Sejarah Hari Ini (19 Oktober 1693) - Gereja Sion Jakarta, Salah Satu yang Tertua di Asia

Sejarah Hari Ini (19 Oktober 1693) - Gereja Sion Jakarta, Salah Satu yang Tertua di Asia
info gambar utama

Gereja Sion atau dikenal juga dengan nama Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis Luar (Tembok Kota) berada di Jakarta Barat, tepatnya di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya, tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota.

Pada masa kolonial Belanda, gereja ini juga punya sebutan lain yakni 'Belkita' yang artinya 'di luar (tembok) kota'.

Sudah berdiri sejak abad ke-17 membuat gereja ini menjadi salah satu yang tertua di Jakarta dan juga Asia.

Namanya Gereja Portugis, tetapi tidak didirikan oleh orang Portugis, melainkan orang Belanda.

Belanda membangun Gereja Sion ini diperuntukkan bagi kaum Portugis Hitam (Mardijkers) yang dibawa dari tanah jajahan mereka di Asia.

Orang-orang itu dibawa Belanda dengan status budak. Sesampainya di Batavia, Belanda menawarkan kemerdekaan bagi mereka dari status sebagai budak dengan syarat mereka mau berpindah agama dari Katolik (agama resmi bangsa Portugis) menjadi Kristen Protestan.

Ketika mereka bersedia, Belanda lalu membuatkan gereja yang pada awalnya bernama De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk ini.

Kaum Portugis Hitam inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal leluhur penghuni Kampung Tugu di Semper, Jakarta Utara.

Gereja Sion dalam litografi karya Josias Cornelis Rappard.
info gambar

Gereja Portugis selesai dibangun pada 1695 untuk menggantikan pondok kayu sederhana yang sudah tidak memadai bagi umat Portugis Hitam.

Pembangunan fisik memakan waktu sekitar dua tahun di mana peletakan batu pertamanya dilakukan anak Gubenur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Pieter van Hoorn, pada 19 Oktober 1693.

Peresmian gedung gereja dilakukan pada Minggu, 23 Oktober 1695, dengan dihadiri gubernur jenderal Willem van Outhoorn dan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas.

Ilustrasi kaum Mardijkers alias Portugis Hitam di Batavia.
info gambar

Pada masa pendudukan Jepang, bala tentara Dai Nippon ingin menjadikan gereja ini tempat abu tentara yang gugur.

Setelah Indonesia merdeka, Portugeesche Buitenkerk berganti nama menjadi Gereja Portugis.

Sebagai peralihan kekuasaan pemerintahan, Pemerintahan Belanda memberikan kepercayaan pengelolaan aset peninggalannya kepada Gereja-gereja Protestan di Indonesia (GPI).

Wilayah pelayanan GPI pada bagian barat Indonesia diemban oleh Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB).

Maka, pada persidangan Sinode GPIB tahun 1957 Gereja Portugis, diputuskan untuk bernama GPIB Jemaat Sion dan masyarakat kini mengenal bangunan itu dengan Gereja Sion.

Sion berasal dari nama sebuah bukit di daerah Palestina berbahasa Ibrani dan merupakan lambang keselamatan pada bangsa Israel kuno.

Pada 1984, halaman gereja menyempit karena harus mengalah pada kepentingan pelebaran jalan.

Usianya sudah 300 tahun lebih, tetapi Gereja Sion masih kokoh berdiri.

Bangunan ini telah terbukti tahun guncangan gempa yang berkali-kali mengguncang Batavia.

Rahasia kekuatan bangunan gereja Sion terletak pada pondasinya.

Konon, ratusan kubik kayu pohon utuh berukuran besar disusun berdiri sebagai pondasi gereja ini.

Gereja Sion dulu dan kini.
info gambar

Lalu disela-sela barisan kayu tersebut diisi dengan pasir yang berfungsi sebagai peredam goncangan.

Sebagai rinciannya, gereja ini dibangun dengan pondasi 10.000 batang kayu dolken atau balok bundar.

Konstruksi gereja bangunan dipengaruhi arsitektur Romawi kuno dengan interior bergaya Baroqque berdasarkan rancangan Mr E. Ewout Verhagen dari Rotterdam.

Seluruh tembok bangunan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas.

Bangunan berbentuk persegi empat ini punya luas total 24 x 32 meter persegi.

Pada bagian belakang, dibangun bangunan tambahan berukuran 6 x 18 meter persegi.

Berdiri di tanah seluas 6.725 meter persegi, Gereja Sion mampu menampung 1.000 jemaat.

Gereja Sion sendiri terbagi dalam ruang ibadat, balkon, mimbar, dan kantor gereja.

Gereja ini merupakan gedung tertua di Jakarta yang masih dipakai untuk tujuan semula seperti saat awal didirikan.

Rumah ibadah ini masih memiliki sebagian besar perabot yang masih sama. Beberapa kali gereja pernah dipugar yakni pada 1920 dan sekali lagi pada 1978.

Lewat SK Gubernur No. 475 tahun 1993, Gereja Sion termasuk dalam Cagar Budaya DKI Jakarta yang dikelola Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Jemaat Sion.

---

Referensi: Sabda Bina Umat edisi September 2020 | Wieke Dwiharti, "Jakarta Panduan Wisata Tanpa Mal" | Adolf Heuken, "Gereja-Gereja Tua di Jakarta"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini