Ini Dia! 10 Orang Terkaya di Indonesia 2020

Ini Dia! 10 Orang Terkaya di Indonesia 2020
info gambar utama

Pernahkah ada di benak kawan GNFI untuk menjadi orang terkaya di Indonesia, bahkan di dunia?

Menjadi orang terkaya, mungkin bisa menjadi impian di siang bolong bagi sebagian orang, tetapi nyatanya ada lho orang-orang tertentu yang berhasil memegang predikat itu.

Di Indonesia misalnya, terdapat sejumlah miliarder yang memiliki aset hingga triliunan.

Tak heran, karena Indonesia sendiri sebenarnya juga merupakan negara kaya dengan sumber daya alam yang berlimpah.

Membahas orang terkaya di Indonesia menjadi sangat menarik, tentu saja karena tak sedikit orang yang penasaran, sebenarnya siapa saja mereka dan bagaimana mereka bisa menjadi kaya.

Langsung saja, berikut 10 orang terkaya di Indonesia 2020 versi Forbes.

1. Robert Budi Hartono (Djarum Group)

Robert Budi Hartono memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong. Lahir di Semarang, 28 April 1940, adalah seorang pengusaha Indonesia.

Ia merupakan anak kedua dari pendiri perusahaan Djarum yaitu Oei Wie Gwan. Robert merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia. Kakaknya bernama Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie Siang.

Total kekayaan Robert pada tahun 2020 mencapai US$ 13,6 Miliar (Rp 218 triliun) menempatkannya sebagai orang terkaya ke-80 di dunia dan orang terkaya no 1 di Indonesia versi Forbes.

Lelaki berusia 79 tahun ini mendapatkan pundi-pundi kekayaannya melalui perbankan dan rokok. Ia berinvestasi di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Ia bersama saudaranya Michael Bambang Hartono, yang juga ada di deretan orang terkaya Forbes, memperoleh keuntungan dari investasi di BCA. Hartono membeli saham BCA dari Salim Group, tahun 1997-1998 saat krisis ekonomi Asia terjadi.

2. Michael Bambang Hartono (Djarum Gruop)


Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie Siang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 2 Oktober 1939 adalah salah seorang pemilik perusahaan rokok kretek Indonesia, Djarum.

Berbeda dengan sang adik, Michael Bambang Hartono berada di posisi ke 86 dunia sebagai orang terkaya di dunia dan berhasil menempati peringkat ke-2 sebagai orang terkaya di Indonesia. Total kekayaan pada tahun 2020 mencapai US$ 13 Miliar (Rp 208 triliun).

Michael dan adiknya, Robert Budi Hartono, mewarisi Djarum setelah ayah mereka, Oei Wie Gwan, meninggal pada tahun 1963. Oei Wie Gwan meninggal tidak lama setelah pabrik rokok Djarum terbakar habis.

Michael dan Robert bahu membahu mengibarkan bendera Djarum sampai ke luar negeri. Saat ini Djarum mendominasi pasar rokok kretek di Amerika Serikat, jauh melebihi Gudang Garam dan Sampoerna.

Selain industri rokok, saat ini Michael dan Robert merupakan pemegang saham terbesar dari Bank Central Asia (BCA). Mereka berdua melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51 persen saham BCA.

Selain itu, mereka juga memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta sejumlah properti di antaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik.

Dengan saudaranya, ia juga memiliki perusahaan elektronik Polytrron dan saham di startup game Razer. Michael Bambang dikenal sebagai atlet Bridge yang menyumbangkan medali perunggu di Asian Games 2018.

3. Sri Prakash Lohia (Indorama)

Sri Prakash Lohia, lahir di Kolkata, India, 11 Juli 1952. Merupakan pendiri dan ketua Indorama Corporation. Indorama Corporation adalah salah satu perusahaan petrokimia dan tekstil yang memiliki valuasi yang cukup besar.

Lohia lahir dan besar di India, tetapi menghabiskan sebagian besar masa hidup profesionalnya di Indonesia sejak tahun 1974.

Pada tahun 2020, Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya ke-3 di Indonesia dengan kekayaan bersih sebesar US$ 4,3 Miliar (Rp 69 triliun).

Sri Prakash Lohia membangun bisnisnya dari memproduksi PET (Polyethylene terephthalate) dan bisnis petrokimia lainnya.

Pada 1970-an, ia dan ayahnya pindah dari India ke Indonesia, di mana mereka mendirikan Indorama sebagai perusahaan pembuat benang pintal.

Sekarang perusahaan ini berkembang dan mendivesifikasi bisnis ke pembangkit tenaga listrik, petrokimia, membuat produk industri termasuk poliolefin, pupuk, bahan baku tekstil dan sarung tangan medis.

4. Tahir (Mayapada Group)

Dato’ Sri Tahir (Ang Tjoen Ming) lahir di Surabaya, 26 Maret 1952 adalah seorang pengusaha di Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group, sebuah holding company yang memiliki beberapa unit usaha di Indonesia.

Kini Tahir tercatat sebagai orang terkaya ke-4 di Indonesia. Harta kekayaannya saat ini mencapai US$ 4,1 Miliar (Rp 66 triliun).

Unit usahanya meliputi perbankan, industri garment, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak/duty free shopping (DFS).

Diawali dari Mayapada Group yang didirikannya pada tahun 1986, bisnisnya merambat dari dealer mobil, garmen, perbankan, sampai di bidang kesehatan.

Tahun 1990 Bank Mayapada lahir menjadi salah satu bisnis andalannya. Ketika itu, bisnis garmen Mayapada tidak lagi tumbuh, justru bisnis banknya maju pesat.

Setelah mendapatkan kesuksesan di bisnis garmen dan perbankan yang dia geluti akhirnya dia mulai melirik ke sektor rumah sakit yang dilanjutkan dengan toko bebas bea serta perusahaan media.

Setelah mendapatkan kesuksesan dari bisnis-bisnis itu, dia mulai lagi menunjukkan kekuatan bisnisnya dengan menciptakan perusahan properti sebanyak sebelas perusahaan yang bertempat di Bali, Indonesia dan Singapura.

5. Prayogo Pangestu (Barito Pacifik)

Dengan total harta sebanyak US$ 3,5 Miliar (Rp 56 triliun). Prajogo Pangestu tercatat di Forbes sebagai orang kaya dunia di deretan 538. Sekaligus berhasil menempati peringkat ke-5 sebagai orang terkaya di Indonesia

Prajogo Pangestu lahir dengan nama Phang Djoem Phen di Sambas, Kalimantan Barat, pada tahun 1944. Terlahir dari keluarga miskin mengharuskan Prajogo hanya menamatkan sekolahnya sampai tingkat menengah pertama.

Untuk mengubah nasib, Parajogo merantau ke Jakarta. Namun, dia tidak terlalu beruntung tinggal di ibu kota Indonesia karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, ia memutuskan kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Saat menjadi pengemudi, pada tahun 60-an, Prajogo mengenal pengusaha kayu asal Malaysia yang bernama Bong Sun On alias Burhan Uray. Pada tahun 1969 dia bergabung dengan Burhan Uray di PT Djajanti Group.

Berkat kerja kerasnya, tujuh tahun kemudian Burhan memberikan jabatan General Manager (GM) Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur kepada Prajogo.

Namun, Prajogo menjadi GM di pabrik Plywood hanya setahun dan keluar untuk memulai bisnis sendiri dengan membeli CV Pacific Lumber Coy, yang ketika itu sedang mengalami kesulitan keuangan. Prajogo membayarnya dengan uang pinjaman Bank BRI dan dia lunasi hanya dalam setahun.

Dalam perjalanannya, Prajogo mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific. Kemudian bisnisnya terus meningkat hingga bekerja sama juga dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya.

Prajogo membangun perusahaan publik PT Barito Pacific Tbk (BRPT), sebelumnya Pacific Lumber, pada 1993. Di 2007, ia mengakuisisi perusahaan petrokimia Chandra Asri yang kemudian merger dengan Tri Polyta Indonesia.

Pada era Presiden Soeharto, Prajogo termasuk salah satu konglomerat ternama yang dimiliki Indonesia. Bisnisnnya dengan bendera Barito Group berkembang luas di bidang petrokimia, minyak sawit mentah, properti, perkayuan. Kini Barito Group dipegang generasi anaknya, Agus Salim Pangestu.

6. Chairul Tanjung (CT Corp)

Chairul Tandjung, lahir di Jakarta, 16 Juni 1962, Namanya dikenal luas sebagai pengusaha sukses yang memimpin CT Corp.

Total kekayaan pada tahun 2020 mencapai US$ 3,1 Miliar (Rp 50 triliun), menempatkannya sebagai orang terkaya ke-6 di Indonesia.

Chairul memulainya bisnisnya ketika ia kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya.

Kini perusahaan konglomerasi miliknya CT Corp, menjadi sebuah perusahaan yang membawahi beberapa anak perusahaan seperti Trans Corp, Bank Mega, dan CT Global Resources.

Saat ini, Chairul Tanjung juga menjadi jajaran direksi beberapa perusahaan, yaitu Pariarti Shindutama, CT Corp, dan Para Rekan Investama.

7. Martua Sitorus (Wilmar)

Posisi ketujuh sebagai orang terkaya di Indonesia diisi oleh Matua Sitorus, total kekayaanya mencapai US$ 1,8 Miliar (Rp 29 triliun).

Martua Sitorus merupakan pendiri Wilmar pada 1991, bersama dengan Kuok Khoon Hong, yang saat ini juga seorang miliarder.

Martua sudah keluar dari dewan eksekutif Wilmar pada Juli 2018, yang kini menjelma menjadi pedagang minyak sawit terbesar di dunia, mengacu data Forbes.

Langkah Martua ini terjadi beberapa hari setelah Greenpeace menuduh perusahaan perkebunan miliknya dan perusahaan milik saudaranya, Gama Corp, sudah menyapu ribuan hektar hutan.

Dalam kemitraan dengan Grup Ciputra, Gama Land membangun proyek di Jakarta yang akan memiliki 15 menara apartemen dan kompleks pusat perbelanjaan. Beberapa saudara juga berinvestasi bersama di bisnis semen dan properti.

8. Mochtar Riady (Lippo Group)

Mochtar Riady lahir di Kota Malang, 12 Mei 1929 adalah seorang pengusaha Indonesia terkemuka, pendiri dan presiden komisaris dari Lippo Group.

Lippo Group merupakan sebuah grup yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Mochtar Riady banyak dikenal orang sebagai seorang praktisi perbankan andal, serta salah seorang konglomerat keturunan Tionghoa-Indonesia.

Dia dijuluki sebagai “The Magic Man of Bank Marketing”. Chairman Group Lippo ini dikenal sebagai seorang praktisi perbankan yang handal. Bahkan patut digelari seorang filsuf bisnis jasa keuangan yang kaya ide dan solusi mengatasi masalah.

Saat ini ia menempati peringkat ke-8 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes, total kekayaan pada tahun 2020 menvapai US$ 1,7 Miliar (Rp 27,20 triliun).

9. Peter Sondakh (Rajawali Corpora)

Posisi kesembilan diisi oleh Peter Sondakh dengan total kekayaan mencapai US$ 1,6 Miliar (Rp 26 triliun).

Ia merupakan pemimpin Rajawali Corpora, perusahaan investasi yang didirikan sejak 1984, yang memiliki portopolio hotel, media dan pertambangan.

Aset miliknya antara lain, hotel Four Season di Jakarta, penyedia internet Velo Network dan Rajawali Televisi. Satu lagi asetnya yakni PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), operator taksi Express.

Melalui Rajawali Corporation, ia membangun kemitraan mengembangakan Hyatt Hotel dan Novotel Sheraton menjadi jaringan hotel bintang lima. Pada tahun 2009, perusahaan mengakuisisi jaringan hotel berbintang lima lain di luar Indonesia.

Rajawali Corporation juga menjalin kerjasama dengan Surfers Paradise Resort Hotel Pty. lmtd dari Australia. Perusahaan tersebut merupakan jaring hotel di Australia yang baru-baru ini membangun St. Regis Resort di Bali.

10. Murdaya Poo (Central Cipta Murdaya Group)

Pemilik nama lengkap Murdaya Widyawimarta Poo atau biasa dipanggil Murdaya Poo adalah seorang lelaki multi talenta berkebangsaan Indonesia. Ia adalah salah satu pengusaha yang sangat sukses dalam bidang bisnis dan juga politik.

Pada tahun ini, Forbes mencatat Murdaya sebagai orang terkaya peringkat ke-10 di Indonesia. Total kekayaanya mencapai US$ 1,2 Miliar (Rp 19,20 triliun).

Ia adalah pendiri Central Cipta Murdaya Group yang bergerak pada bidang investasi perkebunan kelapa sawit, produsen kayu lapis, teknik dan IT.

Pertama kali terjun ke dunia politik sebagai anggota legislatif periode 2004 hingga 2009 dari partai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Dia memiliki hampir setengah kepemilikan dari pengembang properti terdaftar PT Metropolitan Kentjana. Namun seluruh kesuksesan tersebut dimulai dari bawah, Poo pernah mencari nafkah dengan menjual koran. Ini tercermin dari pribadi yang sederhana dan tidak suka mencari ketenaran di masyarakat.

Baca juga :

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini