Tari Maena dari “Ono Niha”, Tarian Sederhana Diiringi Syair Pantun Kaya Makna

Tari Maena dari “Ono Niha”, Tarian Sederhana Diiringi Syair Pantun Kaya Makna
info gambar utama

Kawan GNFI, gerakan Tari Maena memang sederhana, tetapi sarat makna di setiap hentakan kaki dan alunan melodinya. Buat para milenial, gambaran tentang seberapa serderhana gerakan tariannya, mungkin bisa membayangkan tarian khas kuda Park Jae-Sang atau Psy dalam lagu Gangnam Style, yang sempat tenar pada pertengahan 2012 lalu.

Dengan ide menciptakan gerakan tari yang mudah diikuti akhirnya PSY mendulang kesuksesan. Lewat tarian khas kudanya ia berhasil mengajak sebagian besar orang mengikuti euforia tariannya. Hal ini dibuktikan dari banyaknya flash mob atau tarian bersama Gangnam Style di beberapa negara.

Nah, kalau itu tarian modern asal Korea Selatan. Maka, kategori tarian tradisional asal Indonesia dengan gerakan sederhana, jatuh kepada Tari Maena dari Pulau Nias Provinsi Sumatera Utara. Tarian ini dari segi estetiknya membentuk gerakan yang cenderung berulang atau pola yang acap kali sama disetiap irama.

Gerakan tersebut meliputi gerakan tangan dan kaki yang digerakan seirama maju mundur, maupun ke kiri dan ke kanan. Sedangkan untuk formasi, para penari bisa membentuk melingkar atau berbaris. Formasi tersebut tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Sehingga, bagi orang Nias atau Ono Niha membawakan Tari Maena tidak perlu keahlian khusus dan latihan yang memakan waktu terlalu lama, cuman butuh waktu untuk mengatur kekompakan saja. Sebab, jenis tari ini adalah kolosal atau dipraktikkan secara bersama-sama. Seperti dilansir dari MedanToday.com (27/11/2016), Tari Maena berhasil diikuti 5.763 warga Nias dan berhasil tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MuRI). Selain itu, secara adat Nias Tari Maena juga dipertunjukkan pada upacara perkawinan.

Seni Tradisi Perkawinan Adat Nias

Kawan GNFI, seluruh kehidupan masyarakat Nias mulai dari kelahiran hingga kematian ada rangkaian pelaksanaan upacaranya, yang secara umum disebut dengan bosi. Upacara perkawinan adat Nias menjadi salah satu bagian dalam rangkaian tersebut.

Secara sederhana, ketika seorang laki-laki Nias sudah berumur 18 tahun dan dinyatakan mampu memberikan mahar kepada calon mempelai wanitanya, maka upacara perkawinan bisa dilaksanakan.

Bersatunya dua keluarga merupakan kabar bahagia yang mesti dimeriahkan dengan Tari Maena. Baik dari pihak perempuan atau laki-laki, keduanya saling melangsungkan tarian ini. Adapun urutannya sebagai berikut:

  • Saat pihak laki-laki pertama kali datang ke halaman rumah pihak perempuan, kombinasi alunan syair pantun sebagai musik vokal dan gerakan tari menyambut kedatangannya. Kegiatan ini disebut dengan maena fangowai sowato, yang pantunnya bermakna pujian atas penampilan fisik laki-laki.
  • Masih dari pihak perempuan dan tetap dengan musik vokalnya yang sama. Kegiatan maena fangehera kini berlangsung. Namun, pola tarian yang dibawakan berbeda dari sebelumnya.
  • Dengan itikad membalas sambutan suka cita dari pihak perempuan. Maka, pihak laki-laki juga melakukan gerakan tari yang diiringi alunan syair pantun sebagai musik vokal. Kegiatan ini disebut dengan maena fangowai tome, yang pantunnya mengungkapkan cerita tentang bagaimana perjalanan pihak laki-laki sampai ke tempat pihak perempuan sekaligus menceritakan suasana pesta yang sedang berlangsung.
  • Ketika proses penyerahan sirih oleh pengantin laki-laki kepada pihak perempuan, Tari Maena dari pihak laki-laki pun dilangsungkan. Kegiatan ini disebut dengan maena fosarako bola.
  • Setelah pihak laki-laki memberikan sirih (fosarako bola) kepada pihak perempuan. Maka, kombinasi alunan syair pantun sebagai musik vokal dan gerakan tari dilangsungkan dari pihak penerima. Kegiatan ini disebut dengan maena fanema, yang pantunnya bermakna pujian betapa bagus dan indahnya tempat sirih yang diterima oleh pihak perempuan.

Alunan Syair Pantun Maena

Kawan GNFI, tidak hanya Tari Saman asal Suku Gayo yang tariannya dipandu oleh seorang pemimpin lagu bernama Syekh. Bentuk penyajian musik dengan teknik dipimpin oleh pemandu lagu, kemudian disahuti oleh sekelompok penyanyi juga dilakukan pada Tari Maena. Teknik ini disebut dengan Responsorial atau call and response.

Setiap kali pemimpin lagu menyanyikan bait demi bait dari syair Maena. Maka, peserta akan bersiap menyahuti syair dengan nyanyian refrein dan gerakan tari. Adapun contoh teks syair refrein yang dinyanyikan oleh peserta Maena pada upacara perkawinan (Halawa, 2000):

Si numana zatua

föna ba wondrorogö

ononia me ide’ide

ba hadia zulö da’ö

Adapun pesan utama yang ingin disampaikan melalui syair di atas yakni nasihat kepada sang anak agar jangan melupakan perjuangan dan penderitaan orang tua ketika membesarkannya. Pesan lainnya adalah tetaplah memelihara rasa hormat dan kecintaan kepada orang tua, sekalipun sang anak saat ini sudah melangkah ke satu titik menempuh jalan hidup yang baru dengan pasangan untuk hidup berkeluarga.

Berangkat dari setiap makna pada lirik pantun dan syair yang saling berbalas antara pemimpin lagu dan peserta maena. Sejatinya, inilah proses terdahulu dalam menggiring Tari Maena pada upacara perkawinan adat Nias. Bait-bait berisi pesan yang dibawakan oleh pemimpin lagu, kemudian disahuti dengan syair refrein yang terus diulang oleh peserta, secara tidak langsung menunjukkan, bahwa alunan syair dari suara manusia menjadi pilihan untuk mengiringi Tari Maena ketimbang bentuk melodi dari alat musik benda.

Namun, kini karena perubahan zaman dan keinginan untuk lebih memeriahkan acara akhirnya ensambel pengiring seperti Gong, Gondra, Faritia, dan Ukulele digunakan. Tari Maena dengan iringan instrumen musik pun tak hanya dilakukan di acara nikahan adat Nias, tetapi juga penyambutan tamu terhormat maupun seni pertunjukan lainnya.

Alat musik penggiring Tari Maena. Sumber: Tangkapan layar tesis Cathrina Sumiaty Tampubolo yang berjudul
info gambar

Referensi: Cathrina Sumiaty Tampubolo, "Maena pada Upacara Falowa di Ori Laraga Kota Gunungsitoli: analisis Tekstual, Musikal dan Tari" | medanToday.com | Andi Saputra, "Deskripsi Analitik Pertunjukan Maena dalam Upacara Adat Perkawinan pada Masyarakat Nias di Desa Hili Waele I Kecamatan Boto Muzoi Kabupaten Nias Induk" | niasonline.net

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini