Sejarah Hari Ini (16 Oktober 1906) - Pendirian Organisasi Sarekat Islam di Solo

Sejarah Hari Ini (16 Oktober 1906) - Pendirian Organisasi Sarekat Islam di Solo
info gambar utama

Syarikat Islam (disingkat SI), atau Sarekat Islam, dahulu bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan pada 16 Oktober 1905.

Terdapat kontroversi tentang tahun kelahiran SI yang dinilai mendahului organisasi pertama di Indonesia Budi Utomo yang didirikan pada 20 Mei 1908.

Salah seorang tokoh SI pascakemerdekaan, Drs. M. A. Gani, mengatakan kelahiran SI memang pada 16 Oktober 1905.

Organisasi yang dibentuk oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan ini adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai ekonomi rakyat pada masa itu.

Pada kongres pertama SDI di Solo/Surakarta, Jawa Tengah, tahun 1906, namanya diubah menjadi Sarikat Islam.

Pada 10 September 1912 berkat keadaan politik dan sosial pada masa tersebut Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menghadap notaris B. ter Kuile di Solo untuk membuat Sarekat Islam sebagai Badan Hukum dengan anggaran dasar yang baru. Kemudian setelahnya, SI mendapatkan pengakuan dan disahkan oleh Pemerintah Belanda pada 14 September 1912.

Lebih lanjut, seiring berjalannya waktu SI mulai disusupi oleh paham sosialisme revolusioner oleh Henk Sneevliet pada 1914 dan berhasil menyusup ke dalam SI karena tujuan yang sama dengan organisasi Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). Prinsip ISDV yang didirikan Sneevliet yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme, tetapi dengan cara yang berbeda.

Dengan usaha yang baik, mereka berhasil memengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi 'SI Putih' yang dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto dan 'SI Merah' yang dipimpin Semaoen dengan berlandaskan asas sosialisme-komunisme.

Dalam kongres Tjokroaminoto pada Februari 1923, memusatkan tentang peningkatan pendidikan kader SI dalam memperkuat organisasi dan pengubahan nama Central Sarekat Islam (CSI) menjadi Partai Sarekat Islam (PSI).

Sementara pada kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) bulan Maret 1923, PKI memutuskan untuk menggerakkan SI Merah untuk menandingi SI Putih dan berubah menjadi 'Sarekat Rakyat' setahun setelahnya.

---

Referensi: Valina Singka Subekti, "Partai Syarikat Islam Indonesia: Konstestasi Politik hingga Konflik Kekuasaan Elite"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini