Akhirnya Joglo Semar Bakal Saling Terhubung dengan Beton

Akhirnya Joglo Semar Bakal Saling Terhubung dengan Beton
info gambar utama

Kawan GNFI, setelah lama bertahun-tahun wacana maju mudur soal jalan tol Yogyakarta-Bawen, hingga akhirnya jalan tol ini bakal terwujud. Jalan tol sepanjang 75,8 km dikatakan akan mulai dibangun pada pertengahan 2021, dan direncanakan tuntas pada akhir 2023.

Kesepakatan tersebut ditandai dengan prosesi penandatanganan perjanjian pengusahaan jalan tol yang digelar di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jumat (13/11/2020).

Perjanjian itu diteken oleh Danang Parikesit, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Mirza Nurul Handayani, pimpinan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasamarga Bawen-Yogyakarta. Konsorsium yang akan menggarap proyek strategis tersebut kata Danang akan memulai konstruksi dan pembebasan tanah selesai.

''...Mudah-mudahan bisa selesai kuartal III (Q3) tahun 2023.’’ katanya menukil laman Indonesia.go.id.

Untuk masa pengusahaan jalan tol ditetapkan selama 40 tahun dimulai sejak penerbitan surat perintah kerja (SPK) kepada masing-masing perusahaan.

"Dengan nilai investasi Rp14,2 triliun, diperkirakan internal rate of return-nya itu sebesar 12,48 persen," kata Danang yang juga menyebut bahwa sebagai bisnis investasi angka tersebut cukup layak.

Sebelumnya penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) juga dilakukan oleh PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) dengan Kementerian PUPR pada 10 November 2020.

Dalam BUJT Tol Yogyakarta-Bawen itu sekiranya akan menggabungkan lima BUMN karya, yakni:

  • PT Jasa Marga (Persero) Tbk dengan porsi saham 60 persen,
  • PT Adhi Karya Tbk (saham 12,5 persen),
  • PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan saham 12,5 persen,
  • PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dengan saham 12,5 persen, dan
  • PT Brantas Abipraya (Persero) yang sahamnya 2,5 persen.

Bagian dari proyek strategis nasional

Proyek jalan tol ini memang telah ditetapkan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Presiden (Perpres) nomor 58 tahun 2017, dan ditetapkan sebagai Proyek Infrastruktur Prioritas (PIP) melalui Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Bidang Perekonomian pada 31 Agustus 2017.

Danang juga bilang bahwa dengan kehadiran jalan tol Yogyakarta-Bawen diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan kemajuan ekonomi, khususnya untuk wilayah Joglo Semar (Jogja, Solo, dan Semarang), serta dapat mendukung kawasan pariwisata super prioritas, seperti candi Borobudur.

Dengan jalan tol ini, dikatakan untuk menempuh waktu dari Semarang ke Jogja bakal lebih cepat. Karena selama ini pengendara harus menempuh jalur 105 km, yakni dari Jogja ke Bawen (75 KM) melalui jalan regular dan dari Bawen-Semarang (30 km) melalui jalan tol.

Untuk menyelesaikan perjalanan itu dibutuhkan waktu sekira 2,5-3 jam. Lalu lintas yang padat dan jalan yang sempit dianggap menjadi biang kerok masalah yang kian hari kian kronis.

Jalan tol Yogyakarta-Bawen itu akan melintas di wilayah Jawa Tengah sepanjang 67,05 km dengan ruas tol terdiri dari enam seksi, yakni:

  • Seksi 1 Sleman-Banyurejo (8,25 km),
  • Seksi 2 Banyurejo-Borobudur (15,26 km),
  • Seksi 3 Borobudur-Magelang (8,08 Km),
  • Seksi 4 Magelang-Temanggung (16,46 km),
  • Seksi 5 Temanggung-Ambarawa (22,56 Km), dan
  • Seksi 6 Ambarawa-Bawen (5,21 km).

Dalam pembangunannya, tol Yogyakarta-Bawen bakal memiliki enam simpang susun (SS), yakni:

  • SS Bawen,
  • SS Ambarawa,
  • SS Temanggung,
  • SS Magelang,
  • SS Borobudur, dan
  • SS Banyurejo.

Keenam simpang susun itu juga akan jadi pintu masuk-keluar jalan tol di kedua arah, yang kemudian bakal dilengkapi dengan enam lokasi tempat istirahat dan pelayanan (TIP) atau rest area.

Jalan tol ini juga akan memberikan akses Yogyakarta ke jalan tol TransJawa melalui Magelang, dengan titik temu di Bawen, simpul penting dalam sistem jaringan jalan raya di Jawa Tengah. Dari Semarang, baik dengan jalan tol maupun jalan reguler melewati Bawen untuk menuju Solo.

Di Bawen itu nantinya jalan tol akan memiliki cabang, yakni arah timur menuju Solo, arah selatan menuju Yogya melewati Kota Ambarawa, wilayah Kabupaten Temanggung, Magelang, dan Borobudur.

Dengan melalui tol ini, perjalanan dari Kota Semarang menuju kota-kota pedalaman Jawa Tengah diklaim akan lebih cepat. Misalnya melalui simpang susun Temanggung, pengendara bisa langsung menuju ke Temanggung dalam waktu 15 menit, untuk seterusnya menuju Wonosobo, Banjarnegara, dan Purwokerto.

Sementara dari simpang susun Borobudur, kendaraan akan lebih mudah mengakses Kota Purworejo, Kebumen, hingga Cilacap.

Segitiga emas Joglo Semar

Segitiga Joglo-Semar
info gambar

Ruas tol Yogyakarta-Bawen ini diperkirakan akan rampung pada waktu yang bersamaan dengan tol Solo-Jojya yang saat ini mulai dikerjakan konstruksinya. Jalur ini juga tidak mulai dari nol, namun memanfaatkan jalur tol TransJawa yang sudah ada. Yakni dari titik Kartasura (11 km dari Solo), ruas tol TransJawa itu disudet ke arah barat daya menuju Yogyakarta, melewati Klaten, dan Kompleks Candi Prambanan.

Jalan tol Solo-Jogja akan bertemu dengan tol Semarang-Jogja di daerah Gamping, di sebelah barat Jogja. Dari situ, ruas tol itu akan berlanjut ke bandara baru Yogyakarta International Airport (YIA). Dalam rencana jangka panjang, jalan tol tersebut akan diteruskan ke barat, melalui Purworejo, Kebumen, menuju Cilacap, dan seterusnya sampai ke Bandung.

Dengan dua ruas tol baru itu, ada konektivitas yang kuat dari tiga kota besar yakni Jogja, Solo, dan Semarang yang merupakan wilayah segitiga emas.

Proyeksi Tol Jogja-Solo
info gambar

Joglo Semar memang sejak lama dikenal sebagai sentral industri rumahan dan industri kecil. Sarana jalan tol bisa diharapkan menambah daya saing mereka. Segitiga Mas Joglo Semar ini juga terkenal sebagai daerah wisata domestik dan internasional melalui objek wisata Kawasan Wisata Candi Borobudur sebagai pusat gravitasinya.

Joglo Semar juga diproyeksikan bakal menjadi pusat pertumbuhan bagi kawasan hinterland, yakni area pedalaman di belakangnya.

Dalam struktur produk domestic regional bruto-nya (PDRB), Jogja kuat melalui industri pengolahan, penyediaan akomodasi-makanan (hotel-restoran), informasi dan telekomunikasi, pendidikan, dan administrasi pemerintahan. Sedagkan Semarang menonjol dalam industri pengolahan, perdagangan besar dan ritel, serta kontruksi. Sementara Solo tercatat cukup kuat di sektor perdagangan dan konstruksi pada PDRB-nya.

Pada gilirannya, pusat pertumbuhan itu juga mendorong tumbuhnya industri kecil di hinterland, seperti di Klaten, Karanganyar, Sleman, Salatiga, dan Magelang.

Secara nasional, Jogja dan Semarang juga dikenal dengan tingginya pencapaian dalam soal indeks pembangunan manusia (IPM).

IPM 2019
info gambar

Pada 2019 misalnya, Yogyakarta meraih IPM tertinggi di Indonesia dengan skor 86, mengalahkan pesaing dekat Banda Aceh (85), Jakarta Selatan (85), dan Denpasar (84). Sementara Semarang menjadi penutup lima besar kota-kota dengan IPM terbaik, yakni dengan pencapaian skor 83.

Jalan Tol Jogja-Bawen dan Solo-Jogja ini tentunya akan menjadi urat nadi baru bagi kawasan Joglo Semar. Ruas tol tentu bisa diharapkan memberi percepatan perkembangan ekonomi dan sosial, berikut wilayah pinggiran di sekeliling segitiga emas itu.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini