Sejarah Hari Ini (24 November 1992) - Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Sejarah Hari Ini (24 November 1992) - Museum Perumusan Naskah Proklamasi
info gambar utama

Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, sarat dengan bangunan bernilai historis dan arsitektur tinggi.

Di daerah tersebut, terdapat sejumlah bangunan bergaya Art Deco (gaya hias pada bangunan setelah Perang Dunia I), di antaranya gedung Bappenas, Gereja Paulus, dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Sesuai dengan namanya, bangunan yang disebutkan terakhir memiliki hubungan sejarah dengan kemerdekaan Republik Indonesia.

Di bangunan yang dirancang arsitek Belanda, Johan Frederik Lodewijk Blankenberg, sekitar 1920-30-an ini, disusunlah naskah proklamasi kemerdekaan pada 1945.

Saat itu gedung yang kini terletak di Jalan Imam Bonjol 1 (saat zaman Jepang bernama Jl Meiji Dori) menjadi kediaman perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, Laksamana Tadashi maeda.

Kedekatan Laksamana Maeda dengan anggota Badan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Achmad Soebardjo, membuat sejumlah tokoh diberikan izin memuluskan rencana memerdekakan Indonesia.

Kedudukannya sebagai petinggi AL memungkinkan tidak ada gangguan yang datang dari pihak Angkatan Darat Jepang.

Di ruang makan rumah Laksamana Maeda lalu dirumuskanlah teks proklamasi oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Soebardjo, dan Laksamana Maeda.

Proses penyusunan naskah juga disaksikan golongan muda yang diwakili oleh Sukarni, Sudiro, dan BM Diah serta turut hadir dari pihak Jepang yakni S. Miyoshi dan S. Nishijima.

Konsepnya ditulis tangan oleh Sukarno, lalu diketik oleh Sayuti Melik.

Naskah proklamasi kemudian ditandatangani pada waktu subuh pada Jumat, 17 Agustus 1945.

Pada pukul 10.00 WIB, naskah ini dibacakan di halaman rumah Sukarno yang kini menjadi Taman Proklamasi.

Karena merupakan salah satu bangunan bersejarah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ke-18, Prof. Dr, Notosusanto mengusulkan rumah tersebut menjadi museum.

Beberapa kajian dilakukan oleh sejumlah ahli untuk mendesain museum seperti kondisi ketika naskah proklamasi dirancing.

Barulah pada 24 November 1992, bangunan ini diresmikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi lewat Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomot 0476/1992.

Beberapa koleksi ditampilkan, dari mulai foto-foto, patung, piringan hitam, video dokumentasi kemerdekaan RI, dan mata uang RI.

Selain koleksi bersejarah juga terdapat bunker lubang perlindungan dengan tinggi 1,5 meter yang terletak di belakang museum.

---

Referensi: Christopher Silver, "Planning the Megacity: Jakarta in the Twentieth Century" | Edi Dimyati, "Yuk, Bertualang ke Museum di Jakarta"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini