Ketika Investor Jepang dan Singapura Naksir Pesona Bromo

Ketika Investor Jepang dan Singapura Naksir Pesona Bromo
info gambar utama

Mungkin bagi sebagian orang, pelesir ke Jepang dan Singapura akan memberikan kebanggaan tersendiri dan mendongkrak gengsi. Jepang terkenal sebagai dunia mode serta memiliki ragam musim tak seperti di Indonesia, sedangkan ketika ke Singapura, patung singa dan Marina Bay, kerap diekspos ke laman media sosial para pelancong.

Tapi tahukah kawan, justru para investor Jepang dan Singapura malah kepincut dengan keelokan Gunung Bromo, yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Lain itu, mereka juga tertarik untuk menggelontorkan uangnya di kawasan pariwisata Danau Toba, Sumatra Utara.

Itu tandanya, Jepang dan Singapura menganggap tempat-tempat wisata di Indonesia cukup menerik untuk ditanamkan investasi. Sekaligus hal itu akan mendorong pembangunan infrastrutur di kawasan tersebut, dan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat lokal.

Siapa yang gak bangga, coba?

Bromo-Tengger-Semeru dan Danau Toba, sejatinya masuk dalam kawasan pengembangan ''10 Bali Baru'' yang terus didengungkan pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Pemerintah ingin, zona kawasan 10 Bali Baru akan dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara, serta menjadi favorit destinasi wisata laiknya Pulau Dewata (Bali).

Bahkan kelak disebut popularitas 10 zona kawasan pariwisata ini bakal bisa menyamai, bahkan mengalahkan kondangnya Pulau Dewata bagi turis mancanegara.

Infrastruktur yang memikat investor

Menurut World Economic Forum dalam Travel & Tourism Competitiveness Report (Weforum) pada 2019, pembangunan infrastruktur jadi faktor krusial dalam perjalanan jangka panjang untuk kawasan wisata, termasuk daya saing berkelanjutan.

Meski begitu, bukan berarti pembangunan tidak menimbulkan masalah, namun kualitas sektor pariwisata akan jadi dampak dari tumbuhnya pembangunan.

Fokus pembangunan kawasan pariwisata yang ideal diharapkan juga harus memperhatikan pembangunan wilayah di sekitarnya. Seperti konektivitas dari bandara ke penginapan, kemudahan mencari tempat makan, jaringan internet stabil, sampai ke tempat hiburan alternatif.

Secara keseluruhan, investasi dari dalam dan luar negeri ke kawasan “10 Bali baru” cenderung meningkat dalam satu dekade terakhir (2010-2019). Dari Rp13,42 triliun pada 2010 jadi Rp24,98 triliun pada 2019.

Adalah kawasan TNBTS yang paling siap ketimbang 9 zona lainnya. Hal itu dikarenakan penunjang infrastruktur dan berbagai sarana begitu lengkap sehingga investor pun tertarik untuk menanamkan modalnya.

Investasi BTS dan danau toba

Dalam catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2019, sepanjang dekade terakhir kawasan wisata Bromo-Tengger-Semeru menjadi yang paling banyak mendapatkan investasi (garis hijau pada grafik di atas).

Di sepanjang kurun itu, para investor lebih tertarik untuk berinvestasi di kawasan tersebut, meski kawasan wisata Danau Toba (garis biru) juga mendapatkan porsi. Adalah Singapura dan Jepang, dua negara yang terus eksis berinvestasi di kedua kawasan itu.

Hal lainnya, juga tercermin dari komposisi total modal asing untuk zona wisata Bromo-Tengger-Semeru yang mencapai 72,6 persen. Melesat jauh ketimbang kawasan wisata Danau Toba yang hanya 21,9 persen.

Lihat saja pada grafik di bawah, Singapura (garis merah) menggelontorkan sekira Rp6,95 triliun untuk investasi di kawasan wisata Bromo-Tengger-Semeru, lalu Rp2,01 triliun untuk pengembangan kawasan Danau Toba, dan Rp340 miliar untuk kawasan 10 Bali Baru lainnya.

Sementara Jepang (garis oranye) menanamkan investasinya sebesar Rp4,47 triliun untuk kawasan Bromo-Tengger-Semeru, dan Rp6,43 triliun untuk wilayah Danau Toba. Jepang memang nampaknya lebih tertarik menginvestasikan lebih banyak di kawasan Danau Toba dengan nilai investasi yang jauh lebih tinggi ketimbang negara-negara lain.

Jika ditotal, tercatat negeri-negeri jiran ini menggelontorkan dana hampir Rp8 triliun (Singapura), dan 10,9 triliun (Jepang). Dan, jika investasi dari semua negara-negara digabungkan untuk wilayah Bromo-Tengger-Semeru, maka mencapai total investasi sebesar Rp45,85 triliun sepanjang 2010-2019.

komposisi nilai investasi 10 bali baru

Meski begitu, Singapuran dan Jepang tak selalu menggelontorkan investasinya untuk sektor pariwisata, namun juga untuk sektor pertambangan, pertanian, dan industri pengolahan.

Sementara pemerintah pusat dan daerah perlu menyeimbangkan komposisi ini di 8 zona Bali Baru lainnya. Singapura tercatat hanya berinvestasi Rp340 miliar (10 tahun terakhir), hingga pada akhirnya Presiden Jokowi berupaya merangkul Jepang untuk kawasan Bali Baru lainnya, yakni di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sebesar Rp24 Miliar. Demikian penjelasan laman Sektetariat Kabinet RI (Setkab.go.id).

Pada Juli 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga bilang dalam rapat terbatas di Istana Negara, untuk mempercepat pengembangan wisata prioritas di 5 destinasi Bali Baru. Kelima destinasi tersebut adalah:

  • Danau Toba,
  • Candi Borobudur,
  • Mandalika,
  • Labuan Bajo, dan
  • Likupang.

Pendekatan komprehensif

Tentunya, untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur--untuk kawasan prioritas 10 Bali baru--membutuhkan pendekatan-pendekatan khusus, semisal soal pembebasan lahan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio, mengatakan pihaknya mengutamakan pendekatan yang komprehensif dalam mengatasi konflik pembebasan lahan di kawasan wisata itu, dalam hal ini di wilayah Danau Toba.

Terkait konflik lahan, pada awal tahun ini seperti dikabarkan KBR.id, Wishnutama berjanji akan merangkul masyarakat untuk melakukan dialog.

Menurutnya, Kemenparekraf akan menggandeng Kantor Menko Maritim dan Investasi agar permasalahan substanstif segera dapat terselesaikan. Apalagi menurutnya, masalah pembangunan kawasan Bali Baru juga terkait status travel advisory (anjuran perjalanan) dari negara-negara lain.

"Yang paling penting memperbaiki status travel advisory. Karena anjuran perjalanan kita relatif "kuning" dalam arti hati-hati. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia, mereka itu semua "hijau". "Hijau" artinya benar-benar aman. Itu juga salah satu yang perlu kita perbaiki," ucapnya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini