Hari Toleransi Internasional, Ini Dia Bentuk Miniatur Keberagaman di Indonesia

Hari Toleransi Internasional, Ini Dia Bentuk Miniatur Keberagaman di Indonesia
info gambar utama

Kawan GNFI, setiap tahunnya tanggal 16 November diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional. Organisasi nirlaba United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mendeklarasikan Hari Toleransi Internasional ini dalam sebuah konferensi di Paris, Prancis, yang berakhir pada 16 November 1996. Pembentukan hari spesial ini dilatarbelakangi permasalahan yang terjadi pada umat manusia, seperti ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi, dan marginalisasi.

Keberagaman menjadi pemicu utama permasalah tersebut mencuat. Karena gesekan perbedaan yang kontras antara manusia di dunia, konflik besar pun tak terhindari.

Padahal, menurut UNESCO keberagaman seperti agama, bahasa, budaya, dan etnis mestinya tidak menjadi alasan terjadinya sebuah konflik, tetapi justru harus dinilai sebagai harta yang memperkaya dunia.

Indonesia salah satunya, dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote, kita juga memiliki harta berupa keberagaman Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Tentunya kita tidak menutup mata, dari "harta" tersebut Indonesia juga pernah mengalami kisah pilu, salah satunya berupa konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama. Namun, sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang sosilog Jerman-Inggris, Ralf Dahrendrof, sejatinya fenomena konflik merupakan hal yang biasa terjadi dan ia memang selalu hadir (inherent omni-presence) menyertai pola interaksi manusia sepanjang masa.

Persoalannya kini tinggal bagaimana masyarakat dan segenap elemen di dalamnya mampu mengelola konflik tadi, sehingga menjadi energi positif ke arah integrasi yang menciptakan kerukunan.

Nah optimisnya, Kawan GNFI mesti tahu, data terakhir dari Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) pada 2019. Indeks KUB telah menunjukkan kondisi kerukunan Indonesia mengalami peningkatan dengan angka rata-rata 73,83 atau masuk dalam kategori "Rukun Tinggi".

Adapun bentuk konkretnya, GNFI akan memberikan gambaran tentang kerukunan umat beragama di Indonesia. Terdapat "5 Miniatur keberagaman di Indonesia" yang berhasil kami rangkum, berikut uraiannya:

  1. Toleransi beragama di Kampung Sawah Bekasi, Jawa Barat

Sudah dikenal dengan julukan kampung tolerasi beragama, pasalnya potret kerukunan terjalin antar warga heterogen di sana. Saling tolong menolong di perayaan hari besar setiap umat agama merupakan bentuk interaksi harmonis yang telah dilakukan oleh warga setempat.

Selain itu beberapa bangunan ibadah juga menjadi saksi bisu kerukunan, hal ini ditandai dengan keberadaannya yang terletak berdekatan satu sama sama lain, semuanya berada di Jalan Raya Kampung Sawah.

Siswa-siswi peserta tur tengah berfoto di depan Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Kampung Sawah.Sumber: voaindonesia.com/Rio Tuasikal
info gambar

Ketiga tempat ibadah itu adalah Masjid Agung Al Jauhar Yayasan Pendidikan Fisabilillah (Yasfi), Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Kampung Sawah, dan Gereja Katolik Santo Servatius.

Menariknya lagi kawasan ini juga membuka wisata toleransi. Dilansir dari VOAIndonesia.com (7/05/2019), Dua puluhan siswa-siswi peserta tur telah mengunjungi lima rumah ibadah dan mengenal ajaran agama yang berbeda di kampung tersebut.

  1. Toleransi beragama di Fakfak, Papua Barat

Kawan GNFI, kita terbang ke wilayah timur Indonesia, ada filosofi hidup yang dianut masyarakat Fakfak tentang kehidupan beragama yakni semboyan Satu Tungku Tiga Batu. Kata ‘Tiga Batu’ tersebut mewakili umat Muslim, Katolik, dan Protestan.

Tugu Satu Tungku Tiga Batu, potret keharmonisan toleransi beragama di Fakfak.Sumber: Liputan6.com/Hari Suroto/Katharina Janur
info gambar

Dilansir dari Tempo.co (18/01/2020), salah satu bukti adanya toleransi agama di Fakfak ialah Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Masjid Patimburak dibangun oleh Raja Pertuanan Wertuar pada 1870, arsitektur masjid ini sangat unik karena ada perpaduan bentuk masjid dan gereja.

Rumah ibadah muslim ini merupakan wujud dari nilai Satu Tungku Tiga batu, yang dibangun secara gotong royong oleh warga Pertuanan Wertuar baik yang memeluk agama Islam maupun Kristen Protestan atau Katolik.

  1. Toleransi beragama di Desa Ngadas, Jawa Timur

Gotong royong juga ditunjukkan oleh masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Bromo ini dalam membuat bangunan ibadah, masyarakat suku Tengger yang berbeda agama bahu membahu membuat tempat ibadah umat Buddha yakni Vihara pada 1985, disusul Pura tempat umat Hindu pada 1986, dan Masjid tempat ibadah umat Islam dibangun pada 1987.

Umat Hindu bersembahyang Hari Raya Galungan dengar latar Pura dan Musala Desa Ngadas.Sumber: Terakota/Eko Widianto
info gambar

Selain itu, umat Hindu, Buddha, dan Islam juga berdekatan dalam membangun rumah, hal ini karena kondisi lingkungan alam yang berbukit-bukit dan jarang dijumpai tanah datar luas di daerah Ngadas. Kiki Muhamad Hakiki dan Zaenal Muttaqien dalam artikel jurnal Konflik dan Integrasi Sosial. Namun, kondisi tersebut ternyata membuat komunikasi di antara mereka semakin intens sehingga masih-masing tidak menjadi asing dengan yang lainnya, tulis .

  1. Toleransi Beragama di Desa Pegayaman, Bali

Kawan GNFI, Bali yang dikenal dengan sebutan God’s Island atau Pulau dewata juga menyimpan cerita toleransi kerukunan beragama.

''Tolerasi sudah lama terjalin di Kabupaten Buleleng dan sangat jarang ditemukan pergesekan antarumat beragama, karena rasa persaudaraan sudah terpupuk dari nenek moyang masyarakat Buleleng,'' ucap sejarawan dan akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, I Made Pageh, dilansir GNFI Tempo.co (22/05/2017).

Potret Toleransi di Desa Pegayaman.Sumber: Dishub.bulelengkab.go.id
info gambar

Dalam perayaan hari-hari besar agama di Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng pun telah tercipta toleransi yang cukup tinggi.

''Pada waktu Hari Raya Nyepi misalnya, masyarakat Bali tidak boleh menyalakan lampu dan berdiam diri di rumah, umat Islam dan Kristen juga mengikutinya,'' tulis Cahyo Pamungkas pada artikel jurnal Toleransi Beragama Dalam Praktik Sosial Studi Kasus Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Kabupaten Buleleng.

Lalu, simbol kebersamaan dengan bentuk mengantarkan makanan pada hari-hari besar keagamaan juga mempererat tali persaudaraan dan rasa kebersamaan, seperti pada Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu turut memberikan makanan kepada tetangganya yang berbeda agama. Sebaliknya, saat Lebaran dan Hari Raya Kurban, umat Islam yang memberikan makanan kepada tetangga sekitar rumah.

  1. Toleransi Beragama di Jembrana, Bali

Terakhir masih dari Bali, yakni rival Kerajaan Buleleng pada 1660, Kerajaan Jembrana. Kerukunan beragama di daerah tersebut ialah Tradisi Male yang menjadi bukti toleransi kuat antara umat Muslim dan Hindu di Kabupaten Jembarna.

Tradisi ini dilakukan masyarakat Islam Jembrana ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ritual ini dimulai dengan berkeliling kampung sambil membawa telur yang telah dibentuk dengan berbagai corak atau sesuai dengan selera yang diinginkan pembuatnya seperti pura, perahu, masjid, rumah, dan lain-lain.

Male yang diarak mengelilingi kampung ini dikawal oleh pasukan khusus dan adat Bali yang disebut Pager Uyung. Adapun Pager Uyung ialah kaum kesatria adat yang diwakili oleh beberapa orang, baik dari umat Islam maupun Hindu.

Potret Tradisi Male, bukti toleransi umat Hindu dan Muslim di Jembrana.Sumber: beritabali.com
info gambar

Setelah selesai mengelilingi kampung, kemudian seluruh male atau telur yang telah dihiasi tersebut dikumpulkan di dalam masjid sambil diiringi bacaan shalawat. Pembacaan doa menjadi acara penutup sebelum telur-telur dibagikan kepada masyarakat yang hadir di sana, Ketika telur dibagikan masyarakat sangat berantusias untuk mendapatkannya walau harus berdesak desakan, karena mereka bekeyakinanakan mendapat barokah serta keselamatan dengan male yang telah didoakan oleh para ulama tadi.

Demikian terungkap dalam artikel ilmiah yang berjudul Toleransi Umat Beragama Di Desa Loloan, Jembrana, Bali (Ditinjau dari Perspektif Sejarah) yang ditulis oleh M. Abdul Karim.

Nah, itulah kawan beberapa manifestasi dari kerukunan beragama di Indonesia, GNFI percaya masih banyak lagi miniatur keberagaman di tanah air yang menjunjung tinggi toleransi.

---

Referensi: Tempo.co | VOAIndonesia.com | M. Abdul Karim, "Toleransi Umat Beragama Di Desa Loloan, Jembrana, Bali (Ditinjau dari Perspektif Sejarah) | Cahyo Pamungkas, "Toleransi Beragama Dalam Praktik Sosial Studi Kasus Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Kabupaten Buleleng" | Kiki Muhamad Hakiki, Zaenal Muttaqien, "Konflik dan Integrasi Sosial"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini