Di Lapak Online, Ternyata Sayur Adalah yang Terlaris Ketimbang Cokelat

Di Lapak Online, Ternyata Sayur Adalah yang Terlaris Ketimbang Cokelat
info gambar utama

Kawan GNFI, pandemi memang memaksa kita untuk selalu beradaptasi, baik soal berkegiatan maupun soal konsumsi makanan. Kita memang diharuskan lebih banyak tinggal di rumah, hal tersebut sesuai wejangan pemerintah yang menerbitkan aturan pembatasan sosial bersekala besar (PSBB). Soal lainnya, kita juga cenderung memilih makanan yang kita anggap sehat, semisal sayur dan buah.

Boleh jadi, perilaku tadi menemukan kita pada sebuah tten baru, yakni berbelanja melalui lapak online atau lazim disebut marketplace. Jika umumnya kita belanja sayuran di supermarket atau tukang sayur keliling, sekarang sebagian orang malah elakukannya dengan membeli secara online.

Hasil survei sosial demografi dampak Covid-19 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan dirilis pada Juni 2020, menunjukkan bahwa sembilan dari 10 responden memilih belanja online ketimbang belanja di pasar swalayan atau pasar tradisional.

Selain itu, 51 persen responden justru mengaku pengeluarannya bertambah, terutama soal bujet untuk membeli bahan makanan pokok.

Sayuran laris manis saat pandemi

Dalam publikasi yang lain dari BPS, yakni soal Analisis Big Data di Tengah Masa Adaptasi Kebiasaan Baru yang terbit pada pertengahan Agustus 2020, survei tersebut menunjukkan bahwa pembelian sayuran secara online, melonjak 1.900 persen selama pandemi.

Survei itu mengambil data harian pada situs marketplace di Indonesia, selama Januari hingga Juni 2020, atau membandingkan antara kuartal 1 (Q1) dan kuartal 2 (Q2) 2020. Dalam survei itu, BPS membandingkan pola belanja antara Q1 (Januari-Maret, atau masa sebelum pandemi) dan Q2 (April-Juni, atau masa selama pandemi).

Hasilnya, sekira ada 10 jenis makanan yang penjualannya meningkat pesat. Juaranya adalah sayuran segar, dengan peningkatan pertumbuhan sebesar 1.900 persen. Sebelum pandemi (Q1), sayuran segar terjual 20.000 unit yang kemudian melesat menjadi 400.000 unit saat pandemi (Q2).

Di peringkat ke-2 ada bumbu instan yang naik pertumbuhannya sebesar 160 persen. Dari 250.00 bumbu instan yang terjual sebelum pandemi, menjadi 650.000 produk terjual saat pandemi. Boleh jadi, saat pandemi banyak orang-orang yang mulai belajar memasak dengan memanfaatkan waktu luang di rumah.

Kemudian pada peringkat ke-2 ada makanan siap saji yang melonjak 105 persen. Sebelum pandemi, order atas makanan ini hanya 580 ribuan produk, sementara semasa pandemi meningkat menjadi 1,2 jutaan produk makanan.

Mungkin ada sebagian masyarakat yang ingin praktis ketika bekerja untuk memesan makanan siap saji, atau orang tua yang terlalu sibuk mengajari anaknya menjalankan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ), sehingga tak sempat memasak.

Makanan terlaris saat pandemi

Camilan bergula cenderung dijauhi

Yang menarik adalah, jika sayur mayur dan makanan siap saji lainnya cukup melonjak permintaannya saat pandemi, lain hal dengan makana yang berkategori camilan, semisal roti, permen, coklat, bahkan es krim.

data itu mencatat, nyatanya di tengah pandemi banyak masyarakat yang mulai melengserkan bakanan dengan kandungan gula tinggi. Karena memang, pola hidup sehat mulai dijalani masyarakat agar imun tubuh lebih kebal terhadap virus. Maklum momok virus Corona masih merajalela hingga kini.

Sekira ada enam jenis makanan yang sepi peminat selama pandemi. Es krim misalnya, penjualannya turun paling drastis sekitar 50 persen saat pandemi. Padahal, sebelum pandemi es krim acapkali dipesan dengan catatan pemesanan mencapai 20 ribu kali, lalu drop ke 10 ribu kali saat pandemi.

Selain es krim, makanan atau minuman yang mengandung gula yang pemesanannya drop adalah cokelat. Sebelum masa pandemi, ada sekitar 700 ribu pesanan untuk camilan ini, namun semasa pandemi demand-nya merosot menjadi 600 ribu pesanan, atau drop 14 persen.

Hal menarik lainnya adalah pola pemesanan makanan dan minuman saat bulan puasa dan menjelang hari raya. Tak ada yang menampik jika bulan puasa dan hari raya identik dengan sirup atau jus. Nyatanya, pola pemesanan minuman ini juga merosot tajam semasa pandemi, yakni mencapai 20 persen.

Pada periode itu (Q2), sirup dan jus hanya dipesan sebanyak 40 ribu kali, padahal sebelum pandemi, ada sekira 50 ribu pemesanan atas minuman manis ini.

Tip menjaga kesehatan saat pandemi

Saat pandemi seperti sekarang ini, UNICEF memang mengingatkan soal pentingnya menjaga daya tahan tubuh, agar imunitas tubuh makin kuat dan kesehatan kita tetap terjaga. Menukil Liputan6, sekita ada beberapa kiat untuk terus menjaga kesehatan dan stamina tubuh selama pandemi. Di antaranya adalah:

  • Rutin makan sayur dan buah,
  • Jika perlu alternatif, bisa konsumsi makanan kaleng,
  • Mengonsumsi camilan sehat dengan kadar gula rendah, dan yang tak kalah penting adalah
  • Mengatur pola makan.

Nah kawan, somoga informasi tadi bermanfaat dan bisa dijadikan rujukan untuk memesan makana via lapak online. Terus jaga kesehatan ya, kawan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini