Sejarah Hari Ini (17 November 1954) - Sambutan Ibu Kota untuk Rudolf Lawalata

Sejarah Hari Ini (17 November 1954) - Sambutan Ibu Kota untuk Rudolf Lawalata
info gambar utama

Siang bolong yang terik pada Rabu, 17 November 1954, sebuah penyambutan dilakukan di tapal batas kota Jakarta bagian timur, tepatnya di Jatinegara.

Bukan pejabat negara, melainkan orang biasa yang dianggap luar biasa karena keinginannya berkeliling dunia dengan berjalan kaki.

Orang itu bernama Rudolf Lawalata, seorang pria asal Maluku yang tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan.

Berawal dari hobi membaca, sosok dengan tinggi 155 sentimeter ini memulai petualangannya dari Surabaya pada 9 Oktober 1954.

Dari Surabaya ia bertolak ke Semarang, Cirebon, melewati Sumedang, Bandung, dan Bogor sebelum sampai di Jakarta.

Sekitar 850 kilometer jarak dari Surabaya ke Jakarta ditempuhnya dengan jalan kaki.

"Cuma jarak pertama dari Surabaya ke Lamongan berat sekali. Seluruh tubuh berasa sakit, seakan-akan tidak bisa bergerak pula. Tetapi jarak-jarak selanjutnya tiada dirasakan berat," kata Rudolf kala itu, dikutip GNFI dari Star Weekly.

Pengecualian ketika sampai daerah Cepu dan Pati, Lawalata terpaksa naik mobil Jeep karena kakinya bengkak.

Namun, setelah mendapatkan perawatan dengan beras kencur oleh seorang istri bupati setempat ia kembali jalan seperti biasa hingga sampai di ibu kota.

"Setiap harinya rata-rata saya tempuh antara 30 sampai 50 kilometer. Kecepatan saya rata-rata adalah 1 kilometer, dalam 8 menit," tuturnya.

Tidak ada uang sepeserpun yang ia keluarkan, karena banyak dukungan mengalir ke Lawalata untuk mewujudkan mimpinya.

Misalnya ia mendapatkan tiket gratis ke Surabaya dari sebuah perusahaan Makassar. Lalu ketika singgah di suatu sebuah daerah, biasanya Lurah atau Camat setempat akan menyediakan tempat untuk istirahat.

Sekitar sebulan perjalanan dari Surabaya, akhirnya Lawalata tiba di Jatinegara. Sambutan pun diberikan warga sekitar yang kemudian mengiringi langkah Lawalata yang sedang berjalan menuju balai kota kantor dari Wali Kota Sudiro.

Sesampainya di balai kota Jakarta, ia langsung disambut Sudiro dan memintanya naik meja agar banyak orang melihat dirinya.

"Sambutan yang demikian meriahnya tak disangka-sangka oleh Lawalata ketika ia meninggalkan Makassar, malahan di sana ada pula yang mengejeknya," terang laporan Star Weekly.

Agenda Lawalata di Jakarta padat, ia direncanakan berjumpa dengan Presiden Sukarno yang berjanji memberinya kamera, mengurus visa di Ditjen Imigrasi dan Kementerian Luar Negeri, dan menjalin hubungan dengan Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo, sekarang menjadi Pramuka) serta Komite Olahraga Indonesia.

Ditemani Dua Petualang

Lawalata berkelana ke luar negeri tidak sendiri, ia ditemani dua orang yang mempunyai mimpi yang sama sepertinya yakni Sujono Djono dan Abdullah Balbed.

Petualangan ketiganya baru dimulai pada awal Januari 1955.

Tepatnya pada 8 Januari 1955, mereka menghadap Presiden Sukarno di Istana Negara untuk pamit dan mendapatkan restu.

Oleh Sukarno ketiganya mendapatkan sejumlah hadiah untuk perbekalan di perjalanan di antaranya ialah kamera Zeiss Ikon, tiga buah ransel, enam baju batik, ukulele, pita rekaman lagu-lagu Indonesia, dan uang Rp 50 (lima puluh rupiah).

Sukarno berpesan pada ketiganya agar bisa memperkenalkan Indonesia pada orang-orang di luar negeri.

"Anakku Rudolf Lawalata, Sujono Djono, Abdullah Balbed, bawalah dirimu mengelilingi dunia tapi tunjukanlah jiwamu tetap kepada Tuhan dan Indonesia," begitulah pesan Sukarno pada ketiganya, dikutip dari buku Rp 50 Keliling Dunia karya Sujono Djono.

---

Referensi: Star Weekly | Sujono Djono, "Rp 50 Keliling Dunia"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini