Alkisah "Emas Hitam" Sawahlunto dan Kisah Orang Rantai

Alkisah "Emas Hitam" Sawahlunto dan Kisah Orang Rantai
info gambar utama

Kawan GNFI, tak dimungkiri alam semesta kita memang misterius sekaligus terus berubah. Seperti halnya tanah air tempat kita berpijak saat ini. Ia adalah hasil dari pergerakan benda-benda alam selama jutaan bahkan miliaran tahun yang lalu.

Bermula dari tumbukan lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Siapa sangka? Pergerakan tiga lempeng utama dunia tersebut menandai terbentuknya cekungan-cekungan sedimen di Indonesia. Dalam ranah Ilmu Geologi, cekungan itu berpotensi menghasilkan sumber daya alam (SDA) salah satunya batu bara si "Emas Hitam" dari perut bumi.

Menjadi berkah bagi masyarakat di Pulau Sumatera, sebab daerahnya terpantau punya banyak cekungan yang bisa dijadikan nilai jual atau komoditi. Namun sayangnya, sejarahnya dulu, kekayaan alam berupa endapan batu bara di bumi pertiwi tidak dinikmati sepenuhnya oleh pribumi.

Ya, maklum saja, kita belum merdeka. Sehingga, harta karun dalam negeri dikuasi oleh negara penjajah.

Seperti Belanda, eksploitasi gencar dilangsungkannya di wilayah koloni, sebutlah di Kota Sawahlunto yang terletak di Provinsi Sumatera Barat. Bagi Belanda, keadaan alam Sawahlunto menjadi tantangan dalam proses pengangkutan "Emas Hitam", sebab kondisi geografisnya dikelilingi oleh pergunungan Bukit Barisan.

Tak hanya itu, jauh sebelum kendala pengangkutan tambang batu bara mencuat. Tepatnya pada pertengahan abad ke 19, saat para geolog Belanda pertama kali menginjakkan kaki di Sawahlunto, mereka sudah dihadapkan dengan kondisi daerah penelitian tambang yang terpencil dan berada di tengah-tengah hutan belantara nan luas.

Walaupun begitu, keadaan alam tersebut tidak menghalangi kolonial untuk tetap membidik Sawahlunto.

Potret kini Kota Sawahlunto dikelilingi pergunungan Bukit Barisan.Sumber: id.wikipedia.org
info gambar

Potret dahulu Kota Sawahlunto di tengah-tengah hutan belantara.Sumber: Tangkapan layar lembar Webinar Balai Diklat Tambang Bawah Tanah(08/05/2020)
info gambar

Penemuan "Emas Hitam" Sawahlunto

Adanya Revolusi Industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap di Eropa pada abad ke 18. Maka, penggunaan batu bara sebagai bahan bakar kapal, kereta, dan lainnya mengalami peningkatan drastis. Begitu gentingnya batu tersebut untuk menggerakkan moda transportasi, nilai batu bara bagi Belanda sangat berharga bahkan menyamai emas. Oleh karena itu, untuk mengurangi impor bahan bakar tersebut. Kerajaan Belanda melakukan berbagai ekspedisi di wilayah koloni. Pengerukan batu bara di Bumi Sawahlunto menjadi salah satu sasaran empuknya.

Awal mula penelitian untuk mencari endapan batu bara di Sawahlunto dilakukan pada 1858 oleh seorang ahli tambang Belanda bernama Ir. C. De Groot. Selang beberapa waktu berlalu, barulah pada 1868 berkat catatan Geognostische yang dibuat oleh seorang geolog Belanda bernama W.H. de Greve, lapisan batu bara di Ulu Air tepi Sungai Ombilin diketahui.

Sumber: duniatambang.co.id
info gambar

Berdasarkan laporan lebih lanjut dari geolog Belanda bernama W. Holleman, ditemukan ada tiga lapisan endapan batu bara di Kota Sawahlunto, yakni

  • Lapisan A yang terletak di bagian pemukaan tanah sampai kedalaman 0,80 meter, dengan kualitas batu bara rendah dan jumlahnya yang sedikit.
  • Lapisan B yang berada di kedalaman antara 0,80 meter sampai 8 meter, dengan kualitas batu bara menengah dan jumlahnya yang sedang.
  • Lapisan C yang terletak di kedalaman lebih dari 8 meter, dengan kualitas batu bara paling tinggi dan terbanyak.

Sontak saja, sejak penemuan tersebut daerah Sawahlunto menjadi perbincangan di Batavia. Mulailah pemerintah Hindia Belanda membuka tambang batu bara secara resmi pada 1892, tak ketinggalan pihaknya juga merencanakan pembangunan sarana dan prasarana, guna memudahkan eksploitasi batu bara nantinya di Sawahlunto.

Tahap demi tahap, pembuatan jalur rel kereta api dari Padang ke Sawahlunto pun dilangsungkan. Pembangunan alat penghubung daerah tersebut, akhirnya baru rapung pada 13 Juli 1895.

Dalam rentangan waktu pembuatan rel, tak lupa juga secara bersamaan pihak Belanda menugaskan para buruh, untuk mendirikan tempat pemberhentian terakhir “emas hitam” Sawahlunto atau pelabuhan Emmahaven yang kita kenal saat ini dengan sebutan pelabuhan Teluk Bayur.

Sungguhpun demikian, pembangunan memakan biaya yang besar. Pengeluaran terbanyak ada di penyediaan kereta api dan pembuatan jalannya. Disamping biaya ongkos produksi saran dan prasarana, Belanda juga membutuhkan tenaga buruh untuk mengerjakan tambang batu bara ombilin.

Proses perekrutan buruh sendiri sudah dimulai semenjak tambang batu bara dibuka. Berbagai cara dilakukan oleh pihak Belanda untuk mendatangkan para buruh.

Mulai dari pola mempekerjakan buruh secara kontrak dari Singapura dan Cina, mempekerjakan penduduk sekitarnya sebagai buruh bebas atau harian, sampai orang-orang penjara pun siap diturunkan, yang di kemudian hari kita bisa kenal para tahanan tersebut dengan sebutan orang rantai.

Orang Rantai di Mata Kolonial

Lubang tambang Mbah Suro menjadi saksi bisu kisah pilunya buruh paksa di Sawahlunto. Ketidakadilan kolonial pada buruh paksa tak lain karena alasan status mereka adalah para tahanan.

Mulai dari status tahanan politik karena membangkang kepada pemerintah Belanda sampai narapidana seperti pembunuh dan perampok. Mereka memang sengaja didatangkan oleh petinggi Belanda dari Pulau Jawa ke Sawahlunto untuk dimanfaatkan tenaganya menggali lubang tambang.

Gemerincing suara rantai yang dikenakan menjadi identitas yang melekat pada mereka. Orang rantai julukannya sampai sekarang, yang mana pada klaster buruh, mereka bernasib sangat menyedihkan dibandingkan dengan buruh kontrak dan bebas.

Mulai dari upah atau imbalan yang tidak setimpal dengan tenaga yang mereka kucurkan sampai perlakuan sewenang-wenang pasukan bersenjata kepada mereka. Dengan kaki dirantai dan dikawal, mereka digiring untuk menggali batu bara pada lubang-lubang penggalian.

Sumber: Buku
info gambar

Anggapan para tahanan mendapat keringanan setelah dipindahkan ke Pulau Sumatera menjadi buruh. Namun, kenyataan yang diterima malah sebaliknya. Sehingga, akhirnya banyak dari mereka yang melarikan diri.

Maka, untuk mengantisipasi kejadian serupa, pihak kolonial pun menempatkan buruh paksa tinggal pada penjara di Sawahlunto. Penjara itu dikelilingi oleh tembok dengan ketinggian tiga meter. Pada areal penjara dibuat lubang penggalian batu bara. Lubang didesain terputus dengan lubang-lubang yang bisa menghubungkan mereka dengan dunia luar.

Akses masuk lubang penggalian batu bara di dalam penjara.Sumber: Tangkapan layar kanal Youtube Ardi Saputra berjudul
info gambar

Keterisolasian yang dialami dan segala bentuk ketidakadilan pada akhirnya membekas secara mental bagi para napi. Bekasnya itu sampai sekarang masih terasa lewat benda-benda peninggalan di sana. Sejumlah benda peninggalan bisa dilihat dari bangunan tua yang menjadi Museum Goendang Ransoem, Museum Kereta Api, Museum Tambang Batubara Ombilin: Pusat Dokumentasi dan Arsip PT BA-UPO, serta tak ketinggalan Museum Situs Lobang 'Mbah Soero' dan Info Box: Galeri Tambang Batubara.

Itulah Kawan GNFI beberapa wujud peninggalan sejarah yang perlu kita lestarikan saat ini dan agar setiap garis cerita Kota Sawahlunto yang sudah terlewati lebih diketahui oleh orang banyak. Maka, persiapan demi persiapan kemudian dilakukan oleh pemerintah Sawahlunto. Mimpi membawa "Kota Arang" ini menuju kota Warisan Cagar Budaya Dunia, akhirnya terwujud.

Tambang Batu Bara Ombilin, Sawahlunto, Sumatera Barat, resmi terpilih sebagai warisan dunia versi UNESCO pada 6 Juli 2019 lalu. Ombilin menjadi situs warisan dunia di Indonesia ke-5 setelah Candi Borobudur dan Prambanan (1991), situs sejarah manusia purba Sangiran di Sragen (1996), dan sistem irigasi persawahan Subak di Bali (2012).

---

Referensi: Andi Asoka, Wannofri Samry, Zaiyardam Zubir, Zulqayyim, "Sawahlunto Dulu, Kini, dan Esok Menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya" | Sri Pujianti, "Perjuangan Kaum Buruh Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto:Dari Persatoean Kaoem Boeroeh Tambang (PKBT) Hingga Vereeniging Boemipoetra Staatsspoor, Tramwegen, Ombilinmijnen En Landsautomobieldiensten Op Sumatra (VBSTOL) 1925-1934 | Geomagz Vol. 2 No. 2, Juni 2012 | Tirto.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini