Kisah Josua Hutagalung, Ketiban Rezeki dari Meteorit Seharga Lamborghini

Kisah Josua Hutagalung, Ketiban Rezeki dari Meteorit Seharga Lamborghini
info gambar utama

Kawan GNFI, beberapa waktu yang lalu, warga di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara sempat digegerkan dengan penemuan sebuah batu meteorit. Batu tersebut menghantam atap rumah salah satu warga.

Peristiwa yang terjadi pada 1 Agustus 2020 lalu ini sempat viral di media sosial setelah diunggah di akun Facebook. Saat itu, sebuah batu meteor menghantam atap rumah Josua Hutagalung, warga Dusun Sitahan Barat, Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Baru-baru ini, beredar kabar jika batu meteorit tersebut dihargai Rp26 milliar atau sama dengan harga sebuah mobil Lamborghini tipe Mansory Carbonado GT (2020).

Apa itu Batu Meteorit?

Sebongkah batu meteorit
info gambar

Melansir National Geographic, meteorit adalah batuan luar angkasa yang jatuh ke permukaan bumi. Batu meteor adalah batu dari ruang angkasa yang sedang terbakar di atmosfer. Sementara meteorit adalah meteor yang sampai ke muka Bumi.

Tercatat lebih dari 60 ribu meteorit telah ditemukan di Bumi. Para ilmuwan membagi meteorit ini menjadi tiga jenis utama, yakni berbatu, besi, dan besi berbatu. Masing-masing jenis itu memiliki banyak sub-kelompok.

Meteorit batu tersusun dari mineral yang mengandung silikat, bahan yang terbuat dari silikon dan oksigen. Mereka juga mengandung beberapa logam, nikel dan besi. Ada dua jenis utama meteorit berbatu, yakni kondrit dan akondrit.

Kondrit sendiri diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yakni biasa dan karbon. Kondrit biasa adalah jenis meteorit berbatu yang paling umum. Sebanyak 86 persen dari semua meteorit yang jatuh ke Bumi merupakan kondrit biasa.

Sementara itu, Meteorit yang ditemukan oleh pria asal Sumatra Utara itu diklasifikasikan sebagai Kondrit berkarbon.

Bongkahan batu besar menimpa atap rumah

Kejadian bermula pada Sabtu, 1 Agustus 2020. Saat itu, Josua sedang bekerja membuat peti mati di kediamannya yang terletak di Desa Setahi Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.

Tiba-tiba Josua mendengar suara gemuruh yang cukup kuat dari atas langit. Suara gemuruh tersebut semakin mendekat ke rumahnya. Tidak berselang lama, terdengar suara dentuman yang sangat keras dari atap rumah.

Josua menyatakan batu yang jatuh tersebut tertanam hingga sedalam 15 sentimeter.

Awalnya Josua takut mendekati lokasi jatuhnya batu. Namun karena khawatir terjadi sesuatu, maka digalinya tanah untuk mengangkat batu yang menimpa atap rumahnya tersebut.

Senang dengan penemuan batu meteor tersebut, dia langsung mengunggah foto temuannya itu ke akun Facebook-nya.

Sontak saja, unggahan tersebut mendapat respons dari warganet hingga viral dan diliput banyak media.

Dua hari pasca penemuan batu meteor, seorang warga sekitar berniat ingin membeli batu tersebut dari tangan Josua dengan harga Rp 1 miliar. Namun, tawaran tersebut ditolak Josua karena merasa orang yang bersangkutan tidak serius.

Josua jual Meteorit kepada pria asal Amerika Serikat

Beberapa minggu setelah Josua memposting temuan meteroritnya di facebook, tiba-tiba datang tawaran dari Jared Collins, seorang pria asal Amerika Serikat yang tinggal di Bali.

Jared datang langsung ke rumah Josua untuk membeli batu meteor setelah mengetahui informasi dari pemberitaan media massa.

Pada awalnya, Jared menawar batu meteor itu seharga Rp200 juta. Kemudian Josua minta supaya dihargai lebih tinggi, namun Jared hanya bersedia menambah Rp14 juta yang bisa dipergunakan untuk memperbaiki atap rumah Josua yang rusak teretimpa meteorit.

Setelah pertimbangan yang panjang, akhirnya Josua sepakat dengan penambahan Rp14 juta yang ditawarkan Jared.

Sebagaimana dilaporkan surat kabar The Sun, Jared Collins disebut sebagai pakar batu luar angkasa yang bermukim di Bali.

Batu meteor tersebut diklasifikasikan sebagai CM 1/2 Kondrit karbon, jenis yang sangat langka dan bernilai fantastis di pasaran.

Setelah membeli batu meteor dari Josua, tenyata Jared mengirimkannya ke AS.

Batu itu dilaporkan dibeli Jay Piatek, seorang pria bergelar doktor dan kolektor batu meteor di Pusat Kajian Meteor, Arizona State University.

Pecahan batu tersebut kemudian dijual kembali oleh seorang kolektor kedua melalui situs jual-beli eBay seharga 757 Poundsterling (Rp14,1 juta) per gram.

Artinya, harga batu seberat 1.800 gram yang dijual Josua bisa mencapai hampir 1,4 juta Poundsterling atau setara dengan Rp26 miliar.

Bongkahan Meteorit itu tidak semua dijual

Dilansir dari bbc.com, Josua menyebut bobot batu meteor yang jatuh menimpa atap rumahnya mencapai 2,2 kilogram, sedangkan yang dia klaim dijual ke Jared hanya 1.800 gram. Sisanya, menurut Josua, telah dibagi-bagi ke sanak keluarga.

Joshua berjanji tidak akan menjual sisa batu meteor yang dimilikinya itu, meski harga di pasar internasional cukup mahal.

Dia mengatakan, batu seberat lima gram tersebut akan disimpannya sebagai kenang-kenangan.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengatakan setiap hari meteorit dengan berbagai ukuran berpapasan dengan bumi dan akhirnya masuk ke atmosfer bumi.

Meski demikian, Thomas mengimbau agar masyarakat tidak khawatir, karena batu meteorit tidak mengandung radiasi, sama seperti jenis bebatuan di bumi.

Kenapa Meteorit dihargai sangat mahal?

Bongkahan batu meteorit bisa juga kawan GNFI temukan di Museom Geologi Bandung
info gambar

Bongkahan meteorit dihargai sangat mahal karena memang ada kolektornya, mereka biasanya mencari dan mengumpulkan batu meteor yang jatuh di Bumi.

Batu meteorit yang indah juga langka dan usianya bisa sangat tua, sehingga para kolektor ingin mengoleksinya.

Tinggi rendahnya harga sebongkah meteorit ditentukan dari umur, rupa, bentuk jenis dan ukurannya.

Salah satu meteorit yang dihargai mahal adalah meteorit dari Mars seberat 100 gram yang dihargai lebih dari 1,3 miliar rupiah.

Selain itu, di beberapa tempat di dunia, meteorit yang berharga juga dijadikan monumen atau disimpan di museum. Maka tak heran, harganya dibanderol cukup mahal.

Sumber Referensi : bbc.com | nationalgeographic.com | merdeka.com

Baca juga :

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini