Hari Samida, Maknai Pohon di Bogor

Hari Samida, Maknai Pohon di Bogor
info gambar utama

Samida. Salam Silaturahmi di Dada.

Hari Samida? Ya, sebuah hari spesial untuk studi intelektual Indonesia. Ketika sebuah pemaparan ilmiah dari saintis senior dikaji bersama-sama secara terbuka, dan hasilnya dibuka ke publik.

Setahun lalu, 24 Oktober 2019, di Rektorat Universitas Pakuan, Kota Bogor, Dr. Ing Usep Soetisna menyampaikan hasil studi ilmiah yang dilakukannya secara mandiri dan independen.

Kesimpulan yang disampaikannya mencoba menjawab teka-teki arti lema 'Samida' yang tertera pada Prasasti Batutulis, Kota Bogor. Sebagai informasi, prasasti Batutulis adalah salah satu prasasti terpenting di Jawa Barat.

Menurut Usep Soetisna, seorang Botanis senior, purnatugas Kepala Kebun Raya Bogor, lema 'Samida' adalah nama sebuah pohon yang juga dikenal dengan nama lokal Palasa atau Palasah di Sunda. Jika di Jawa, sebutannya adalah Ploso.

Forum pada 24 Oktober 2019 lalu yang dihadiri saintis, budayawan, sastrawan, birokrat dan sejarawan itu mendiskusikan paparan Dr. Ing Usep Soetisna tersebut. Hasilnya, forum yang dihelat Konsil Kota Pusaka itu menerima simpulan bahwa Samida adalah nama lain dari pohon Palasa atau Butea monosperma (Butea frondosa). Sebuah pohon kayu yang sangat bermanfaat secara ekologis, farmakologis, dan estetis.

Setelah pemaparan perdana, lebih dari 15 kali presentasi, diskusi dan forum dilakukan secara terbuka untuk publik. Terutama menguji simpulan bahwa 'Samida' adalah pohon bernama lokal Palasa. Tercatat, semua 'Ujian terbuka' menghasilkan peneguhan atas simpulan Dr. Ing Usep Soetisna.

Lebih dari menyajikan informasi ilmiah, Usep Soetisna telah pula membuktikan secara fisik pembibitan pohon samida dari biji. Sebuah kerja ilmiah yang terdokumentasi, dan menjadi pembibitan pertama Pohon Samida di Kota Bogor, mungkin juga di Indonesia. Semua dilakukan secara mandiri dan tidak komersial, mengandalkan kerja bersinergi dengan individu-individu yang peduli.

Hari Samida tahun ini, 24 Oktober 2020 lalu, menjadi peringatan momentum bersejarah tersebut. Sekaligus membuktikan bahwa hasil studi ilmiah Dr. Ing Usep Soetisna belum tergoyahkan sekalipun oleh pendapat ahli yang berbeda.

Samida. Salam Indonesia di Dada.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini