Saling Mengingatkan, Covid-19 Masih Terus Mengintai Kita

Saling Mengingatkan, Covid-19 Masih Terus Mengintai Kita
info gambar utama

*Penulis senior GNFI

Kita ingat semua ketika dokter Achmad Yurianto alumnus FK Unair angkatan 1990 yang selalu muncul di TV menjelaskan perkembangan penyebaran corona 19 di Indonesia ini, kita sering “ketar-ketir” melihat begitu cepatnya penyebaran virus mematikan ini. Dokter “Arema” atau Arek Malang ini (lahir 11 Maret 1962) dengan penampilan tenang tapi selalu “wanti-wanti” agar masyarakat menyadari bahayanya virus corona dan agar masyarakat selalu mematuhi protokol kesehatan. Mendengar paparan dokter Yurianto tentang angka-angka jumlah kematian akibat corona publik cemas dan bertanya-tanya “kapan ya berhentinya corona ini”. Waktu itu.

Namun sekarang, kita sepertinya kena penyakit orang sepuh, yaitu mudah lupa. Publik tidak “deg-degan” lagi mendengar kabar bahwa corona ini sebenarnya masih ada, atau publik sepertinya lupa, atau “tidak menghiraukan” lagi tentang berita update corona 19 di Indonesia dan dunia. Publik lebih tertuju perhatiannya pada demonstrasi buruh dan mahasiswa menentang Omnibus Law yang disahkan DPR ditengah malam. Publik mendengar dengan seksama berita penangkapan-penangkapan penyusup demo-demo itu dsb.

Bukannya berita tentang penolakan mahasiswa dan buruh terhadap Omnibus Law itu tidak penting; itu adalah berita penting karena menyangkut kehidupan masyarakat, tapi publik jangan sampai lupa dan lengah tentang penyebaran virus mematikan ini, karena juga menyangkut banyak hal dampak yang ditimbulkannya. Di negara-negara Eropa, ditengarai adanya gelombang kedua penyebaran virus ini; misalnya pemerintah Jerman mengeluarkan peraturan pelarangan jumlah orang-orang kumpul diatas lima orang. Di Marseille, Perancis semua bar dan restaurant ditutup, di Inggris pemerintah memerintahkan lagi orang-orang bekerja di rumah. Para pejabat dinegara-negara Eropa khawatir akan terjadi lagi peningkatan penyebaran virus corona seperti di Spanyol dan Itali beberapa bulan lalu dimana hampir semua Rumah Sakit tidak bisa menampung pasien corona. Di Amerika Serikat – salah satu negara paling maju di dunia, jumlah orang meninggal akibat corona sudah mencapai lebih dari 200.000 orang, angka jumlah kematian tertinggi di dunia.

Sekedar untuk mengingatkan kita semua bagaimana dahsyatnya penyebaran virus mematikan ini. Penyebaran virus ini berawal pada tanggal 31 Desember 2019. Kantor WHO (Badan Kesehatan Dunia) di Cina melaporkan adanya kasus penyakit pernafasan yang tidak diketahui penyebabnya atau Pneumonia of unknown etiology (unknown cause) yang terdeteksi di kota Wuhan, Propinsi Hubei, Cina. Satu bulan kemudian persisnya tanggal 3 Januari 2020 WHO mencatat ada 44 kasus penyakit ini di Wuhan.

Otoritas Cina melaporkan bahwa secara klinis orang yang terpapar penyakit ini memiliki gejala demam dan beberapa orang diantaranya mengeluh kesulitan bernafas. Berdasarkan penyelidikan awal dari pemerintah Cina yang dilaporkan ke WHO bahwa tidak ada bukti adanya transmisi penyakit dari orang ke orang. Laporan juga menyebutkan bahwa beberapa orang yang terpapar penyakit ini adalah pemilik toko atau penjual di pasar ikan dan binatang.

Penyebaran virus yang mematikan ini mengejutkan karena dari hanya 44 orang yang terpapar positif virus ini di Wuhan, Cina – lalu menyebar dengan cepat keseluruh negara didunia dan per tanggal 13 Mei 2020 saja sudah ada 4,3 juta orang terpapar, hampir 300 ribuan orang meninggal. Angka-angka itu melonjak tajam pada tanggal 27 Juni 2020 tercatat sudah ada 9.633.157 orang yang positif terkena penyakit ini dan ada 490.481 orang yang meninggal dunia.

Gambaran percepatan penyebaran virus corona yang terjadi di berbagai negara itu juga terjadi di Indonesia. Pada awalnya tanggal 14 Februari 2020 ada seorang warga Jakarta umur 31 tahun yang pernah melakukan kontak (menari) dengan warga negara Jepang di Malaysia; yang ternyata positive terpapar virus corona. Percepatan penyebaran itu bisa dilihat data dimana jumlah kasus pada bulan Maret 2020 yang hanya dua kasus, kemudian dalam waktu satu bulan, angka jumlah orang yang terpapar virus mematikan ini sudah mencapai hampir 6.000 orang.

Tanpa harus panik, masyarakat luas harus tetap waspada dan berhati-hati sedang berlangsungnya penyebaran corona ini dengan selalu ingat protokol kesehatan yang sudah dianjurkan. Masyarakat juga harus menyadari bahwa berakhirnya virus corona ini masih “unpredictable” atau tidak bisa diduga; walaupun ada negara-negara yang sudah meng-klaim menemukan vaccine corona. Kita semua meskipun dikelilingi dengan berita-berita politik, namun tetap harus sadar akan bahayanya corona. Kondisi yang tidak dapat diduga atau “unpredictable” itu akan menyebabkan ketidakpastian atau “uncertainty” disegala bidang, dan ini sangat membahayakan.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini