Ternyata Budaya Berdandan Orang Nusantara Sudah Terbentuk 30.000 Tahun Lalu

Ternyata Budaya Berdandan Orang Nusantara Sudah Terbentuk 30.000 Tahun Lalu
info gambar utama

Siapa sangka ternyata jejak seni manusia Nusantara justru pertama kali diketahui dari cara mereka bersolek atau berdandan atau mempercantik diri. Hal ini ditemukan oleh tim arkeolog gabungan Indonesia dan Australia yang pada 2017 silam menemukan liontin-liontin purba yang diduga digunakan oleh manusia purba di Nusantara.

Temuan yang telah dipublikasikan pada jurnal internasional Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) dengan judul Early Human Symbolic Behaviour in the Late Plestocene of Wallacea pada 3 April 2017 silam itu dinilai sangat penting. Pasalnya temuan itu memberikan gambaran tentang penyebaran manusia dan kebudayaan di wilayah Wallacea—yang mencakup Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua—dan Australia.

Awalnya tim arkeolog itu ingin mengetahui tentang manusia pertama penghuni pulau tersebut serta keterikatan spiritual antara manusia dan hewan pada masyarakat Aborigin yang mungkin juga berakar dari manusia di Sulawesi. Hasilnya, justru tim menemukan hal menarik yang tak kalah bernilai penting.

Mereka menemukan bahwa jejak kecerdasan manusia Nusantara masa lalu dapat dilihat dari temuan liontin-liontin purba. Pada masanya, manusia Nusantara mampu menyulap tulang-tulang hewan menjadi liontin dan digantungkan pada leher dengan tali yang terbuat dari bahan kulit kayu.

Fakta menariknya, manusia Nusantar disimpulkan sudah pandai membuat perhiasan sejak 30.000 tahun lalu alias sejak bumi masih mengalami zaman es.

Jejak kecerdasan manusia Nusantara bersama liontin-liontin purba ini ditemukan di Leang Bulu Bettue, kawasan karst Maros, Sulawesi Selatan. Mereka menemukan tulang jari kuskus yang sudah dilubangi sekitar 1 milimeter serta taring babi rusa dan kuku elang yang diubah menjadi perhiasan.

Taring babi rusa itu kemungkinan dipotong menggunakan batu yang keras seperti batu gamping dan dijadikan manik-manik kalung.

Liontin Purba
info gambar

‘’Tulang hewan tersebut bisa dikatakan (sebagai) perhiasan tertua di Nusantara,’’ ungkap Shinatria Adhityatamma, peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional dikutip Kompas.com (5/4/2017). Itu artinya temuan tersebut punya arti penting bagi sejarah Nusantara.

Lebih lanjut Shinatria juga mengungkapkan bahwa penemuan liontin dari tulang hewan itu membuktikan bahwa setidaknya manusia purba yang tinggal di gua-gua Sulawesi saat itu sudah punya daya seni tinggi. Terutama soal tradisi bersolek.

‘’Tradisi bersolek itu malah mungkin lebih tua dari tradisi membuat lukisan gua,’’ lanjut Shinatria yang juga terlibat dalam riset.

Usia liontin purba itu diperkirakan sama dengan usia lukisan telapak tangan yang sebelumnya lebih awal ditemukan di Gua Leang, Timpusen, Kabupaten Maros. Usianya diperkirakan sekitar 39.900 tahun silam. Meski masih dalam proses penelitian, namun penemuan keduanya diduga sangat berkaitan.

Penemuan liontin purba yang diketahui sudah memiliki lubang kecil sebagai gantungan kalung tersebut, merupakan hal yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Terutama bidang arkeologi. Pasalnya penemuan liontin purba itu memunculkan hipotesis baru.

‘’Pada zaman itu manusia sudah memiliki alat untuk membuat lubang pada tulang kuskus. Alat itu juga belum kita ketahui apa,’’ ungkap Iwan Sumantri, arkeolog Universitas Hasanuddin, dikutip Liputan6.com (24/8/2017) yang juga turut terlibat dalam penemuan liontin purba itu.

Jika dikaitkan dengan riset awal bagaimana migrasi manusia dari Asia Timur ke Australia, maka penemuan ini bisa jadi dugaan awal bahwa jalur para manusia itu telah melewati Nusantara, terutama melewati Sulawesi. Namun hingga sekarang belum pernah ditemukan satu pun fosil manusia di Sulawesi. Yang ada hanya jejak peradabannya.

Mengapa manusia prasejarah sudah mengetahui fungsi perhiasan?

Cecep Eka Permana, pakar arkeologi prasejarah dari Universitas Indonesia kepada Tempo (11/4/207) pernah menjelaskan bahwa fungsi perhiasan pada masa itu adalah tak jauh sebagai simbol dan status sosial.

‘’Sama seperti sekarang, pada masa itu hanya individu-individu tertentu yang punya keahlian,’’ kata Cecep.

‘’Dari bukti yang ada sekarang, kita bisa memproklamasikan bahwa sejarah peradaban Nusantara sama atau bahkan lebih tua dari yang ada di Eropa,’’ ungkapnya lagi.

Hal menarik selanjutnya yang harus terungkap adalah menemukan fosil manusianya. Sebab Cecep melihat bahwa cara berpikir manusia purba di Sulawesi sudah cukup kompleks dengan menciptakan perhiasan sendiri. Bahkan dia mencurigai bahwa mungkin saja terdapat pemakaman manusia purba di sekitar Leang.

Pasalnya, dengan pemikiran yang cerdas dan kompleks seperti itu, bukan tidak mungkin manusia purba di Sulawesi memiliki ide mengenai penguburan jasad dan upacaranya. Terbukti hingga artikel ini GNFI tulis belum ada kabar terbaru mengenai penemuan manusia purba Si Pencinta Dandan itu di Sulawesi.

--

Sumber: Koran Tempo | Kompas.com | Liputan6.com

--

Baca Juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini