Angkatan Corona: Wisuda Daring, Susah Cari Kerja, Hingga Quarter Life Crisis

Angkatan Corona: Wisuda Daring, Susah Cari Kerja, Hingga Quarter Life Crisis
info gambar utama

Rasanya kalau ditilik ulang menjadi lulusan di tahun 2020, memang bukan perkara mudah. "Angkatan Corona" mereka bilang. Ya memang, angkatan 2020 dituntut untuk aktif beradaptasi.

Siapa sangka Covid-19 ini akan datang di tengah proses skripsi. Belum lagi penelitian tertunda, karena kampus yang di-lockdown. Kalau biasanya keluar ruang sidang disambut oleh teriakan dari teman–teman, sambil menggenggam buket bunga dan balon, karena ulah pandemi ini, lulusan tahun 2020 harus puas dengan teriakan via online atau sambutan dari keluarga di rumah.

Itu bagi yang beruntung bisa pulang kampung. Tak sedikit pula teman–teman lulusan 2020 yang menetap di kamar kos, karena nihil sponsor pulang kampung. Sedih, ya?

Perihal wisuda, tentu angkatan tahun ini harus mencoba mengakrabkan diri dengan wisuda online. Untuk yang aktif berorganisasi, yang mengabdi sama kampus bahkan sampai dijuluki ‘jurig kampus’ sudah pasti menunggu diarak oleh adik tingkatnya, bukan?

Arak–arak sudah menjadi tradisi di lingkungan kampus. Entah berawal dari mana tradisi berjalan kaki beramai–ramai untuk melepas wisudawan dan wisudawati ini dilakukan.

Namun, yang jelas hal tersebut merupakan salah satu ikon dari wisuda di dunia perkuliahan. Ikon yang tanpa disadari menjadi pemicu untuk cepat mengenyahkan diri dari perskripsian duniawi. Sudah dipastikan kalau lulusan 2020 tidak akan merasakan euforia dari tradisi kampus yang satu itu.

Lagi–lagi, virus ini menjadi alasan lulusan 2020 tidak merasakan hal tersebut. Berbagai bentuk apresiasi terhadap wisudawan dan wisudawati kini diversifikasi dalam bentuk daring. Penghargaan juga rasa bangga nyatanya memang selalu ada. Hanya saja cara penyampaiannya yang berbeda.

Satu langkah selanjutnya adalah mencari apa yang akan dilakukan setelah wisuda. Mulai dari titik ini rasanya memang tidak akan ada yang benar–benar tau akan berakhir di mana. Dari titik ini juga, banyak yang bilang "Sebenar–benarnya ujian hidup adalah ketika kamu melangkahkan kaki dari dunia perkuliahan".

Kalau dianalogikan, rasanya untuk angkatan ini baru mau angkat kaki saja sudah terpeleset duluan. Persaingan dunia kerja sejatinya sudah ketat, ditambah efek pandemi yang mengharuskan banyak perusahaan merumahkan karyawannya, serta banyak usaha yang sepi pembeli turut meramaikan kaum rebahan di negei ini.

Bagi angkatan corona, tentu mencari pekerjaan bagi fresh graduate dapat disamakan dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Gap antara bidang studi serta kebutuhan industri menjadi salah satu permasalahan, mengapa banyak sarjana yang masih mengganggur.

Banyak yang berharap mahasiswa dapat menciptakan lapangan kerja selepas dari bangku perkuliahan. Namun tidak semua orang diciptakan untuk berwirausaha. Mungkin banyak juga yang bercita–cita menciptakan lapangan kerja.

Untuk memulai usaha, tentu tidak bisa asal terjun. Butuh pengalaman yang cukup dalam untuk memulai usaha. Bekerja merupakan salah satu usaha untuk mempertajam skill yang dimiliki.

Namun, melihat kenyataannya saja untuk rata–rata lowongan pekerjaan mematok kualifikasi dengan pengalaman, minimal 1 ataupun 2 tahun bekerja. Lantas, apa kabar dengan lulusan baru yang isi CV-nya masih dipenuhi kegiatan organisasi kampus dan acara seminar?

Mungkin mengejar posisi magang bisa menjadi salah satu cara untuk terjun ke dalam dunia kerja. Lucunya, masih banyak pula lowongan kerja magang dengan kualifikasi minimal pengalaman kerja 1 atau 2 tahun. Di satu sisi, jumlah PHK yang terjadi selama pandemi meningkat secara signifikan.

Dilansir dari Data Kemnaker, 1,4 juta pekerja formal terkena pemutusan hubungan kerja dikarenakan imbas dari pandemi virus corona. Tentunya, semakin menambah jumlah kandidat pencari kerja.

Lulusan tahun 2020 bukan lagi hanya bersaing dengan lawan seangkatannya, tetapi kini mau tidak mau harus bersaing dengan korban PHK hasil imbas virus corona, dengan mayoritas sudah memiliki pengalaman kerja.

Maraknya pemutusan hubungan kerja yang terjadi mungkin saja menjadikan sebagian lulusan 2020, secara otomatis menjadi ‘generasi sandwich’. Sandwich generation atau generasi sandwich merupakan keadaan di mana seseorang terhimpit antara memenuhi kebutuhan finansial orang tua, dan kebutuhan finansialnya di masa depan.

Menurut Ward dan Spitze (1998) istilah ‘sandwich generation’ menggambarkan orang-orang yang terjepit di antara tuntutan simultan merawat orang tua yang sudah lanjut usia, dan mendukung anak-anak mereka yang masih bergantung.

Banyak dari generasi muda yang secara tidak sadar merupakan generasi sandwich. Tidak dipungkiri juga, sebagian dari lulusan 2020 secara tidak sadar telah menjadi bagian dari generasi sandwich.

Meningkatnya jumlah PHK di sektor formal dan informal berimbas pada hilangnya pekerjaan orang tua. Secara tidak langsung, mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya terdampak pandemi corona otomatis menjadi tulang punggung keluarga. Terjebak antara mencukupi kebutuhan finansial keluarga, serta menyiapkan bekal finansial di masa depan, mengakibatkan ruang untuk berinvestasi semakin kecil.

Skala prioritas tentunya akan lebih condong dalam pemenuhan kebutuhan finansial keluarga, sehingga persiapan tabungan investasi masa depan tidak memiliki cukup ruang. Apabila terus dibiarkan, maka kesejahteraan di lingkup keluarga akan terus menurun.

Dari segi psikologis, lulusan tahun 2020 banyak mengalami tekanan emosional. Mulai dari kuliah, bimbingan, sidang, hingga wisuda yang dilaksanakan secara online. Terlebih dalam urusan mencari pekerjaan.

Sulitnya mencari pekerjaan di masa pandemi amat berpengaruh bagi kesehatan mental. Apalagi, tidak semua orang sudah tahu dan yakin akan apa yang akan dilakukan kelak. Mungkin bagi sebagian lulusan 2020 mengalami ‘quarter life crisis’ yang tejadi lebih cepat. Krisis emosional yang kerap terjadi di awal usia 20-an, yang disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari segi finansial, karier, kualitas hidup, keluarga, ataupun tujuan hidup.

Pandemi membatasi ruang gerak yang memicu berkurangnya kesempatan dalam mengembangkan diri untuk mencapai tujuan hidup. Seharusnya, dengan kemajuan teknologi proses pengembangan diri dapat tetap berjalan.

Kemudahan akses pembelajaran online, seperti webminar atau kursus daring dapat menjadi media untuk mengembangkan skill dan pengetahuan. Tidak ada yang tahu kapan Covid-19 berakhir. Yang pasti, proses belajar dan self-upgrade harus terus dilakukan, sambil menjemput kesempatan di tengah pandemi.

Selain banyaknya kursus daring gratis, nampaknya pihak universitas sudah mulai melek mengenai pentingnya pembekalan ilmu bagi lulusan baru untuk menghadapi dunia kerja. Career Development Center di tiap universitas cukup membantu mahasiswa untuk menemukan pekerjaan yang diminati.

Tentunya memiliki simbiosis mutualisme bagi perusahaan untuk menjaring sumber daya manusia unggulan dari universitas, yang dirasa memiliki kapabilitas dan akreditasi untuk menghasilkan calon pegawai unggul.

Tidak ada salahnya untuk mengambil satu langkah ke belakang, ataupun berdiam diri di tempat. Sah–sah saja untuk tidak melakukan apapun dan menikmati sekeliling.

Pastinya, tidak sedikit yang belum tau tujuan, passion, ataupun pekerjaan yang ingin dilakukan. Tidak salah untuk berdiam diri sejenak sambil mencari tau apa yang benar–benar diinginkan. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan segala rutinitas dapat kembali seperti semula.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini