Refleksi Hari Pahlawan, Berbagai Komunitas Menanam Mangrove

Refleksi Hari Pahlawan, Berbagai Komunitas Menanam Mangrove
info gambar utama

Semangat anak muda dan kawan-kawan dari berbagai komunitas untuk menanam mangrove adalah wujud kecintaan dan kepedulian kepada lingkungan. Ini dilakukan bukan semata-mata hanya memperingati Hari Pahlawan saja, tapi dilakukan demi kebaikan lingkungan untuk masa depan selayaknya perjuangan para pahlawan terdahulu untuk masa depan generasi selanjutnya.

Penanaman Mangrove dilakukan pada Selasa (10/11) lalu di Pokko, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh BPDAS, LAM, dan MES, serta berbagai komunitas maupun organisasi yang turut andil dalam kegiatan ini. Di antaranya ACT-MRI Takalar, Hipermata, FBN, FKPM, Formasita, IWO, Rumah Tahfidz Al-Muhajirin, dan Yayasan Sembilan Bintang.

Daeng Tompo sebagai salah satu inisiator dari kegiatan ini memberikan sambutan, sekaligus arahan tentang bagaimana cara menanam mangrove yang baik dan benar.

"Alhamdulillah, hari ini dengan dibantu oleh adik-adik relawan dari berbagai komunitas, kita akan menanam mangrove secara bersama-sama untuk kelestarian alam kita sebagai modal untuk masa depan Kabupaten Takalar," jelas Daeng Tompo.

Setelah selesai sambutan sekaligus arahan kepada kawan-kawan relawan berbagai komunitas, ditutup dengan doa bersama untuk kelancaran kegiatan tersebut.

Penanaman Mangrove ini dilakukan oleh berbagai komunitas dengan dibeberapa titik atau tempat yang telah disediakan. Kawan-kawan dari ACT-MRI Takalar menanam bibit mangrove di tempat yang berlumpur, sehingga agak kewalahan dalam menanamnya. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka yang diselingi oleh canda tawa dari kawan-kawan.

Sesuai arahan Daeng Tompo, jarak antara bibit satu dengan lainnya adalah satu meter, yang ditandai dengan sebuah tali yang telah diatur jaraknya untuk lebih memudahkan. Mereka juga diberi sebuah alat yang berfungsi untuk mengangkat tanah berlumpur sebagai lubang menanam mangrove.

Setelah kegiatan selesai, dilanjutkan dengan bakar ikan dan makan bersama. Tentunya sampah-sampah yang berserakan dikumpulkan untuk kemudian dibuang ke tempatnya.

"Kita sebenarnya bisa bayar orang untuk tanam mangrove tersebut, tapi kepedulian kita untuk keberlanjutan dari penanaman mangrove ini maka kami memanggil teman-teman relawan sekaligus anak muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan," lanjut Daeng Tompo.

Gambaran Mangrove yang sudah ditanam | Foto: liputan6.com
info gambar

Seperti yang diketahui bersama, bahwa fungsi penanaman mangrove ini sebagai upaya pencegahan dari abrasi atau erosi pantai, karena kekuatan dari akar mangrove terbukti ampuh dan efektif sebagai penahan tanah.

Kegiatan penanam mangrove yang bertepatan dengan Hari Pahlawan ini bertujuan sebagai refleksi perjuangan pahlawan untuk kehidupan ke depannya. Maka dari itu, tujuan diadakannya kegiatan ini untuk menggelorakan semangat anak muda, sebagai agen perubahan, sekaligus melestarikan alam yang telah tuhan titipkan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini