Dalam Setahun, Pelanggan Listrik Tenaga Surya Atap RI Naik 221%

Dalam Setahun, Pelanggan Listrik Tenaga Surya Atap RI Naik 221%
info gambar utama

Kabar baik tentang Indonesia kembali datang dari sektor energi terbarukan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan data mengenai perkembangan angka warga Indonesia yang telah memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap melalui diskusi virtual yang disampaikan oleh Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Harris, 16 September lalu. Hasilnya, hingga Juni 2020 tercatat sudah ada 2.346 pelanggan yang telah memakai PLTS Atap.

Angka ini sangat meningkat tajam dibanding satu tahun sebelumnya (Juni 2019) yaitu 1.059 pelanggan, mengutip dari Katadata. Melalui penghitungan sederhana, maka dapat disimpulkan bahwa pelanggan PLTS Atap di Indonesia telah meningkat drastis sebanyak 221%. Hal ini membuat kapasitas PLTS Atap di Indonesia naik tajam ke angka 11,5 megawatt.

Para pengguna PLTS Atap Indonesia tersebar di 16 provinsi. Dalam data yang dipaparkan, pelanggan PLTS Atap di Indonesia masih didominasi oleh masyarakat Pulau Jawa dengan Provinsi DKI Jakarta yang menduduki peringkat pertama.

"Paling banyak di Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan diikuti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogja, Bali, dan Aceh. Ini progress yang sudah terpasang," kata Harris dilansir CNBC Indonesia.

7 Besar Provinsi Pelanggan PLTS Atap di Indonesia
(Sumber: Kementerian ESDM RI, September 2020)

NoProvinsiJumlah Pelanggan
1DKI Jakarta703 pelanggan
2Jawa Barat656 pelanggan
3Banten544 pelanggan
4Jawa Timur191 pelanggan
5Jawa Tengah - DI Yogyakarta95 pelanggan
6Bali91 pelanggan
7Aceh24 pelanggan

Jumlah pengguna berpotensi lebih besar

Salah satu bangunan di Bali yang menggunakan PLTS Atap | Foto: Dokumentasi Terregra Asia Energi
info gambar

Mengutip Bisnis, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan angka ini masih bisa berubah-ubah, mengingat banyaknya pengguna PLTS Atap mandiri yang tak menggunakan jasa yang terkoneksi dengan PLN seperti pelanggan industri dan komersial.

"Estimasi kami, kapasitas PLTS Atap mencapai 27-28 mw," ujar Fabby.

Sebelumnya, Kepala Sub Direktorat Keteknikan dan Lingkungan Aneka Energi Terbarukan Kementerian ESDM Marta Relitha Sibarani juga mengakui akan tumbuh pesatnya sektor PLTS Atap di wilayah Indonesia dari waktu ke waktu.

"Kalau melihat perkembangan di dunia, kita memang ketinggalan. Namun penggunaan energi surya atap ini kita lihat tumbuh signifikan," kata Martha pada Februari lalu mengutip Kontan.

Ramah lingkungan dan hemat tagihan listrik hingga 65%

Stasiun Batang, Jawa Tengah sebagai stasiun pertama yang menggunakan PLTS Atap | Foto: Dok IESR
info gambar

Teknologi PLTS Atap sebenarnya sudah dicanangkan pemerintah beberapa tahun lalu, tepatnya pada September 2017 melalui Gerakan Nasional Satu Juta Surya Atap (GNSSA) yang dideklarasikan oleh 14 pihak diantaranya Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Tenaga Surya Indonesia, dan Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR). Teknologi ini dinilai sangat efisien dan ramah lingkungan karena dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.

Selain lebih ramah terhadap lingkungan, energi terbarukan ini diklaim mampu menghemat tagihan listrik. Nantinya, daya listrik dari PLTS Atap akan otomatis mengurangi biaya listrik pengguna maksimal hingga 65 persen.

“Artinya 1 watt listrik dari PLTS Atap akan mengurangi biaya listrik PLN maksimal 0,65 watt untuk bulan berikutnya. Sehingga pengguna hanya membayar sisanya ditambah dengan biaya penggunaan listrik dari PLN,” mengutip penjelasan yang dimuat di Indonesia.go.id.

Cara mengajukan PLTS Atap

Rumah Indonesia dengan teknologi PLTS Atap | Foto: Ditjen EBTKE Kementerian ESDM
info gambar

Untuk pelanggan prabayar, pelanggan harus mengajukan perubahan menjadi pascabayar. Masyarakat yang ingin memasang panel listrik dibawah 500 kVA juga tak perlu mengurus dan mengajukan izin ke pemerintah. Harris menjelaskan, proses pengajuan PLTS Atap harus melalui serangkaian proses oleh PLN sebagai pihak terkait.

"Ketika ada pelanggan yang mau membuat PLTS Atap harus membuat permohonan ke PLN, kemudian dokumen akan diverifikasi oleh PLN untuk diteruskan. Misal sudah sesuai, tidak ada masalah, maka bisa langsung (dapat) rekomendasi pembangunan. Kalau belum lengkap, ya harus dilengkapi," jelasnya mengutip CNBC Indonesia.

Proyek percepatan PLTS Atap diharapkan dapat memperbaiki angka polusi udara di Indonesia. Dengan adanya sumber energi terbarukan, pengguna dapat mendukung terciptanya lingkungan hidup yang lebih baik. Hal ini juga disampaikan Sekretaris Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Halim Sari Wardana yang diberitakan Kominfo.

“Saya berharap, gedung-gedung Pemerintah, Lembaga, Swasta maupun komersial, khususnya di Jakarta segera mendukung percepatan PLTS Atap ini, karena 20% saja dari luas atap yang dimanfaatkan untuk PLTS ini sudah berkontribusi mengurangi polusi,” kata Halim.*

Sumber: Katadata | Kementerian ESDM RI | Kominfo RI | Indonesia.go.id | CNBC Indonesia | Kontan | Bisnis | BeritaSatu

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini