Filipina dan Vietnam, Kisah Kontras Dua Bangsa

Filipina dan Vietnam, Kisah Kontras Dua Bangsa
info gambar utama

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa semua negara cenderung memitologiskan kesuksesan dan pencapaian-pencapaian mereka dan di saat yang sama, juga berupaya mengaburkan kegagalan-kegagalan mereka. Sebenarnya, tak ada yang salah dari itu, namun untuk jangka panjang, yang terpenting di atas segalanya adalah bagaimana setiap negara belajar dari kesalahan-kesalahannyanya, pulih dari kegagalan melalui kekuatan bertahan, kerja keras, dan inovasi, dan dengan percaya diri bergerak menuju akhir sejarah.

Tulisan ini adalah kisah dari dua negara yang bertetangga, namun mempunyai kisah yang kontras, dan dari keduanya, kita bisa menarik benang hikmah, agar Indonesia bisa terus mengambil dan melakukan hal-hal baik, pun di saat yang sama, menghindarkan diri dari melakukan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan yang tercatat dalam sejarah.

Filipina yang maju, dulu.

Pada tahun 1881, Gregorio Sancianco, seorang pengacara dan advokat Filipina menerbitkan sebuah buku fenomenal "El progreso de Filipinas" (Kemajuan Filipina) di Madrid, Spanyol, tempatnya menempuh pendidikan. Buku ini begitu fenomenal, risalah pertama tentang masalah ekonomi oleh seorang Filipina, menganalisis kondisi ekonomi di negara tersebut pada masa itu. Dalam bukunya, Sancianco secara lugas menyanggah pandangan rasis bangsa barat terhadap jajahan-jajahannya yang menganggap bahwa penduduk asli "malas dan lamban". Namun, secara umum, buku ini membahas dan mengusulkan reformasi khusus dalam hal perpajakan dan mobilisasi pendapatan untuk Filipina sebagai alat pembiayaan infrastruktur fisik dan sosial. Satu dekade kemudian, pahlawan kemerdekaan Filipina yang begitu dihormati, Jose Rizal secara eksplisit menggunakan buku Sancianco sebagai titik awal untuk karyanya sendiri "Sobre la indolencia de los filipinos" atau "Kelambanan Orang Filipina" (1890).

Ketika sebagian besar tetangga Filipina tidak memiliki satu pun universitas modern, telah terbit sebuah buku ekonomi termasyur yang ditulis oleh orang Filipina yang dengan cermat menganalisis struktur administrasi dan ekonomi negara berjuluk Mutiara Laut Timur (Perla del mar de oriente) tersebut.

Diberkati dengan tanah subur dan industri yang relatif modern, Filipina pada abad ke-19 adalah pusat manufaktur dan negara Asia utama pengekspor makanan, termasuk beras. Kemakmuran inilah yang melahirkan kelas menengah yang kuat dan semakin nasionalis, yang disebut "Ilustrado" Filipina, yang dibangun di atas warisan para pendahulu kreol mereka seperti Fr. José Burgos dan Luis Rodriguez Varela dalam mengejar penentuan nasib sendiri kolektif.

Namun bencana itu datang juga, tak hanya melanda Filipina, namun hampir seluruh bangsa di dunia. Mulai dari penguasaan AS terhadap Filipina, pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, yang meluluhlantakkan semua sektor di Filipina. Meski negitu, hingga tahun 60-an hingga awal 70-an, Filipina masih memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara (dan no.2 di Asia setelah Jepang), dengan para profesional dan pemimpin-pemimpin yang bereputasi dunia.

Dekade 70-an, menjadi awal dari penurunan Filipina, yang salah satunya disebabkan kepemimpinan diktator dan kleptokratis Ferdinand Marcos yang membuat Filipina menjadi negara yang diberi julukan "The Sick Man of Asia" pada tahun 1980-an.

Belum lama Filipina menemukan jalan kembali ke ukuran stabilitas, sehingga pada tahun 2013, di bawah Presiden Benigno Aquino III, Bank Dunia merasa cukup percaya diri untuk menggambarkan Filipina sebagai "Asia's Rising Tiger" atau "Harimau Asia yang sedang naik daun."

Tetapi hanya butuh beberapa tahun bagi Filipina untuk sekali lagi jatuh ke dalam godaan otoriter, menempatkan nasibnya di tangan orang kuat lainnya. Dan Filipina dibayangi sebuah masa kelam yang kembali datang silih berganti.

Vietnam, Harimau yang Sebenarnya

Kisah yang sama sekali berbeda databg dari negara tetangga sebelah barat Filipina, yakni Vietnam, di mana dekade 1960an menandai dimulainya penyatuan nasional, saat bangsa tersebut menghadapi kekuatan agresor dari negara adidaya. Perasaan senasib dan seperjuangan yang berakar kuat, lahir dari sebuah episode paling pahit dari negara tersebut, yakni Perang Vietnam menyebabkan kehancuran yang tak terduga dan tragedi kemanusiaa tak terbayangkan, dan menyebabkan puluhan juta rakyat biasa jatuh miskin semiskin-miskinnya.

Tak berhenti sampai di situ, setelah memenangkan perang melawan AS, Vietnam tak bisa langsung bernafas lega. Mereka terlibat lagi dengan perang melawan kekuatan besar yang lain, yakni Tiongkok (1979) yang didukung negara proksinya, yakni Kamboja yang dikuasai Khmer Merah. Kalau itu dan juga dekade sesudahnya, Vietnam juga tak punya kawan di Asia Tenggara yang kala itu didominasi negara-negara yang berpihak kepada barat.

Pada dekade 80-an, peperangan dan perjuangan yang datang silih berganti, benar-benar membuat Vietnam menjadi bangsa yang bersatu, di bawah kepimpinan yang yang kompeten dan patriotik. Tahun-tahun itu, Filipina bergumul dengan beban utang era Marcos dan mempertahankan keruntuhan industri di bawah kebijakan neoliberal, pun pertentangan politik di sana sini, dan di sisi lain, Vietnam membangun sebuah 'developmental state' yang modern di bawah reformasi "Doi Moi", yang bertujuan untuk menciptakan sebuah “socialist-oriented market economy.” "ekonomi pasar berorientasi sosialis."

Alih-alih membuka ekonomi mereka secara membabi buta untuk produk luar negeri, Vietnam mengadopsi perdagangan optimal dan kebijakan industri yang menarik investasi langsung dari luar negeri yang berkualitas dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Di saat yang sama, Vietnam juga mengadopsi praktik-praktik terbaik dalam membangun ketahanan pangan, salah satunya dari International Rice Research Institute, Filipina. Mereka berhasil meningkatkan swasembada pangan dan memperkuat pembangunan pedesaan. Juga, di saat yang sama, dibangun di atas prinsip egalitarianisme, Vietnam juga membentuk sistem pendidikan dasar dan perawatan kesehatan kelas dunia.

Siapa yang menduga, Vietnam yang dulu miskin dan babak belur karena perang, hanya dalam satu generasi, telah mengubah dirinya menjadi salah satu keajaiban ekonomi dunia. Saat ini, Vietnam adalah negara adidaya pertanian, mengekspor ratusan ribu ton beras ke negara penghasil beras yang lain, termasuk Filipina (dan Indonesia), sementara sektor manufakturnya yang terus meningkat telah berhasil memproduksi mobil listrik, LED definisi tinggi, smartphone, dan produk-produk lain.

Dalam hal matematika dan sains, anak-anak Vietnam termasuk dalam 10 negara teratas di dunia. Berkat lembaga negara yang kompeten, Vietnam dengan cepat mengatasi krisis COVID-19 dan, tahun ini, rasanya akan menyalip Filipina dalam pendapatan per kapita. Didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pendapatan per kapita Vietnam akan mencapai $3.497,51 dan menyalip Filipina sebesar $ 3.372,53 , menurut estimasi Dana Moneter Internasional (IMF).

Tak hanya itu, jika estimasih IMF benar adanya, maka dalam 5 tahun ke depan pun, cukup sulit bagi Filipina untuk mengejar ketertinggalannya dari Vietnam. Pada tahun 2025, pendapatan perkapita Filipni 'baru' akan mencapai $4,805.84 , sedangkan Viertnam $5,211.90.

Sekali lagi, menurut para analis, soliditas rakyat Vietnam, dan kualitas kepemimpinannya lah yang membuat Vietnam akan terus melaju. Dan menurut mereka, semuanya bermuara pada seberapa efektif respons pemerintah merespon pandemi Covid19. Karena inilah yang membuat Vietnam melaju, sedangkan Filipina ambrol hingga minus pertumbuhannya “Vietnam menanggapi pandemi dengan sangat baik dan mampu terus berkembang meskipun hanya 1% saja. Sebaliknya, respon administrasi Duterte yang buruk dalam menangani pandemi telah menyebabkan keruntuhan ekonomi terburuk dalam sejarah negara, ”kata Sonny Africa, direktur eksekutif di IBON Foundation, sebuah think tank ternama yang berbasis di Manila.

Sonny menambahlan bahwa Vietnam yang kini melampaui Filipina seharusnya sama sekali bukan hal yang mengejutkan, karena Vietnam telah berhasil mengatasi berbagai "krisis besar" di masa lalu dengan kuat dan keluar sebagai pemenang, dan kini pun mereka berhasil melakukannya. Ruben Carlo Asuncion, kepala ekonom di UnionBank Filipina berkata “Bahkan sebelum COVID-19, Vietnam, saya yakin, telah berada pada lintasan pertumbuhan yang lebih tinggi daripada Filipina, dan tidak dapat disangkal bahwa Vietnam telah melakukan pekerjaan yang lebih baik sejauh ini dalam menangani virus corona dibandingkan dengan Filipina. Dan kini perbedaannya bisa kita lihat”.

Di luar kesehatan masyarakat, Calixto Chikiamco, presiden Foundation for Economic Freedom yang berisi para ahli ekonomi di Filipina, menegaskan bahwa Filipina tertinggal oleh reformasi yang bergerak lambat, seperti misalnya membuka ekonomi untuk lebih banyak menarik investasi asing yang berkualias.

“Vietnam memiliki institusi yang lebih mampu, sangat agresif dalam meliberalisasi aturan untuk investasi luar negeri, dan telah mengadopsi strategi yang tepat dengan fokus pada peningkatan produktivitas pertanian, pertumbuhan manufaktur yang ringan dan juga penguatan ekspor,”katanya.

“Ekspor mereka 100% dari PDB sedangkan ekspor Filipina hanya sekitar sepertiga, Biaya hidup yang murah di Vietnam memungkinkan mereka memberikan upah yang wajar dengan daya beli tinggi, mendorong pertumbuhan di sektor manufaktur mereka, ”tambah Chikiamco.

Sang Superpower Ekonomi Baru

Selama tahun-tahun keajaiban Asia booming (90-an hingga 2000an), menghasilkan pertumbuhan ekspor tahunan mendekati 20 persen - hampir dua kali lipat rata-rata negara-negara berpenghasilan rendah atau menengah pada saat itu. Dan Vietnam telah mempertahankan kecepatan yang sama selama tiga dekade. Bahkan saat perdagangan global merosot pada tahun 2010-an, ekspor Vietnam tumbuh 16 persen per tahun, tercepat di dunia, dan tiga kali lipat dari rata-rata negara berkembang.

Di saat negara-negara berkembang lainnya menghabiskan banyak anggaran negara untuk kesejahteraan sosial dalam upaya untuk menenangkan pemilih mereka dalam pemilu, Vietnam mencurahkan sumber dayanya untuk ekspor, membangun jalan dan pelabuhan untuk mendapatkan barang ke luar negeri dan membangun sekolah untuk mendidik para pekerja. Pemerintah menginvestasikan sekitar 8 persen dari GDP setiap tahun untuk proyek gedung baru, dan sekarang mendapat nilai yang lebih tinggi untuk kualitas infrastrukturnya daripada negara mana pun pada tahap perkembangan yang sama.

Ini juga mengarahkan investasi luar negeri ke arah yang sama. Selama lima tahun terakhir, investasi langsung asing (Foreign Direct Investment) memiliki rata-rata lebih dari 6 persen dari GDP di Vietnam, angka tertinggi di antara negara berkembang mana pun. Sebagian besar digunakan untuk membangun pabrik dan infrastruktur terkait, dan sebagian besar sekarang berasal dari sesama negara Asia, termasuk Korea Selatan, Jepang, dan Cina.

Vietnam telah menjadi tujuan favorit bagi produsen ekspor, meninggalkan China untuk mencari upah yang lebih murah. Pendapatan per kapita tahunan rata-rata di Vietnam telah berlipat empat sejak akhir 1980-an, tetapi biaya tenaga kerja masih setengah dari China, dan angkatan kerja berpendidikan sangat baik untuk kelas pendapatannya. Tenaga kerja terampil itu membantu Vietnam "naik tangga", lebih cepat daripada negara saingannya (termasuk Filipina) , untuk memproduksi barang-barang yang semakin canggih. Teknologi melampaui pakaian dan tekstil sebagai ekspor utama Vietnam pada 2015, dan menyumbang sebagian besar rekor surplus perdagangannya tahun ini.

Hal yang sama, rasanya tak terjadi di Filipina. Ataupun negara-negara saingannya yang lain. Bagaimana dengan Indonesia?

Referensi:

The Manila Times, 11 Sept. 2019, www.manilatimes.net/2019/09/12/business/columnists-business/a-tale-of-two-countries-ph-and-vietnam/614932/.

Cigaral, Ian Nicolas. “Vietnamese Set to Get Richer than Filipinos This Year - IMF.” Philstar.com, Philstar.com, 18 Oct. 2020, www.philstar.com/business/2020/10/14/2049564/vietnamese-set-get-richer-filipinos-year-imf.

Heydarian, Richard. “Vietnam and the Philippines: A Study in Contrasts.” INQUIRER.net, 27 Oct. 2020, opinion.inquirer.net/134786/vietnam-and-the-philippines-a-study-in-contrasts.

Sharma, Ruchir. “Is Vietnam the Next 'Asian Miracle'?” The New York Times, The New York Times, 13 Oct. 2020, www.nytimes.com/2020/10/13/opinion/vietnam-economy.html.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini