Kisah Kuliner Thailand yang Mendunia: Dari Lumpur Perang Hingga Menjadi Primadona

Kisah Kuliner Thailand yang Mendunia: Dari Lumpur Perang Hingga Menjadi Primadona
info gambar utama

Pada suatu pagi, 28 Juni 1919, mata dunia tertuju pada Istana Versailles di luar Paris. Di sana, di Grand Hall of Mirrors, perwakilan dari 31 negara dunia Penandatangan Perjanjian Versailles berkumpul untuk menyaksikan berakhirnya secara resmi perang paling mengerikan yang pernah dialami umat manusia waktu itu, yakni Perang Dunia I, atau yang disebut juga sebagai Perang Besar (The Great War), maupun Perang untuk Mengakhiri Semua Peperangan (The War to End All Wars).

Siapa sangka, di antara yang menandatangani Perjanjian Versailles tersebut adalah dua pangeran dari Thailand, yang menandai keberhasilan terbesar diplomasi luar negeri Thailand pada masa imperialisme saat itu. Saat kedua pangeran tersebut, Pangeran Charoonsakdi Kritakara dan Pangeran Traidos Prabhandh Devakula menandatangani perjanjian itu, tentara-tentara Siam (nama Thailand kala itu) masih bertebaran di parit-parit berlumpur di berbagai medan tempur di Prancis dan Jerman, membantu logistik pasukan sekutu mengalahkan tentara Jerman dan pasukan poros (Axis) di berbagai garis depan. Sebanyak 1.200 pasukan Thailand bahu membahu dengan pasukan sekutu yang dipimpin oleh Inggris dan Amerika Serikat, dan juga tentara dari berbagai penjuru dunia, dan turut menjadi bagian tak terpisahkan dari keberhasilan mereka mengalahkan tentara Jerman dan sekutunya.

Keberhasilan tersebut 'dipamerkan' di depan umum dua minggu kemudian selama parade kemenangan spektakuler di pusat kota Paris, di mana tentara Siam berbaris membawa bendera. Parade kemenangan pada hari nasional Prancis, 14 Juli 1919, memiliki arti penting dalam menempatkan Thailand "di peta" dunia.

Parade Pasukan Siam (Thailand) di Arc de Triomphe © Bangkok Post
info gambar

Siam memang memilih untuk terjun ke Perang Dunia I di pihak sekutu di paruh akhir peperangan. Tujuan utama mereka adalah 'mengamankan' kesetaraan Thailand dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, dan mendapatkan kedaulatan Kerajaaan Siam, dengan menjadi bagian baru dari tatanan internasional pasca-perang. Sebuah diplomasi besar, melelahkan, dan berhasil. Karena setelahnya, dunia makin mengenal Thailand sebagai sebuah negeri di daerah tropis yang (mungkin) 'misterius', murah senyum, dan menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Tak hanya itu, di sisi lain, Siam juga masuk sebagai anggota pendiri (founder member) organisasi internasional pertama di dunia dengan otoritas global, Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations).

Dan Siam (Thailand) pun seketika mempunyai banyak teman dan dikenal oleh bangsa-bangsa maju di dunia sebagai sekutu yang indah dan bersahabat.

Dari Perang ke Makanan

Thailand yang telah merasakan betul manisnya diplomasi mereka sebelumnya, berusaha untuk kembali membawa bangsanya dalam kancah global, kali ini melalui keindahan alam dan kehebatan tradisi mereka. Mereka mempromosikan keduanya ke negara-negara maju, dengan harapan bahwa akan banyak orang-orang berpunya yang berkunjung ke Thailand, dan menghidupkan ekonomi negara tersebut. Pasca Perang Dunia II, Thailand bukanlah negara yang istimewa di dunia pariwisata. Bahkan, kala itu, hanya ada beberapa ratus kamar standar saja di Bangkok yang layak menjadi tempat hunian turis yang tersebar di beberapa hotel di sana. Dalam setahun, ada sekitar 40 ribu wisman yang mengunjungi kota tersebut.

Pada awal tahun 1960an, saat runway bandara Don Mueang Bangkok selesai dibangun mampu melayani pesawat jet, perang besar lain muncul. Bukan di dunia lain seperti perang-perang sebelumnya, namun kini terjadi di tetangga dekat Thailand, yakni Vietnam. Ratusan ribu tentara Amerika Serikat (dan dibantu negara-negara lain) diterjunkan ke medan perang Vietnam, untuk membendung serbuan Vietnam Utara yang komunis ke Vietnam Selatan.

Dan tanpa disangka..inilah awal dari berkah besar bangsa Thailand. Pentagon (Departemen Pertahanan AS) memilih Thailand sebagai tujuan R & R (cuti dan berlibur) para tentaranya di Vietnam. Jumlahnya tak sedikit. Sekitar 45.000 tentara berkunjung pada tahun 1967, itu belum termasuk keluarganya yang datang jauh-jauh dari AS bertemu dengan para tentara. Tak hanya itu, Thailand juga dipilih sebagai basis tentara AS di Asia Tenggara sebagai support system bagi upaya perangnya di Vietnam, Kamboja, dan Laos. Jumlahnya juga banyak, sekitar 45.000 pada tahun 1969. Jumlah kamar hotel di Bangkok meledak menjadi 7.000 pada pertengahan 1960-an. Kehadiran pasukan AS mengubah New Phetchaburi Road menjadi "jalan Amerika" yang terdiri dari bar, panti pijat, bordil, dan klub.

Dan inilah awal mula dikenalnya kuliner Thailand oleh bangsa Barat.

Bagi orang barat, makanan Thailand dari masa lalu hingga saat ini memiliki daya tarik dan karakter yang khas. Orang Thailand, di mata orang Barat, meyakini bahwa masakan mereka adalah yang paling enak, dengan bumbu paling pas dan lengkap di dunia. Dan keyakinan ini, juga keahlian memasaknya, diturunkan dari generasi ke generasi. Terlepas dari perpaduan rasa yang lembut dan nilai nutrisinya yang kaya, penataan makanan Thailand yang rumit dan dekorasi dengan ukiran buah dan sayuran membuatnya semakin menarik dan merupakan hal baru bagi bangsa barat.

Sebuah Restoran Thailand di New York @ Travel + Leisure
info gambar

Banyak tentara-tentara Eropa dan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam yang kemudian pulang ke negaranya, dan 'merindukan' Thailand dan segala hal tentangnya. Untuk memuaskan kerinduan mereka, restoran-restoran Thailand mulai bermunculan. Di Inggris, Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara lain. Restoran ini awalnya dibuka oleh para imigran Thailand di negara-negara tersebut sebelum akhirnya menjadi promosi budaya Thailand yang dilakukan secara resmi oleh pemerintah negara tersebut.

"Thai Select"

Meningkatnya popularitas makanan Thailand di tingkat global meningkatkan kebanggaan nasional di antara orang Thailand yang menjadikan "citra dan reputasi bangsa" adalah segalanya. Tentu banyak yang bertanya, mengapa kini jumlah restoran Thailand begitu banyak, dan terdapat hampir di seluruh negara di dunia? Jawabannya sederhana. Pemerintah Thailand mendukungnya, memberikan pinjaman lunak, dan melakukan kurasi restoran-restoran tersebut agar menyajikan makanan khas negeri tersebut. Diplomasi yang dimulai sejak tahun era Perang Dunia I, diteruskan dan diterjemahkan dalam diplomasi-diplomasi budaya, wisata, kesenian, juga tentu saja bidang kuliner.

Makanan Thailand @ Unsplash.com
info gambar

Seiring popularitasnya yang makin mendunia, jumlah restoran Thailand juga makin menjamur. Pada tahun 70an, hanya ada 4 restoran Thailand di London, Inggris, kini jumlahnya mencapai 300 buah. Di Amerika Serikat, jumlahnya jauh lebih banyak. Yang tercatat, ada sekitar 5,400 buah, dan ini belum termasuk warung-warung kecil yang menjual makanan Thailand.

Masifnya diplomasi kuliner yang soft ini, membuat makanan-makanan Thailand menjadi top of mind. Menurut survei tentang persepsi masakan yang dilakukan oleh Kellogg School of Management dan Sasin Institute, makanan Thailand menempati peringkat di nomor empat ( setelah Italia, Prancis, dan Cina ) untuk makanan yang pertama muncul di benak responden ketika diminta menyebutkan masakan tradisional. Selain itu, makanan Thailand ada di peringkat enam (di belakang bahasa Italia, Prancis, Jepang, Cina, dan India ) untuk masakan terfavorit. Selain itu, banyak orang meyakini bahwa makanan Thailand sebagai makanan yang sehat dan tidak menggemukkan. Sampul buku masak Thailand yang begitu popular karya "Jennifer Brennan" yang diterbitkan di Amerika Serikat menyebut bahwa masakan Thailand sebagai “Menyehatkan dan melangsingkan tubuh, "dan mendeskripsikannya sebagai "masakan eksotis terbaru yang melanda negara (AS) ". "Makanan Sehat dan Enak" ini adalah sebuah kampanye yang begitu dahsyat menyentuh hati berjuta orang di seluruh dunia.

Sertifikat Thai Select | Thai Embassy Nordic
info gambar

Menggunakan taktik yang sekarang dikenal sebagai gastrodiplomacy atau diplomasi kuliner, pemerintah Thailand memang sangat serius mendukung kehadiran masakan Thailand di luar Thailand untuk meningkatkan pendapatan ekspor dan pariwisata, serta keunggulannya di panggung budaya dan diplomatik. Pada tahun 2001, pemerintah Thailand mendirikan Global Thai Restaurant Company, Ltd., dalam upaya untuk mendirikan setidaknya ribuan restoran Thailand di seluruh dunia. Pada saat itu, wakil menteri perdagangan Thailand Goanpot Asvinvichit mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa pemerintah berharap rantai tersebut akan menjadi seperti " McDonald's of Thai food." Pemerintah telah melatih ribuan chef di fasilitas pelatihan kuliner untuk dikirim ke luar negeri selama tahun-tahun sesudahnya.

Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan, Kementerian Perdagangan (bagian promosi ekspor), Kementerian Kesehatan, dan beberapa instansi lain terlibat secara penuh dalam gastrodiplomacy ini. Sepanjang waktu, para ahli makanan Thailand terus berusaha menemukan dan meramu resep-resep masakan baru untuk kemudian dihidangkan di restoran-restoran Thailand seluruh dunia. Tak hanya itu, ketika kita sudah ada puluhan ribu restoran di seluruh dunia, selain terus berupaya meningkatkan kampanyenya, tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas restoran-restoran tersebut tetap tinggi.

Pemerintah Thailand kemudian menciptakan "Thai Select", yang memberi sertifikasi kepada restoran-restoran Thailand di luar negeri yang "Otentik" dan "berkualitas tinggi" berdasarkan inspeksi dan kriteria seperti buka setidaknya satu tahun, beroperasi setidaknya lima hari seminggu, disertifikasi oleh Perusahaan kartu kredit Visa atau American Express, mempekerjakan chef Thailand dengan latar belakang masakan Thailand, menggunakan bahan dan peralatan dari Thailand, dan menawarkan setidaknya enam hidangan Thailand di menu. Selain kualitas makanan, kriteria lain yang dilibatkan misalnya keamanan pangan, pengemasan, bahan baku, langkah penyiapan pangan, dan skill chef.

Chef-chef Thailand di Lisbon, Portugal. Sudah Bersertifikat @ Unsplash.com
info gambar

Standar-standar ini mengungkapkan prioritas pemerintah mengenai restoran Thailand — untuk menjadi operasional dan dapat diakses, nyaman bagi khalayak asing (yang mungkin lebih suka menggunakan pembayaran kartu kredit), dan "Thai" dalam demografi karyawan, latar belakang pendidikan, metode, dan penawaran makanan. Hal ini memberi pemerintah Thailand kontrol yang lebih besar atas citra dan kualitas yang diproyeksikan oleh restoran di luar negeri dan memastikan bahwa restoran yang menerima pendanaan dan pinjaman pemerintah selaras dengan citra Thailand yang diharapkan pemerintah untuk diproyeksikan. Selain itu, ini juga membantu mempromosikan standardisasi dan konsistensi di seluruh restoran Thailand.

Sebuah upaya yang begitu baik. Dan, siapa sangka, hal ini didukung oleh pemerintah negara lain. Pemerintah Selandia Baru bahkan menerbitkan visa khusus bagi chef-chef Thailand. Pemerintah dari berbagai negara juga mendukung kampanye ini sebagai kampanye makanan sehat dan menyehatkan masyarakat mereka.

Pariwisata dan Kuliner

Internasionalisasi makanan Thailand dan industri pariwisata Thailand memang saling terkait satu sama lain, tak terpisahkan. Restoran-restoran Thailand tak hanya menyediakan makanan Thailand, namun juga memberi 'pengalaman' makan dan 'berada' di Thailand. Restoran-restoran Thailand di kota-kota dunia didekorasi dengan cara yang menekankan budaya Thailand dan menciptakan suasana Thailand; mereka memamerkan lukisan klasik Thailand, patung, tirai sutra, gambar Buddha, dan gambar orang dan tempat di Thailand. Sebagian besar restoran Thailand memainkan musik Thailand dan menyajikan makanan dengan ornamen warna biru dan putih. Beberapa restoran menyajikan makanan dalam mangkuk kayu dan menggunakan daun pisang untuk menghias hidangan mereka sementara staf mondar-mandir dengan pakaian tradisional Thailand.

Negara-negara dengan kunjungan wisman tertinggi | UNWTO
info gambar

Thailand adalah salah satu negara yang paling banyak dikunjungi oleh orang luar di dunia. Pada 2019, ada 39.80 kunjungan wisman ke negara tersebut, mengalahkan jumlah wisman ke Jerman ataupun ke Inggris. Di Asia, hanya China dan Thailand yang masuk dalam 10 besar negara yang paling banyak dikunjungi wisman di dunia pada tahun lalu. Dalam sebuah penelitian bertajuk "Consumer behaviors of foreign tourists in Thailand on Thai food", ditemukan bahwa terdapat korelasi signifikan atas peran restoran-restoran Thailand di seluruh dunia, terhadap makin tingginya antusiasme untuk berkunjung dan berwisata ke Thailand.

Mendunianya "makanan Thailand" di panggung global adalah proses panjang tanpa henti yang melibatkan berbagai aktor yang berinteraksi di berbagai tingkatan. Dari lumpur perang di parit-parit di Somme dan Verdun, kini di di tengah-tengah megahnya Manhattan maupun di Oxford Street. Kebanggaan bangsa Thailand akan budaya dan warisan leluhurnya, dukungan tanpa henti pemerintah, juga diplomasi yang dilakukan pemerintah Thailand sejak lama, telah berbuah manis. Membawa kemakmuran bagi berjuta rakyat Thailand, hingga sekarang.

Referensi:

Limited, Bangkok Post Public Company. “Siam on the World Stage.” Https://Www.bangkokpost.com, www.bangkokpost.com/life/social-and-lifestyle/1702000/siam-on-the-world-stage

The Surprising Reason That There Are So Many Thai Restaurants in America, www.vice.com/en/article/paxadz/the-surprising-reason-that-there-are-so-many-thai-restaurants-in-america

“Information about : Thai Chefs Work Visa.” Immigration New Zealand, www.immigration.govt.nz/new-zealand-visas/apply-for-a-visa/about-visa/thai-chefs-work-visa

Sunanta, Sirijit. "The globalization of Thai cuisine." Canadian Council for Southeast Asian Studies Conference, York University, Toronto. 2005.

“Increasing the Number of “Thai Select” Restaurants Worldwide.” ¡ÃÁ"ÃЪÒÊÑÁ¾Ñ¹¸ì, thailand.prd.go.th/ewt_news.php?nid=3858.

Lipscomb, Anna. "Culinary Relations: Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan." The Yale Review of International Studies (2019).

"UNWTO World Tourism Barometer: August/September 2020 | World Tourism Organization".

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini