Tiga Bank Syariah Merger, Indonesia Bakal Jadi Pusat Keuangan Syariah Terbesar Dunia

Tiga Bank Syariah Merger, Indonesia Bakal Jadi Pusat Keuangan Syariah Terbesar Dunia
info gambar utama

Seperti yang sudah tertuang pada MoU atau Nota Kesepahaman (Conditional Merger Agreement/CMA) pada 13 Oktober 2020 lalu, jagat keuangan dan perbankan syariah syariah akan kedatangan pemain baru, yaitu Bank Amanah. Bank Amanah adalah bank hasil merger antara PT Bank BNI Syariah, PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM).

Dalam merger ini, Bank BRIS ditetapkan menjadi bank survivor atau entitas yng menerima penggabungan (surviving entitiy) dari merger tiga bank syariah pelat merah tersebut. Sedangkan pemegang saham BNI Syariah dan BSM akan menjadi pemegang saham entitas yang menerima penggabungan.

‘’Kementerian BUMN berencana gabungkan tiga bank syariah BRIS, BSM, dan BNIS tujuannya adalah agar Indonesia sebagai negara penduduk muslim terbesar dunia, (yang jumlah) 13 persen populasi muslim dunia adalah Indonesia. Jadi harapannya bisa ada bank syariah besar dan daya saing global nggak hanya domestic, tapi internasional,’’ ungkap Ketua Project Management Office (PMO), sekaligus Wakil Dikretur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Hery Gunardi, dikutip CNBC Indonesia.

Penggabungan bank syariah BUMN ini ditargetkan rampung pada Februari 2021 mendatang. Di tahap awal, total aset dari ketiga bank syariah ini diproyeksikan mencapai Rp225 triliun. Dan berpotensi mampu mencapai Rp390 triliun pada 2025 mendatang.

Impian Jadi Pusat Keuangan Syariah Terbesar Dunia Semakin Dekat

Indonesia Jadi Pusat Keuangan Syariah Terbesar Dunia
info gambar

‘’Indonesia harus bisa menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia,’’ begitu ungkap Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thoir saat menanggapi penggabungan tiga bank syariah pelat merah itu.

Untuk bisa mencapai ambisi tersebut, penandatangan CMA antara tiga bank syariah ini menjadi satu langkah awal yang dilakukan. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Erick sempat menyayangkan bahwa Indonesia masih tertinggal dari negara Islam lainnya.

Dengan proyeksi total nilai aset yang mampu mencapai Rp390 triliun di 2025 mendatang, tidak hanya di skala lokal, di skala global pun Bank Amanah akan mampu unjuk gigi. Pasalnya bank ini nantinya akan masuk jajaran 10 besar perbankan syariah breast terbesar di dunia dengan menduduki peringkat ke 10. Posisinya akan berada di atas Bank Rakyat asal Malaysia.

Berdasarkan data perbankan syariah yang dirilis oleh The Asian Banker yang dikutip oleh CNBC Indonesia, bank hasil merger ini diketahui akan memiliki total aset sebesar 26,44 miliar dolar AS. Jumlah yang lebih tinggi di atas Bank Rakyat asal Malaysia yang memiliki total aset 25,84 miliar dolar AS.

Jika nantinya bank hasil merger ini mampu menciptakan ekosistem syariah yang produktif, maka bukan tidak mungkin impian Bank Indonesia (BI) yang menargetkan Indonesia bisa menjadi pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di dunia pada 2024 dapat terwujud.

Ya, target itu pernah diungkapkan Perri Warjiyo pada tahun 2017 silam yang kala itu menjabat sebagai Deputi Gubernur BI di gelarang Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2017 di Surabaya.

Kala itu, target itu dinilai masih cukup berat pasalnya sebelum ada ekosistem yang mendukung di sektor keuangan—yaitu bank syariah—Indonesia juga masih harus mendorong ekonomi berbasis syariah di sektor riil. Karena jika industri berbasis syariah maju, maka permintaan kebutuhan pembiayaan syariah dengan sendirinya akan meningkat.

Kini setelah di sektor keuangan sudah ada kemajuan, maka Indonesia perlu menggali lagi pemain unggulan di industri produk dan jasa halal di tingkat global, baik untuk makanan, pakaian, dan pariwisata.

Syarat yang Dipaparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Merger Bank Syariah Indonesia
info gambar

Potensi Indonesia jadi pusat keuangan dan ekonomi syariah juga dirasa oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso. Populasi masyarakat muslim terbesar dunia dan sudah mulai banyak produk-produk berbasis syariah yang bertebaran adalah modal awal yang sangat besar.

Meski sudah dimulai di sektor keuangan, Wimboh menambahkan, hal ini tidak boleh berhenti sampai disitu.

‘’Harus ada ekosistem lain. Bagaimana nasabahnya dari segi demand. Bagaimana aktivitas ekonominya, supporting informasi, dan lembaga pendukung lain,’’ ungkapnya dikutip Liputan6.com (17/9/2020).

Wimboh tak menafikan bahwa Indonesia sebernya sudah punya ekosistem syariah yang cukup lengkap, hanya saja kurang diberdayakan. Seperti masjid, pesantren, lembaga keuangan, amil zakat, hingga market place syariah.

Selain itu hal yang patut dilihat juga pengadaan sistem kredit dalam bisnis asuransi syariah yang masih minim permintaan. Padahal Indonesia sudah memiliki 14 bank umum syariah—yang tiga diantaranya akan merger—, lalu ada 20 unit usaha syariah, hingga 162 Bank Prekreditan Rakyat (BPR) syariah.

Jadi tantangan selanjutnya adalah mendorong permintaan itu dengan mengandalkan populasi muslim yang sangat besar. Kalau sudah produktif dan berjalan dengan baik, Indonesia bukan lagi menjadi salah satu pusat keuangan dan ekonomi syariah terbesar di dunia, melainnya berpotensi kuat menjadi hub keuangan syariah dunia.

Mantap!

--

Sumber: CNBC Indonesia | Liputan6.com | CNN Indonesia | Kompas.com

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini