggunakan tungku dan masih mengenakan pakaian adat. Mereka pun memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil hutan, yakni biji-bijian yang dibuat jadi suvenir seperti kalung dan gelang untuk dijual pada pengunjung yang datang.

Selain di Desa Takpala, desa wisata lain di Pulau Kenari adalah Desa Bampalola dan Desa Kopidil.

Wisata belanja

Para perempuan dan mama--sebutan untuk perempuan paruh baya--terkenal andal soal menenun kain, mereka bisa ditemui di Kampung Hula, Alor Besar. Para perempuan itu telah menggunakan lebih dari 100 pewarna alami dalam membuat kaih tenun khas Alor.

Menenun kain khas Alor
info gambar

Ciri khas kain tenun Alor yakni bermotif kenari, ikan, penyu, dan kalajengking. Uniknya, kain juga dijual dari kapal ke kapal yang singgah ke Alor oleh para penenun. Harganya beragam tergantung ukuran dan bahan. Kain tenun berbahan alami dihargai Rp400 ribu, sedangkan yang berbahan sintetis dihargai lebih murah, sekitar Rp150 ribu.

pernik aksesori khas alor
info gambar

Lain itu, kwan GNFI juga bisa mendapati beragam aksesori unik yang dibuat oleh penduduk Alor dari biji-bijian dan kayu hutan Alor. Bentuknya unik dan beragam. Ada gelang, kalung, dst. Soal harga, tentu relatif terjangkau.

Wisata bahari

Satu yang paling menonjol dari Pulau Kenari adalah wisata lautnya. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT mencatat, dari ribuan pelancong yang berkunjung ke Alor sepanjang tahun 2016, kebanyakan dari mereka menyebut taman laut di Pulau Kenari memiliki kelas dunia.

Pantai Mali, Alor
info gambar

Keunggulan itulah yang kemudian membawa Pulau Kenari sebagai wisata bawah laut terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016. Menukil laman Tribunnews Kupang, hingga saat ini sekira ada 42 lokasi menyelam terfavorit, dan masih banyak lagi yang belum terjamah.

Pantainya pun tak kalah elok untuk dikunjungi, seperti Pantai Mali, Pantai Baolang, Pantai Tuabang, Pulau Kepa, Pantai Kawaka, Pantai Ling Al, dan Pasir Panjang, serta Pantai Batu Putih. Semuanya memiliki pantai pasir putih dengan laut jernih serta suasana yang cenderung sepi.

Wisata religi

Jika berkunjung ke pulau ini, jangan lupa singgah ke objek situs Alquran tua yang ada di Desa Alor Besar. Konon kabarnya, itu adalah Alquran kulit kayu tertua di Asia. Demikian tulis Detik Travel.

Berbeda dengan peninggalan sejarah Alquran lain yang lazimnya hanya bisa kita lihat di balik kaca dinding museum, Alquran ini bisa dengan bebas kita pegang langsung bentuk fisiknya, setelah sebelumnya bersuci (mengambil wudhu).

Meski telah berumur lebih dari 400 tahun, bentuk fisik Alquran yang terbuat dari kulit kayu ini tetap terawat dengan baik. Bahkan, kita bisa membaca tulisan kaligrafi setiap ayat di Alquran tersebut sebagaimana kitab suci Alquran. Dikabarkan, hanya keturunan kesultanan Ternate-lah yang diperkenankan menyimpannya.

Wisata kuliner

Di pulau ini, kenari yang telah dikupas kulitnya banyak dikonsumsi penduduk Alor sebagai penganan. Salah satunya untuk dikudap bersama jagung titi. Jagung satu ini bentuknya gepeng mirip emping.

Kudapan ini umumnya dijual di pasar tradisional dengan harga Rp25 ribu untuk sebungkus jagung titi, dan Rp10 ribu untuk tiga mangkuk kecil kenari. kawan GNFI bisa memakannya langsung atau disangrai lagi agar makin renyah.

Tak hanya itu, kuliner lain yang layak dicoba adalah kue rambut yang terbuat dari campuran adonan tepung dan gula lempeng (gula lontar) dengan rasa manis gurih. Ada pula es rumput laut yang segar dan kaya serat, juga beberapa makanan utama yang pedas. Misalnya sup cakalang kuah kuning dan sayur jantung pisang bumbu pedas.

Nah, kawan, daroi paparan di atas, masa iya tak tertarik untuk menjelajah pulau ini. Yuk bersiap!

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini