Wisata Pabrik, Alternatif Bali Pasca Pandemi

Wisata Pabrik, Alternatif Bali Pasca Pandemi
info gambar utama

Ketika mendengar kata "pabrik", kebanyakan orang Indonesia tidak akan mengaitkannya dengan "wisata". Wisata kok ke pabrik? Bukankah pabrik isinya buruh, asap, dan mesin?

Sebetulnya tidak. Banyak negara yang sudah mengeksplorasi wisata pabrik, terutama ke sentra produksi produk unggulannya. Wisata ke perkebunan teh Longjing di Hangzhou, Tiongkok misalnya.

Selalu melibatkan kunjungan ke salah satu pabrik produsen teh, pengunjung bisa melihat dan menikmati proses pembuatan teh. Sekaligus bisa membawa pulang beberapa bungkus teh sebagai oleh-oleh.

Namun di Indonesia, hal ini masih sangat jarang dilakukan. Padahal, prosesnya sangat menarik untuk dilihat, lho!

Misalnya, pengalaman saya mengunjungi pabrik kecap Cap Tawon (Eka Jaya) di Madiun, Jawa Timur. Aura tradisional sudah menyambut sejak pintu utama dibuka dibawah logo tawon besar di Jl. H. Agus Salim No. 125, Madiun. Wow, inilah logo tawon asli yang tertera di setiap botol kecap Cap Tawon.

Aroma gurih kedelai langsung menyambut, ditimpali dengan aroma sedap dari gula merah yang dicairkan. Ketika masuk ke dalam, terlihat jajaran tong-tong gerabah kuno, seperti pabrik kimchi di film Korea, tetapi ini berisi fermentasi kedelai.

Belum habis rasa kagum saya, ruangan sebelahnya lebih spektakuler lagi. Wajan raksasa seperti pembuatan dodol di Tangerang, dengan api sekam padi, bergolak penuh cairan lelehan gula merah yang diaduk dengan seksama.

Di sinilah kita bisa selfie sambil memegang gagang pengaduknya, lalu mencoba mengaduk. Astaga, cukup berat! Dari kunjungan ini kita bisa belajar proses pembuatan kecap manis, selfie dengan wajan raksasa, bahkan bisa membawa pulang beberapa botol kecap Cap Tawon untuk oleh-oleh.

Ketika kita bertemu kecap manis di minimarket Jakarta, kita bisa lebih memahami, bagaimana sulitnya kecap ini dibuat, dan lebih sedap menikmati soto ayam yang dibubuhi kecap Cap Tawon.

Masih dalam rangka membantu Bali bangkit setelah pandemi. Wisata pabrik ini sangat patut dikembangkan di Pulau Dewata. Salah satu yang sudah mengembangkannya secara resmi adalah PT Sababay Industry di Gianyar, produsen Sababay Wine.

Pekerja di Sababay Winery Bali
info gambar

Dengan perjanjian, para turis bisa melihat bagaimana anggur dari Bali Utara diperas dengan mesin teknologi canggih, sehingga jus anggur bisa terekstrak tanpa mengambil batang dan bijinya.

Berikutnya, pengunjung bisa menyaksikan sendiri bagaimana proses fermentasi dilakukan dengan tanki-tanki raksasa setinggi 5 meter, dengan kesempatan selfie bersama salah satunya.

Lalu, dalam ruangan pembotolan yang berdinding kaca, ditunjukkan bagaimana caranya membotolkan minuman dengan kecepatan 60 botol per menit. Dan jika semuanya sudah selesai, aroma fermentasi anggur yang sedari tadi menggoda hidung Anda, akan terpuaskan dengan sesi icip-icip di ruang tamu, sambil menyantap singkong goreng dan menikmati pemandangan Teluk Saba di terasnya.

Ingin bawa untuk oleh-oleh? Sudah tersedia di tengah taman cantik di depan pabrik!

Wisata pabrik punya fungsi ganda. Untuk wisatawan asing, kegiatan ini penting untuk mendukung produk Indonesia yang diproduksi, yang kemungkinan diekspor ke negara-negara asal wisatawan tersebut.

Pengalaman hadir dan melihat sendiri proses produksinya, menimbulkan kepercayaan tinggi sehingga bahkan ketika sudah sampai di rumah, devisa bisa dihasilkan dengan meningkatnya penjualan ekspor penjualan produk-produk tersebut. Nama Indonesia semakin terpercaya, sebagai lambang kualitas tinggi dan teknologi.

Untuk wisatawan dalam negeri, wisata pabrik bisa memperbaiki citra industri yang selama ini dipandang kurang baik di masyarakat. Industri dianggap sebagai oligarki yang mengancam alam, mengeksploitasi buruh, dan lain-lain.

Padahal, banyak sekali pabrik-pabrik yang dibangun dengan visi dan misi yang positif, bahkan pabrik-pabrik yang handal menjadi simbol bangsa yang produktif dan berdaya guna. Ketika wisatawan domestik memasukkan wisata pabrik dalam jadwalnya, mereka bisa melihat betapa produk lokal Indonesia diproduksi dengan higienis, ramah lingkungan, dan membawa kebaikan bagi petani dan masyarakat sekitar.

Bukan tertutup kemungkinan, ide-ide produk lokal baru muncul ketika berwisata, dengan sebuah slogan sebagai kesimpulan: "Ternyata, Indonesia bisa!"*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini