Saat Pandemi, Industri Telekomunikasi Justru Tumbuh Pesat

Saat Pandemi, Industri Telekomunikasi Justru Tumbuh Pesat
info gambar utama

Kawan GNFI, di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dilaporkan minus 5,3 persen akibat pandemi Covid-19, industri telekomunikasi Indonesia justru mengalami pertumbuhan.

Namun di tengah kondisi ekonomi yang melemah ini, industri telekomunikasi Indonesia disampaikan Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengalami pertumbuhan 10 persen.

“Justru terjadi kenaikan di atas 10 persen pada sektor informasi dan komunikasi. Ketika sebagian besar lapangan usaha minus, sektor infokom meraup laba,” ungkapnya dalam Techbiz.id.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sektor telekomunikasi (Infokom) mengalami pertumbuhan sebesar 10,88 persen pada April-Juni atau kuartal II 2020 (Q2 2020), jika dibandingkan pada kuartal yang sama tahun lalu (Q2 2019).

Pertumbuhan PDB sektor usaha

Hal ini tentu menjadi kewajaran, karena saat pandemi hampir semua layanan sektor usaha beralih ke ranah digital. Seperti perusahaan yang memberlakukan aturan bekerja dari rumah (WFH), para pelajar, guru, dan mahasiswa, menjalankan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Beberapa hal yang disebutkan di atas tentunya membutuhkan akses internet yang lebih banyak ketimbang biasanya. Tak heran para operator berjibaku untuk mendongkrak layanan esensial, semisal video streaming, paket tele-konferensi, dan voice-video chat.

Analisis data dan investasi yang akurat

Herfini Haryono, Vice President of Industry Verticals, OmniSci, menulis dalam Indotelko.com, bahwa lonjakan lalu lintas data yang secara tiba-tiba itu membuat pemain industri telekomunikasi perlu memastikan pemantauan lalu lintas data yang efisien, guna menyeimbangkan sinyal seluler dan rencana peningkatan kapasitas jaringan.

Lebih jauh lagi dari sekadar lalu lintas data, perusahaan telekomunikasi juga perlu membuat keputusan berbasis data terkait investasi dan memaksimalkan kinerja. Kemampuan untuk menganalisis data yang masif dengan cepat untuk menemukan kunci utama.

Sementara tantangan lainnya adalah mengolah berbagai sumber data, termasuk pemodelan frekuensi radio, analisis cakupan jaringan, serta kinerja jaringan seluler.

Dengan meningkatnya kebutuhan layanan data yang berkelanjutan selama periode itu, perusahaan telekomunikasi tentu perlu memastikan bahwa kemampuan untuk mendeteksi anomali dalam jaringan mereka juga telah meningkat. Proses pengambilan keputusan investasi sejatinya akan sama cepatnya dengan permintaan layanan (demand).

Kini perusahaan komunikasi perlu mempertahankan layanan jaringan yang andal dan meningkatkan tingkat layanan pelanggan di seluruh operasi selama periode yang tidak pasti ini.

Data dan analisis interaktif berkecepatan tinggi dapat memberi para pemain industri telekomunikasi itu keunggulan yang memungkinkan mereka untuk memahami pola histori pemakaian pelanggan untuk membangun model pembelajaran untuk memprediksi.

Lain itu, meningkatkan pengalaman pelanggan melalui analisis geospasial (data karakkteristik, lokasi, ruang, dst) dengan kekuatan sinyal, serta melihat jaringan dengan cepat untuk layanan teknis di lapangan dan pemeliharaan yang bersifat preventif.

Pertumbuhan dan program layanan telekomunikasi

Selain menurut pengamat, Turina Farouk, SVP-Head of Corporate Communications PT Indosat Tbk, mengungkapkan, selama kebijakan WFH dan berlakunya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Indosat mencatatkan kenaikan trafik data hingga 27 persen di seluruh regional, termasuk Jabodetabek.

Sementara itu, Telkomsel, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, juga mencatatkan kenaikan trafik data hingga 22,8 pesen di tengah pandemi Covid-19. Penggunaan aplikasi berbasis pertemuan virtual dan layanan video streaming melonjak masing-masing 75 persen dan 13,8 persen.

''Secara persentase wilayah operasional Telkomsel di Sumatera bagian Selatan, Sumatera bagian Utara, dan Jawa Barat mengalami peningkatan penggunaan layanan data, dengan pertumbuhan tertinggi sekitar 35 persen dibandingkan hari normal,'' kata Setyanto.

Tren ini diperkirakan masih akan terus berlanjut meski pemerintah sudah mulai menerapkan PSBB transisi (new normal).

Raihan positif juga diraih Smartfren dengan kenaikan trafik secara nasional yang mencapai 24 persen ketimbang kuartal I 2020 (Q1 2020). Kenaikan trafik terbesar terjadi di Samarinda dengan capaian 58 persen, kemudian Semarang yang tercatat 38 persen dan Balikpapan (36 persen).

Guna merespons kenaikan tersebut, Smartfren terus melakukan optimasi jaringan secara nasional dan penambahan kapasitas jaringan yang kini sudah meningkat 29 persen, sekaligus perluasan area (coverage) jaringan 4G yang sudah mencapai 21 persen secara nasional.

Munir Syahda Prabowo, VP Technology Relations and Communications Smartfren, mengatakan bahwa kenaikan trafik tersebut rata-rata terjadi memang karena perubahan perilaku masyarakat yang banyak masuk ke ranah digital, mulai dari kegiatan sekolah hingga bekerja.

''...Namun tidak perlu khawatir terjadi kepadatan, karena perubahan ini bisa ditangani dengan baik. Smartfren pun terus memperluas coverage serta melakukan optimasi jaringan. Sekarang kita sudah mengoptimasi 42 persen dari keseluruhan network, dan masih terus bertambah. Selain itu kami juga menerapkan berbagai teknologi yang memungkinkan akses internet berkecepatan tinggi,” beber Munir.

Saat ini, sambungnya, Smartfren telah menerapkan sejumlah teknologi pada seluruh aspek network, yaitu multiple carrier, milimeter wave, small cell, 4x4 MIMO, Beam Forming, Full Duplex, serta 256 QAM. Semuanya berperan dalam memberikan koneksi internet terbaik yang membuat pelanggan mendapat akses berkecepatan tinggi, stabil, serta mencapai 4G+ pada gadget yang mendukung.

Kemudian dari sisi produk, Sukaca Purwokardjono, Deputy CEO Mobility Smartfren, mengatakan bahwa pelanggan juga sudah bisa merasakan inovasi terbaru Smartfren melalui layanan KuotaNonstop dan teknologi eSIM.

Kuota Nonstop diklaim memiliki keunggul dengan fitur kuota utama 24 jam untuk semua aplikasi serta akses internet setelah kuota utama habis. Sementara eSIM adalah teknologi terbaru Smartfren yang sudah bisa dipesan secara digital tanpa harus keluar rumah sama sekali.

Tentunya lonjakan industri telekomunikasi yang barusan dipaparkan, turut berperan untuk terus melajukan ekonomi masyarakat yang saat ini mulai merambah era digital. Penetrasi serta perluasan jaringan telekomunikasi boleh dibilang akan berdampak secara signifikan bagi industri lainnya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini