Merawat Ular-Ular Eksotis oleh Komunitas Pencinta Reptil

Merawat Ular-Ular Eksotis oleh Komunitas Pencinta Reptil
info gambar utama

Kawan GNFI, sebagian besar masyarakat di Indonesia memang masih beranggapan bahwa reptil, seperti ular, buaya, biawak, dan iguana adalah hewan yang menakutkan dan berbahaya. Padahal, reptil merupakan hewan yang memiliki sifat pemalu dan dapat dijadikan “sahabat”. Setidaknya, itu yang diyakini para komunitas pencinta reptil, terkhusus ular.

Reptil berasal dari bahasa Inggris “reptile”, terjemahan dari bahasa Yunani “reptum” yang bermakna “melata”. Sebutan reptil diperuntukan bagi sekelompok hewan yang memiliki tulang belakang (vertebrata), berdarah dingin, dan memiliki kulit kering (sisik) yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya.

Menukil sejarahnya, tentu ada yang menarik tentang populasi hewan yang satu ini, yakni reptil pertama diyakini telah berevolusi sekitar 320 juta tahun yang lalu, dan hampir semuanya berdarah dingin. Selain itu, tubuhnya pun ditutupi sisik, memiliki pelat tulang eksternal seperti cangkang, dan bernafas dengan paru-paru.

Hewan reptil lazimnya menggunakan berbagai metode untuk mempertahankan diri dari situasi berbahaya di alam liar, seperti menghindari manusia, berkamuflase, mendesis, dan menggigit. Lain itu, reptil juga memiliki ukuran otak yang relatif lebih kecil ketimbang mamalia.

Indonesia gudangnya ular eksotis

Sebagai sebuah negara kepulauan dengan iklim tropis dan suhu lembab, Indonesia tentunya memiliki beragam ular yang eksotis, bahkan di antaranya berstatus ular endemik. Berikut beberapa ular endemik Indonesia, yang sebagian di antaranya tergolong langka.

1. Kategori ular endemik sering ditemukan:

Ular Weling (Bungarus candidus)

ular weling
info gambar

Sebaran:

  • Jawa,
  • Sumatra,
  • Bali,
  • Sulawesi.

Ular Welang (Bungarus fasciatus)

Ular Welang
info gambar

Sebaran:

  • Jawa,
  • Kalimantan,
  • Kepulauan Mentawai,
  • Kepulauan Natuna,
  • Sumatra,
  • Ambon.

Ular putih Papua (Micropechis ikaheka)

Ular sendok Jawa
info gambar

Sebaran:

  • Papua.

Ular Picung (Rhabdophis subminiatus)

Ular Picung
info gambar

Sebaran:

  • Sumatra,
  • Jawa,
  • Kalimantan,
  • Sulawesi.

Ular Cabai Kecil (Calliophis intestinalis)

Ular cabai kecil
info gambar

Sebaran:

  • Jawa,
  • Kepulauan Mentawai,
  • Sumatra.

Ular bandotan pohon (Trimeresurus puniceus)

Ular bandotan pohon
info gambar

Sebaran:

  • Jawa,
  • Sumatra,
  • Kepulauan Natuna,
  • Kepulauan Mentawai,
  • Simalur.

2. Kategori ular endemik jarang ditemukan:

Ular punggung merah Papua/Coastal Taipan (Oxyuranus scutellatus)

Ular punggung merah papua
info gambar

Sebaran:

  • Papua.

Ular Pit Viper hijau (Parias hageni)

Pit Viper hijau
info gambar

Sebaran:

  • Sumatra,
  • Jawa,
  • Kalimantan,
  • Sulawesi.

Ular Pit Viper hijau Borneo/Bornean Keeled Green Pit Viper (Tropidolaemus subannulatus)

Pit viper borneo
info gambar

Sebaran:

  • Belitung,
  • Kalimantan,
  • Buton,
  • Kepulauan Sangihe,
  • Sulawesi.

Ular Pit Viper Sunda/Pit Viper biru (Trimeresurus insularis)

pit viper sunda
info gambar

Sebaran:

  • Adonara,
  • Alor,
  • Bali,
  • Flores,
  • Lombok,
  • Sumba,
  • Sumbawa,
  • Timor,
  • Timor-Leste.

Ular Pit Viper Sumatra (Parias sumatranus)

Pit Viper Sumatra
info gambar

Sebaran:

  • Simalur,
  • Simeulue,
  • Nias,
  • Kepualuan Mentawi,
  • Sumatra,
  • Bangka,
  • Belitung.

3. Kategori ular endemik langka:

Ular Kepala Merah/Red Headed Krait (Bungarus flaviceps)

Ular kepala merah
info gambar

Sebaran:

  • Bangka,
  • Sumatra,
  • Jawa,
  • Belitung,
  • Kalimantan.

Ular Cabai Besar (Calliophis bivirgatus)

Ulai cabai besar
info gambar

Sebaran:

  • Sumatera,
  • Kalimantan,
  • Bangka,
  • Kepulauan Lingga,
  • Nias,
  • Kepulauan Mentawai,
  • Kepulauan Riau.

Ular Pit Viper Candi/Broad Banded Temple Pit Viper (Tropidolaemus laticinctus)

Pit viper candi
info gambar

Sebaran:

  • Sumatra.

Ular sanca hijau (Morelia viridis)

Ular piton hijau papua
info gambar

Sebaran:

  • Papua.

Ular sanca pelangi (Leiophyton albertisii)

Sanca pelangi papua
info gambar

Sebaran:

  • Papua.

Ular sanca Puraca (Python breitensteini)

Sanca Puraca
info gambar

Sebaran:

  • Kalimantan.

Ular sanca bulan (Simalia boeleni)

Sanca bulan
info gambar

Sebaran:

  • Papua.

Ular sanca emas (Morelia clastolepis)

Sanca emas Maluku
info gambar

Sebaran:

  • Maluku.

Lantas, seperti apa hewan reptil di mata komunitas pencinta reptil di Indonesia, khususnya pencinta ular. Berikut tanggapan dari kalangan komunitas yang cukup memahami bagaimana cara menghadapi reptil dan memperlalukan mereka secara baik ketika di pelihara.

Visi dan misi komunitas reptil di Indonesia

Sebagai salah satu upaya untuk melestarikan dan mengenalkan ular-ular eksotis Indonesia itu, beberapa kalangan komunitas pencinta reptil—khusus pencinta ular—acapkali melakukan literasi dengan masyarakat dan orang-orang yang alergi terhadap ular.

Wajar saja, karena ular-ular acapkali masuk ke pemukiman penduduk untuk mencari mangsa, dari ular kecil, hingga ular besar dan panjang. Ketakutan-ketakutan itu pada akhirnya membuat ular-ular tersebut dibunuh.

Oleh sebab itu, salah satu komunitas pencinta ular, yakni Komunitas Pencinta Reptil Jakarta (KPRJ) berupaya untuk mengedukasi masyarakat bahwa hewan reptil—terutama ular--tidak berbahaya, bahkan bukan momok seperti yang diyakini masyarakat saat ini.

Meski ular memiliki daya ingat yang kurang baik ketimbang hewan mamalia, namun dapat dijinakkan dan ditangani dengan mudah.

Menurut Momo, ketua komunitas yang didirikan pada 2015 itu, Indonesia memiliki kekayaan jenis reptil, khususnya reptil yang berasal dari Indonesia bagian timur. Ia juga menyebut jika dibandingkan dengan reptil asal kepualuan lain seperti Afrika dan Australia, reptil-reptil yang sangat eksotis sehingga banyak orang yang ingin memeliharanya.

“Jangan sampai kita memelihara reptil yang dilindungi oleh pemerintah. Hal ini yang kami tekankan kepada seluruh anggota,” kata pencinta ular sanca dan iguana itu pada penulis, Minggu (8/11/2020).

KPRJ juga menekankan sebuah aturan untuk tak membawa sembarang ular saat kopi darat (kopdar) yang mereka lakukan dua kali saban bulannya.

Lebih jauh, Momo menyebut bahwa KPRJ juga merupakan komunitas yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat yang awam atas perilaku ular. Dia menyebut, jangan sembarag memberikan atau menyerahkan ular kepada orang karena ular belum tentu senang dengan bau manusia yang berbeda--selain pemilik.

''jangan asal pegang walau itu jinak karena kita gak tahu karakter ularnya,'' tandasnya.

Sejak terbentuk lima tahun lalu, sudah ada ribuan anggota yang telah bergabung dalam akun facebook KPRJ yang berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, serta masih terbuka untuk wilayah lainnya.

Para anggota mengaku tertarik bergabung karenya nyatanya memelihara reptil cenderung mudah serta memiliki keunikan tersendiri. Umumnya, jika sudah memiliki satu, banyak di antara anggota yang ingin menambah spesies lainnya.

Komunitas juga menjadi ajang tukar pikiran serta menjadi ajang tukar informasi kepada orang awam yang ingin mengetahui karakter hewan-hewan reptil.

Lain KPRJ, ada juga komunitas pencinta ular Sioux Indonesia. Komunitas ini merupakan pengembangan dari komunitas pramuka pecinta reptil di Yogyakarta bernama Natrix Scout di tahun 1998. Nama Sioux diambil dari bahasa Indian yang bermakna ‘’Ular’’.

Menukil Suara.com, Sioux kemudian berperan sebagai yayasan yang hadir di tengah masyarakat bukan untuk semata-mata menyelamatkan ular yang masuk ke rumah warga tapi memberikan edukasi terkait dengan ular itu sendiri. Sejak dibentuk 2003, hingga kini sudah ada banyak relawan yang hadir di 12 provinsi di Indonesia.

Bagi kalangan komunitas, keberadaan ular-ular secara tak langsung menjaga keseimbangan alam. Karenanya tak heran jika kalangan komunitas menganggap ular sebagai penjaga ekositem alam. Secara tak langsung memang, beberaoa rantai makanan ular ada di sekitar lingkungan penduduk, seperti tikus, kodok, dan masih banyak lagi.

Lain itu, mereka menilai pada dasarnya ular bukanlah ingin mengganggu manusia jika mereka datang ke pemukiman penduduk. Para ular itu umumnya mencari tempat persembunyian, atau merasa terancam di habitatnya.

Merawat ular cenderung lebih mudah

Bagi mereka, memang memelihara ular susah-susah gampang. Mulai dari memandikan, mengawasi pergantian kulit, hingga memberi makan, semisal tikus hingga ayam. Tikus umumnya diberikan pada ular-ular yang masih kecil hingga remaja, lalu pemberian makan ayam mulai dilakukan ketika ular menginjak dewasa.

Memelihara ular juga membuka wawasan mereka atas jenis dan spesies ular-ular yang ada, khususnya di Indonesia. Karena memang nyatanya banyak sekali ular-ular di Indonesia yang meuncul jenis baru akibat kawin silang spesies namun dari jenis yang berbeda. Tak heran, di kalangan pencinta ular banyak ular-ular dengan warna eksotis dan beragam dari hasil kawin silang tersebut.

''Umumnya harga ular kawin silang cukup mahal, karena memang langka. Apalagi yang albino, memeliharanya harus telaten, karena ular albino juga tak boleh terlalu sering terkena sinar matahari, ia memiliki kelainan genetik/pigmen,'' beber Momo.

Momo juga bilang, untuk penempatan ular, tak perlu tempat besar. Jika masih kecil cukup ditempatkan di bak plastik, dengan tutup bak yang tak terlalu keras.

''Kalau terlalu keras, biasanya saat ular sodok-sodok penutupnya bisa terluka mulutnya, dan infeksi," pesannya.

Yang paling penting bagi Momo, memelihara ular adalah soal memahami perilaku hewan tersebut. Semakin kita memahami, maka ular akan semakin jinak dan kenal dengan pemiliknya.

Lain Momo, lain pula Willy yang dua tahun belakangan mulai menjadi pencinta ular eksotis. Willy yang saat ini merawat Ball Phyton (BP) mengaku menyukai reptil tersebut karena keelokan warnanya. Lain itu, jenis BP ternyata tak terlalu rewel, karena hanya makan satu kali tiap dua pekan, itu juga menurutnya pakannya mudah didapat, dengan harga antara Rp4-8 ribuan.

"BP termasuk ular yang tangguh juga ya. Rekor gue pernah gak kasih makan sampe 3 bulan, dan masih baik-baik saja," akunya awal pekan lalu.

Namun keduanya memberi pesan, jika memelihara ular dan ada anggota keluarga yang masih balita, setidaknya diawasi secara seksama, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Potensi bisnis yang menggiurkan

Tak hanya menyenangkan, nyatanya hobi memelihara ular dan menenakannya juga bisa memberikan omzet yang menggiurkan. Dari beberapa pengakuan pencinta ular yang sekaligus melakukan ternak ular eksotis, rerata bisa menjual ular mulai dari Rp100 hingga Rp1,5 juta untuk satu ekor ular anakan. Harga itu tergantung dari jenis ular yang dijual, misal anakan sanca hingga anakan sanca albino.

Para pencinta tersebut tentu melakukan beberapa perawatan atas ular-ular tadi. Disarankan, untuk bisa menjinakkan ular, peliharalah mereka sejak kecil. Dan ketika dewasa dikawinkan setahun sekali yang bisa menghasilkan telur hingga 30 butir. Dari 30 butir telur tersebut, biasanya yang menetas sekitar 70-90 persen.

Nah, kawan GNFI, bagaimana? tertarik untuk memelihara ular-ular eksotis Indonesia?

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini