Nostalgia Permainan Masa Kecil dan Memaknai Kalimat Ajaib ‘’Hom Pim Pah’’

Nostalgia Permainan Masa Kecil dan Memaknai Kalimat Ajaib ‘’Hom Pim Pah’’
info gambar utama

Saat hendak membereskan salah satu sudut ruangan di rumah, saya menemukan barang menarik yang seketika membuat saya mengenang masa kecil. Barang ini cukup berat, terbuat dari semen yang sudah dicat berwarna biru terang dengan ornamen-ornamen yang menghiasi.

Panjangnya sekitar 60-70 cm dan terdapat 16 lekukan lingkaran setengah bola dipermukaannya. Dua lekukan dengan diameter lebih besar terdapat di ujung kanan dan ujung kiri permukaan. Nantinya dua lekukan ini menjadi "gunung". Sedangkan 14 lekukan yang lebih kecil lainnya akan dibagi menjadi dua wilayah. Tujuh lekukan adalah daerah wilayah saya dan tujuh lekukan lainnya adalah daerah wilayah lawan.

Setiap lekukan yang kecil nantinya harus diisi oleh tujuh biji kuwuk, sebuah cangkang kerang bekas berwarna putih—kadang juga ditemukan warna hitam kecoklatan—dengan permukaan yang mengilap. Ketika permainan sudah dimulai, maka saya dan lawan harus mengisikan setiap biji kuwuk itu ke lekukan lainnya secara satu persatu.

Jika biji terakhir berakhir di lahan kosong, maka giliran saya bermain akan berhenti. Saya hanya boleh bermain setelah lawan juga mengakhiri biji terakhirnya di dalam lekukan yang kosong.

Mainan Congklak
info gambar

Itulah permainan congklak. Begitu orang Sunda menyebut nama mainan itu. Di Jawa permainan tradisional ini lebih dikenal dengan nama dakon,dhakon atau dhakonan. Di Sulawesi, jenis permainan ini disebut sebaga maggaleceng.

Ada pula yang menyebutnya dengan istilah nogarata atau makaotan atau aggalacang. Sedangkan di Sumatera, permainan ini dikenal dengan congkak, nama yang hampir mirip disebut di tanah Sunda. Di tanah Betawi, beberapa juga ada yang menyebutnya dengan mainan punggah.

Kalau bukan karena harus membereskan rumah, bisa jadi saya lupa kalau saya pernah memiliki mainan sederhana ini. Mainan yang kalau saya kembali memainkannya seolah kembali mengingatkan saya pada masa-masa kecil saya.

Saya masih ingat rasa kecewa melanda ketika "gunung" saya hanya mampu mendapatkan jumlah biji kuwuk yang sedikit dibandingkan "gunung" lawan. Dasar memang anak kecil, iri kepada lawan—yang merupakan adik saya sendiri—sering membuat saya kesal karena saya merasa kalah. Saya selalu minta mengulang permainan dengan adik saya sampai saya mendapatkan kemenangan itu.

Rasanya rindu sekali dengan permainan dan mainan yang pernah dulu dimainkan. Bukan lagi hanya rindu memainkan, tapi merindukan juga pemandangan anak kecil yang asik bermain permainan dan mainan yang pernah kita mainkan dulu.

--

Pagi itu, Senin (12/10) suhu Kota Bandung sedang tidak terlalu dingin. Pukul 07.15 WIB saya melihat widget pada telepon genggam saya yang menunjukkan suhu sudah cukup tinggi di angka 22 derajat Celsius. Biasanya, kalau sudah sejak pagi suhu tinggi maka akan semakin tinggi seiring dengan tingginya matahari. Atau bisa saja cuaca berubah tidak sesuai perkiraan. Sore nanti bisa saja turun hujan deras.

Bandung sedang tidak bisa ditebak.

Saya segera bergegas. Mobil sudah saya panaskan 15 menit yang lalu. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum pertemuan yang sudah dijanjikan sejak minggu lalu. Hari ini saya bersama Iip M. Aditya bersiap akan mengulang kenangan masa lalu—membuka kembali momen-momen menyenangkan masa kecil.

Saya akan nostalgia pergi ke Museum Permainan Tradisional Indonesia dan bermain bersama di Pakarangan Ulin Komunitas Hong. Dalam Bahasa Indonesia, pakarangan ulin artinya pekarangan bermain atau tempat bermain.

Kalau mengacu pada map digital, menuju ke sana butuh waktu kurang lebih 50 menit untuk menempuh jarak sejauh 16 kilometer. Sengaja kami memilih untuk pergi lebih pagi mengingat hari itu adalah hari Senin, hari kerja pertama yang kemacetannya bisa tidak terprediksi. Saya sendiri tidak mau terlambat dan menyia-nyiakan waktu.

Beruntung, selama di perjalanan kami tidak dihadapkan dengan kemacetan yang berarti. Sampai kami terheran. Biasanya wilayah Cicaheum kondisi kendaraan yang mengantre panjang sudah menjadi pemandangan hal biasa, tapi tidak untuk hari itu.

"Sekarang Cicaheum sudah nggak pernah macet semenjak PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)," kata Adit.

Mungkin orang-orang sudah terbiasa dengan kerja dari rumah, gumam saya.

Kisah Pendiri Komunitas Hong dan Museum Permainan Tradisional Indonesia

Zaini Alif, Penemu Komunitas Hong
info gambar

Sepanjang perjalanan, saya masih menyayangkan kalau kami—redaksi GNFI—belum berkesempatan untuk bertemu secara langsung dengan sosok yang gigih melestarikan permainan dan mainan tradisional Indonesia ini. Meski begitu, saya berusaha untuk mengenal sosok beliau melalui artikel-artikel media dan beberapa presentasi yang ternyata banyak menyorot sosok ini.

Namanya Mohamad Zaini Alif, sosok yang dijuluki sebagai "doktor" permainan tradisional. Belakangan kami baru mengetahui bahwa hanya Zaini seorang yang mendapatkan gelar doktor dari hasil penelitian tentang permainan tradisional di Indonesia. Gelar doktor ini Zaini dapat dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejak lulus dari S1, Zaini kerap mendeklarasikan dirinya sebagai Sarjana Permainan Tradisional, meski ia mengambil jurusan desain produk. Ini karena ketertarikannya kepada permainan tradisional. Permainan yang sering ia mainkan saat kecil dulu di kampung halamannya di Kampung Bolang, Subang, Jawa Barat.

Ketertarikannya terhadap permainan tradisional pun ia teruskan hingga ke pendidikan pendidikan S2 untuk mencari perubahan dan perkembangan permainan tradisional di Indonesia. Hasil temuannya di S2, ia lanjutkan ke pendidikan S3.

Hingga akhirnya ia pun mendapat gelar doktor permainan tradisional dan sampai saat ini Zaini diketahui berprofesi menjadi salah satu dosen di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Pada 2018, CNN Indonesia pernah mewawancarai Zaini di tengah-tengah kesibukannya mengajar di kampus ISBI Bandung. Kisah Zaini dan Komunitas Hong bermula dari niatnya memperkenalkan permainan tradisional pada anak-anak tahun 2001 silam. Namun jauh dari situ, dia sudah ada minat untuk meneliti permainan tradisional Indonesia sejak 1996.

Kala itu, ia memulai dari lingkup kecil di depan pekarangan rumahnya di Dago Pakar. Kesempatan pertama, lima orang anak diajak bermain permainan tradisional oleh Zaini. "Lalu makin hari makin bertambah. Ibu-ibunya pun berterima kasih karena anaknya jadi tidak terbawa gim komputer yang bisa menghabiskan uang sepuluh sampai dua puluh ribu [rupiah]," ungkap Zaini.

Lambat laun permintaan untuk bermain bersama itu semakin sering dengan jumlah anak yang semakin banyak, terutama sekolah-sekolah. Sehingga Zaini pun merasa bahwa sudah saatnya ia membutuhkan tempat yang luas agar bisa menampung banyak anak yang ingin bermain.

Mengapa disebut dengan Komunitas Hong?

Hong sendiri diambil dari kata-kata ajaib yang kerap anak-anak ungkapkan saat bermain, hom pim pah alaihom gambreng! "Kalau orang meneliti tentang pesawat, saya meneliti [arti] dari hom pim pah,’’ ungkap Zaini yang membuat para penonton Tedx Jakarta tergelak di Cilandak, Jakarta, Desember 2011 silam.

Setelah meneliti kata-kata ajaib itu, akhirnya Zaini menemukan bahwa "hom" menunjukkan Tuhan. "Hom-whom-ho-hu-huwa-Tuhan. Hom pim pah alaihom artinya dari Tuhan balik lagi ke Tuhan," ungkapnya.

Di situlah makna mengapa anak-anak selalu membulak-balikkan tangannya saat mengucapkan kata-kata ajaib ini. Bukan hanya sekadar kata-kata ajaib, Komunitas Hong menyebutnya ini sebagai doa anak-anak sebelum bermain. Jika sudah berdoa, maka sudah waktunya untuk bermain.

"Kalau 'gambreng' itu mengingatkan, 'Hey, kamu semua bahwa kamu akan balik lagi ke Tuhan.' Selesai semua, berpasrahlah kamu. Makanya anak-anak kalau bermain hom pim pah selalu berpasrah," ungkapnya lagi yang membuat para penonton tergelak. "Kita juga begitu. Berpasrah saja. Kita nggak tahu kalah atau menangnya. Kalau kalah juga tetap tersenyum."

Seiring berjalannya waktu, rupanya yang tertarik bermain bersama Komunitas Hong tidak hanya anak-anak saja. Orang dewasa pun ternyata kerap meminta untuk bermain bersama. Salah satunya Fatiya Nurhadi Nasyiah (21), mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia bersama teman-teman seangkatannya pernah datang dan bermain bersama Komunitas Hong.

"Waktu itu dosen aku yang ngajak ke sana. Dibayarin kampus. Gara-garanya, nggak ada satu orang pun yang mendapat nilai bagus pada mata kuliah Si Bapak," ungkap Fatiya.

Fatiya mengisahkan bahwa Sang Dosen yang tidak disebutkan namanya itu merasa prihatin dengan keadaan mahasiswanya, karena tidak ada satu orang pun yang mampu melewati batas minimal nilai mata kuliah yang diajarkannya. "'Mungkin kalian butuh refreshing, kurang main, makanya Bapak ajak ke sini.' Gitu cuenah kata Si Bapak," kenang Fatiya.

Dan secara mengejutkan, upaya Sang Dosen berhasil. Pada tes kompetensi selanjutnya, keadaan berbalik. Tidak ada satu orang pun yang tidak lulus mata kuliah Sang Dosen. Usaha Sang Dosen berhasil. "Ya lumayan seru. Mainin lagi permainan-permainan waktu masih bocah," ujar Fatiya.

Museum Permainan Tradisional Indonesia, Museum Terbesar Sekaligus Terkecil di Indonesia

Museum Permainan Tradisional Indonesia
info gambar

Akses menuju tempat ini sebenarnya cukup mudah. Hanya saja harus hati-hati karena bisa saja kami melewati tempat ini tanpa sadar. Adit yang sudah mengunjungi tempat ini lebih dulu mengatakan bahwa patokannya adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Lokasinya tak jauh dari situ, sekitar 400 meter.

"Pelan-pelan ya. Tempatnya kecil. Nggak ada tandanya. Nggak ada tempat parkir mobil juga," ungkap Adit.

Benar saja. Selama ini ternyata para tamu yang akan bermain dengan Komunitas Hong hanya mengandalkan lahan bebas di pinggir jalan depan pekarangan rumah. Tampak depan, bangunan rumah ini hanya rumah biasa tidak ada yang spesial meski ada penanda sebuah papan berwarna merah dan hitam yang bertuliskan Pakarangan Ulin Komunitas Hong.

Adit mengarahkan agar saya untuk terus berjalan lagi 25 meter lebih dalam melewati kandang kambing dan ayam untuk menemukan lokasi Komunitas Hong dan Museum Permainan Tradisional Indonesia yang sebenarnya.

"Kang Adit dan Teh Dini dari GNFI?" seseorang menyapa ramah kami begitu kami masuk ke area pekarangan yang sebagian dikelilingi pohon bambu itu, "Selamat datang di Komunitas Hong."

Kami memanggilnya dengan Kang Cecep, dia yang akan memandu kami selama satu setengah jam menyusuri museum dan bermain beberapa permainan-mainan tradisional nantinya.

"Masih ada 30 menit. Punten, kami masih siap-siap."

Kami memang datang terlalu cepat dari perjanjian. Terlihat beberapa petugas yang termasuk dalam Komunitas Hong itu masih mempersiapkan dan merapihkan area pekarangan. Terlihat ada yang menyapu ruangan museum, ada pula yang sedang menyiram tanaman.

Maklum, setelah enam bulan tutup akibat PSBB, nampak beberapa sudut pekarangan ini harus dirapikan. Dan rupanya kami adalah pengunjung pertama yang datang setelah sekian lama Komunitas Hong tidak menerima pengunjung.

Pekarangan ini tidak seberapa luas. Di ujung pekarangan adalah amfiteater sebagai area utama tempat bermain dengan daya tampung bisa mencapai kira-kira 50 orang. Namun karena kondisi pandemi belum usai, Kang Cecep mengungkap bahwa kini mereka hanya akan menerima pengunjung maksimal 30 orang.

Museum Permainan Tradisional Indonesia
info gambar

Yang paling mengejutkan adalah museumnya. Luas ruangan museum ini hanya berukuran 4x8 meter saja. Padahal Zaini pernah mengungkapkan bahwa pada 2011, saat melakukan presentasi pada acara Tedx Jakarta, ia telah menemukan sedikitnya 250 jenis permainan dan mainan tradisional dari tanah Sunda, 212 jenis permainan dan mainan tradisional dari tahah Jawa, 50 jenis permainan dan mainan tradisional dari Lampung, 300 jenis dari berbagai provinsi di Indonesia, serta 300 mainan tradisional yang ia kumpulkan dari 10 negara di dunia.

"Hingga kini total ada 2.500 jenis permainan dan mainan tradisional yang terkumpul di sini," ungkap Kang Cecep.

Meski begitu, ternyata tidak semua mainan ada di ruangan berukuran 4x8 meter itu. Di depan museum itu ada bangunan menyerupai rumah panggung yang sisi kanan dan kirinya bertengger lumbung padi yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan peralatan yang dibutuhkan untuk bermain dengan para pengunjung.

Nostalgia Dimulai!

Permainan Babalonan Sarung
info gambar

Setelah mengunjungi museum, Kang Cecep mengarahkan kami ke amfiteater. Permainan akan segera dimulai.

"Mari berdoa dulu ya. Berdoa versi anak kecil, yaitu hom pim pah terlebih dahulu. Doa anak-anak ketika bermain. Mereka berpasrah diri kepada Sang pencipta," seru Kang Cecep.

"HOM PIM PAH ALAIHOM GAMBRENG!"

Ya, kata-kata ajaib itu memang diterapkan seperti yang Zaini jelaskan di setiap kesempatan presentasi dan liputan media. Ia mengatakan butuh waktu sedikitnya dua dekade untuk memahami dan menghayati kata-kata ajaib itu. "Dulu, yang saya tahu mantra itu hanya dijadikan sebagai penentu siapa yang harus jaga menutup mata dan bertugas menemukan anak lainnya yang bersembunyi." papar Zaini.

Selama satu setengah jam, sedikitnya ada 10 jenis permainan yang kami mainkan dengan dipandu Kang Cecep. Dimulai dari Salam Sabrang, Sur Serk, Babalonan Sarung, Parahu Layar, Papancakan, Banbanan, Bedil Jepret, Gasing, Balap Jajar, Bola Lima, Papancakan, sampai Catur Teuku Umar.

Meski sudah dewasa, ternyata masih menyenangkan bermain permainan anak ini. Contohnya permainan Sur Serk yang cukup menantang.

Ini adalah permainan keseimbangan otak. Cara bermainnya tangan kanan mengepal dan melakukan gerakan memukul ke paha. Sedangkan tangan kiri diletakkan di atas paha dan melakukan gerakan menggeser. Diiringi dengan lagu Sur Serk, keduanya harus digerakkan secara bersamaan dan bergantian posisi tangan.

Sur ser sur ser…

Angeun aing acan asak…

Disuluhan ku kaliki…

Kaliki beunang meulahan…

Meulahan ku peso raut…

Dug dug dug bro sambel laja…

Sambil bernyanyi, saya melihat Adit kesulitan melakukan gerakannya. Tak sadar tangan yang mengepal malah ikut bergeser. Saya, Kang Cecep, dan pembimbing lainnya sontak tertawa.

Ada pula permainan Papancakan. Mudahnya, bisa disebut permainan bowling ala Nusantara. Alat permainannya sangat sederhana yaitu memanfaatkan tumpukan batu dan bola yang terbuat dari rotan. Tapi siapa sangka, permainan ini membutuhkan fokus yang tinggi.

Permainan Papancakan
info gambar

Lalu ada Bedil Jepret atau mudahnya bisa disebut paint ball ala tradisional. Teknik bermainnya sama, yaitu menembak sasaran. Alat tembaknya dibuat sederhana dari bambu dan amunisinya menggunakan leunca, sayuran yang kerap menjadi bahan lalapan orang Sunda. Kalau dalam bahasa Jawa leunca dikenal dengan sebutan ranti. Kalau dalam bahasa Maluku disebut bobosa.

Di akhir sesi bermain, permainan paling terakhir ini yang membuat saya tertarik. Nama mainannya adalah Catur Teuku Umar. Kang Cecep bilang, permainan ini justru lebih dikenal di Belanda.

"Permainan ini berasal dari Aceh yang mengisahkan bagaimana Belanda zaman dulu menghasut warga-warga bahwa Teuku Umar itu Jahat, karena saking Belanda sulit menangkap Teuku Umar. Mereka menyebutnya [permainan ini] Teuku Umar Spell," tutur Kang Cecep.

Diungkap Cecep, Zaini sempat terkejut ketika mengetahui ternyata permainan ini sangat dikenal oleh masyarakat Belanda. Bahkan mereka tidak tahu bahwa Teuku Umar adalah sosok pahlawan Indonesia. Dalam permainan ini terdapat banyak bilah kuning yang diibaratkan sebagai tentara dan satu bilah biru yang diibaratkan sebagai Teuku Umar.

Cara memainkannya, pergerakan bilah kuning harus memojokkan bilah biru. Tetapi bilah biru memiliki kemampuan untuk memakan bilah kuning saat bergerak. Jika bilah kuning sudah habis termakan bilah biru, maka bilah biru memenangkan permainan.

Zaini pernah menjelaskan, "Saya melakukan penyuluhan ke berbagai tempat bahwa mainan itu penting. Mainan adalah sebagai konsep dasar hidup di dunia. Bermain adalah belajar. Mainan itu sangat serius dan tidak main-main. Di mainan tradisional kita belajar. Semua konsep kehidupan ada di sini.’’

--

Satu setengah jam ternyata tidak terasa sudah terlewat. Energi rasanya terkuras. Di area amfiteater, energi fisik kami yang terkuras karena banyak permainan yang menggunakan gerakan tubuh. Untung saja cuaca Bandung kini sedang berangin jadi masih terasa sejuk.

Di meja, energi kami terkuras karena harus berpikir saat bermain Catur Teuku Umar untuk membuat Teuku Umar yang digambarkan oleh bilah biru itu tidak terpojokkan.

Kang Cecep bilang bahwa bermain permainan tradisional pada intinya mengandung tiga konsep, "Mengenal diri, mengenal alam, dan mengenal Tuhan."

--

Sumber: Tedx Jakarta 2011 | CNN Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini