Berlian Banjarmasin hingga Fosil Manusia Purba Siap Dipulangkan Belanda ke Indonesia

Berlian Banjarmasin hingga Fosil Manusia Purba Siap Dipulangkan Belanda ke Indonesia
info gambar utama

"Jika itu bukan milik Anda, maka Anda harus mengembalikannya," seperti itulah kata penulis laporan badan penasihat pemerintah Belanda, Lilian Goncalves-Ho Kang You, dilansir GNFI dari The Guardian. Ungkapan Goncalves tersebut berhubungan dengan sejumlah koleksi yang disimpan di museum-museum Belanda. Memang, sebagian besar dari koleksi sejumlah museum Belanda bukanlah murni dari negeri kincir angin itu, melainkan dari tanah jajahan mereka dulu, salah satunya Indonesia.

Goncalves, sosok wanita pengacara berusia 73 tahun kelahiran Paramaribo, Suriname, telah menghabiskan satu tahun bekerja sama dengan panitia pengembalian benda-benda bersejarah yang tersimpan di museum-museum Belanda. Panitia tersebut terdiri dari orang Antillen Belanda, Suriname, Indonesia, Belanda, Inggris, Indo-Eropa dan Prancis dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam. Ia berharap, pengembalian benda bersejarah ke negara-negara yang pernah diduduki Belanda bisa dilakukan tanpa syarat.

''Ini tentang ketidakadilan dan penindasan dan kami percaya bahwa Anda harus mengambil sikap berdasarkan hal itu. Kesederhanaan posisi ini juga memiliki keuntungan besar dalam menciptakan kejelasan, baik untuk Belanda maupun untuk negara asalnya,'' kata Goncalves dikutip dari Deciliiter.

Lilian Goncalves-Ho Kang You.
info gambar

Khusus bagi Goncalves pribadi, barang-barang bernilai sejarah yang diambil dan dipajang di Belanda sangatlah berarti bagi orang Suriname. Menurutnya, benda bersejarah dibutuhkan agar banyak orang bisa mengetahui asal usul para pendahulu. ''Di Suriname misalnya, hanya ada satu museum yang sangat kecil, Museum Suriname di Fort Zeelandia. Setelah itu tidak ada lagi,'' terangnya.

Ada sekitar 100 ribu benda bersejarah yang direncanakan akan dikembalikan ke negara-negara yang pernah menjadi koloni Belanda. Pengembalian tersebut dikonfirmasi oleh Direktur Rijksmuseum dan Tropenmuseum di Amsterdam, tempat sejumlah benda peninggalan sejarah dari luar Belanda kini dipajang.

Museum di Belanda mendukung laporan yang mengusulkan 'pengakuan dan perbaikan ketidakadilan' semasa kolonialisme termasuk di Nusantara. Inventarisasi barang-barang pusaka turut dilakukan oleh Dewan Kebudayaan Belanda.

Direktur Rijksmuseum, Taco Dibbits mengatakan lembaganya sudah bekerja untuk mengidentifikasi asal-usul koleksi dan struktur formal untuk pengembalian akan diterima. ''Ini adalah masalah penting yang semakin mendapat perhatian, termasuk internasional, dalam beberapa dekade terakhir. Kami berharap hal ini berkontribusi pada dialog yang konstruktif dengan negara asal. Selain itu, penting agar museum bekerja sama secara internasional untuk menambah pengetahuan tentang kawasan ini,'' ujarnya.

Direktur Tropenmuseum, Stijn Schoonderwoerd mengatakan kepada surat kabar Het Parool bahwa apa yang dilakukan pemerintah Belanda merupakan sebuah langkah yang maju. ''Dengan ini, Belanda mengambil tanggung jawabnya dengan mengakui ketidakadilan dan memungkinkan untuk mengembalikannya. Kami menyambutnya,'' ujar dia.

Indonesia sendiri pada Maret 2020 lalu sudah melakukan pemulangan senjata pusaka pemimpin Perang Jawa (1825-1830) Pangeran Diponegoro. Pusaka tersebut berupa keris bernama Kiai Naga Siluman dengan ciri fisik berwarna hitam dan sarung (warangka) berwarna emas. Diperkirakan keris ini sudah 189 tahun berada di tangan Belanda.

Berlian Banjarmasin

''Koleksi kolonial Belanda terdiri dari palet kebudayaan yang beragam, antara lain benda seni, benda religius, benda sejarah, perhiasan, benda sejarah alam dan perkakas,'' jelas dari pihak penyampai kebijakan pada pemerintah Belanda.

Tidak bisa dipungkiri memang, banyak benda-benda peninggalan leluhur orang Indonesia tersimpan di Belanda. Jadi, tak cuma senjata seperti pusaka Pangeran Diponegoro saja.

Salah satu yang disebutkan sejumlah sumber ialah berlian milik Sultan Banjarmasin. Berlian dengan nilai kadar 70 karat tersebut dikuasai Belanda pada akhir abad ke-19 dan kini dipajang di salah satu museum tersohor di Kota Amsterdam, Rijksmuseum.

Dari foto yang terpampang di situs Rijksmuseum, berlian itu berbentuk kotak dengan banyak sudut kristal yang bening. Ukurannya 2,186 x 1,737 cm dengan tinggi 1,386 cm. Beratnya 7,65 gram.

Nama batu mulia ini jelas tertera: 'The Banjarmasin Diamond, anonymous, c.1875'. ''Berlian ini adalah rampasan perang. Berlian ini pernah dimiliki Panembahan Adam, Sultan Banjarmasin (Kalimantan),'' demikian keterangan yang tertera soal berlian itu.

Berlian Banjarmasin dipajang bersama benda-benda yang dibawa Belanda dari Lombok.
info gambar

Kota Banjarmasin yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan memang sudah dikenal tempatnya produksi batuan berlian, intan, dan sebagainya sejak masa kolonial Belanda. Dikutip GNFI dari surat kabar De Locomotief terbitan 26 April 1897, para penambang berlian saat itu harus membayar pajak tertentu pada penguasa setempat.

Pada pasa pemerintahan Panembahan Adam, penambangan dilakukan gratis. Namun, ada syarat bagi para penambang, yakni harus menyerahkan berlian dengan nilai dua karat pada sang sultan.

Ketika ilmuwan Belanda melakukan ekspedisi ke Banjarmasin pada 1835, mata mereka tertuju ke sultan yang diperhias dengan berlian dan permata. Belakangan, mereka mengetahui bahwa sultan memiliki perhiasan dalam jumlah besar.

Belanda pun dimabukkan oleh kekayaan sultan. Pada 1859, mereka menyita hartanya. Beberapa tahun kemudian, mereka mengirim aset sang sultan ke Belanda.

Seorang sejarawan Belanda, Caroline Drieenhuizen lewat blog pribadinya mengatakan soal penyitaan berlian itu pada tahun 2017. Dalam tulisannya ia menuliskan: ''Setelah ada masalah terkait suksesi, Belanda memutuskan untuk menghentikan kesultanan. Berlian ditetapkan sebagai milik negara Belanda,'' jelas Caroline.

Sayangnya idak jelas ada kejadian apa yang menyebabkan berlian itu berpindah tangan dari sultan ke Belanda. ''Menurut saya masih ada mentalitas kolonial. Orang di Belanda menulis sejarah berdasarkan perspektif mereka dan itu harus berubah karena ada sejarah Indonesia di balik itu,'' kata Caroline.

Berlian ini konon pernah ditawarkan sebagai hadiah untuk Raja Belanda, Raja Willem III. Hanya saja sang raja menolak karena menilai butuh biaya mahal untuk memolesnya kembali.

Fosil Manusia Jawa dan Arca Batu Ganesha

Selain berlian, juga ada fosil tulang manusia Jawa yang ditemukan di Jawa pada 1891. Fosil ini dulunya ditemukan para pekerja bayaran yang dipekerjakan pemerintah Hindia Belanda ketika melakukan penggalian fosil yang dinilai peninggalan manusia pertama di tempat tersebut. Para pekerja bayaran ini dikomandoi langsung oleh dokter dan paleontologi Belanda, Eugene Dubois.

Tulang dari Pithecanthropus erectus.
info gambar

Fosil manusia Jawa mempunyai nama ilmiah Pithecanthropus erectus dan berpredikat fosil dari manusia purba pertama di Jawa. Fosil ini tersimpan di Natural Science Museum, Leiden, Belanda. Fosil ini

Tak sampai situ, sebuah arca batu Ganesha dari abad ke-13 turut masuk dalam pembahasan sebagai barang yang dikembalikan ke Indonesia. Arca tersebut dulunya diambil dari sebuah candi di Jawa Timur pada 1803.

Hanya saja sejauh ini kita mesti bersabar karena belum ada tanggapan dari menteri Belanda. Namun, berhubung Belanda pernah memulangkan pusaka Diponegoro, kita harapkan langkah itu terus berlanjut sampai pengembalian barang bersejarah lain termasuk berlian dan tulang manusia Jawa ini.

---

Referensi: De Locomotief | Costerdiamonds.com | Carolinedrieenhuizen.Wordpress.com | Nrc.nl | Theguardian.com | Deciliiter.com | Nltimes.nl | Rijksmuseum.nl

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini