Berkarya Sekaligus Menjaga Tradisi Lewat Festival Ngani-ani Delanggu

Berkarya Sekaligus Menjaga Tradisi Lewat Festival Ngani-ani Delanggu
info gambar utama

Kawan GNFI, ngani-ani adalah aktivitas panen padi tradisional di Delanggu. Disebut ngani-ani karena kegiatan memanen padi ini menggunakan ani-ani, sebuah alat berupa pisau kecil.

Dengan ani-ani tangkai bulir padi dipotong satu-satu. Memakan waktu memang, tetapi lebih banyak keuntungannya dibanding menggunakan golok, sabit atau arit, tidak semua batang ikut terpotong dengan ani-ani. Dengan demikian, bulir yang belum masak tidak ikut terpotong.

Ani-ani yang dipegang seorang petani.
info gambar
Ani-ani
info gambar

Penggunaan ani-ani biasa dilakukan sebagai tradisi bagi masyarakat pedesaan di Sunda, Jawa, dan Bali. Selain demi mengurangi potensi padi yang belum masak terpotong, menggunakan ani-ani adalah bentuk penghormatan bagi dewi kesuburan pertanian, padi, dan sawah, Dewi Sri. ''Ani-ani digunakan karena Dewi Sri takut dengan bentuk pisau besar (golok, parang) dan arit,'' jelas Stephen Codrington dalam bahasan "Rice Production" di buku Planet Geography.

Tempat pemujaan Dewi Sri bisa ditemui di daerah persawahan Bali.
info gambar

Sayangnya, penggunaan ani-ani mulai berkurang karena petani membutuhkan proses panen yang lebih cepat. Hanya saja tidak semua daerah mengurangi pemakaian alat panen tradisional tersebut. Misalnya di Delenggu, Klaten, Jawa Tengah, ani-ani masih digunakan sejumlah petani. Bahkan sebuah festival bertajuk "Festival Ngani-ani Delanggu" digelar di daerah setempat dengan mengedepankan nilai-nilai tradisi lewat beragam kegiatan.

Merangkum Nilai-nilai tradisi

Festival berskala lokal, Festival Ngani-ani, digelar di Kecamatan Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, selama sekitar tiga bulan dimulai pada 13 Agustus 2020. Berhubung dilakukan pada masa pandemi Covid-19 atau virus corona, festival pun digelar dengan menerapkan peraturan pembatasan sosial dan fisik (social and physical distancing).

Logo Festival Ngani-ani Delanggu menyimpan banyak makna. Lingkaran tanaman yang dipelintir mempunyai arti kreasi dan kekuatan dari kebudayaan padi di Delanggu. Ujung simpul ikatannya merepresentasikan padi Rojolele. Lalu, terdapat tulisan
Logo Festival Ngani-ani Delanggu menyimpan banyak makna. Lingkaran tanaman yang dipelintir mempunyai arti kreasi dan kekuatan dari kebudayaan padi di Delanggu. Ujung simpul ikatannya merepresentasikan padi Rojolele. Lalu, terdapat tulisan "Ngani-ani" dalam bentuk aksara Jawa. Sementara itu pada bagian bawahnya tampak wayang damen, ani-ani, dan gerabah sebagai simbol kegiatan yang dipertunjukkan dalam festival. Sumber: Youtube/Ngani-ani Festival

Khalayak bisa melihat hasil dokumentasi festival ini lewat berbagai platform sosial media seperti Ngani-ani festival di Youtube dan Facebook, serta Festivalnganiani di Instagram. Adapun pihak yang menggelar ini ialah Pusat Studi Jepang dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo/Surakarta.

Pandu Purwandaru selaku inisiator dari Festival Ngani-ani menyampaikan bahwa festival ini diselenggarakan dengan metode yang diperoleh dari masa studinya di Design Culture Chiba University. Yang diterapkan olehnya ialah mengeksplorasi potensi "treasures" baik lingkungan, budaya, UKM, komunitas, dan elemen lainnya yang ada di Kecamatan Delanggu serta diselenggarakan melalui partisipasi aktif masyarakat lokal selaku elemen utama yang seharusnya menerima dampak "happiness" tersebut.

Festival Ngani-ani mengandung lima nilai utama, yakni kesabaran, kebahagiaan, kecantikan, hormat kepada alam, dan keterampilan. Kegiatannya tidak sekadar mencabut padi yang sudah masak, tetapi juga ada pengenalan budaya dan kuliner setempat.

Ragam Kegiatan, dari Mulai Ritual Wiwitan, Panen Padi, sampai Pagelaran Seni Tari

Terdapat enam internal pemangku kegiatan yang dijadikan "aktor utama" dalam penyelanggaraan festival ini, yaitu kelurahan (pemerintah), kelompok tani Sedyo Makmur (organisasi pertanian), TK Al-Hikam dan SMK Muhammadiyah Delanggu (institusi pendidikan), ibu-ibu PKK dan Karang Taruna (organisasi internal desa), sentra lumpia Duleg (Usaha Kecil Menengah, UKM), dan sanggar seni Semoyo Endo (sanggar kesenian lokal).

Festival Ngani-ani di Delanggu, Klaten.
info gambar

Ada enam "aktor utama" berarti ada enam kegiatan utama pula yang direkam. Pertama yaitu preservasi dengan penyelenggaraan kembali ritual Wiwitan yang autentik di mana sudah selama 30 tahun lamanya tidak pernah dipraktikkan kembali oleh warga desa Sabrang Delanggu. Ritual dimulai dengan panen tradisional yang kaya akan nilai sosial, budaya, dan lingkungan yaitu ngani-ani atau memanen padi dengan menggunakan alat tradisional bernama ani-ani.

Dalam ritual tersebut, warga desa Sabrang menyiapkan uborampe atau syarat ritual berupa berbagai macam panganan hasil bumi dan hewani. Proses pembuatan uborampe dibuat secara gotong royong dengan dipimpin tokoh setempat, Mbah Teguh.

Ritual Wiwitan ini wajib dilakukan oleh perempuan. Alasannya, perempuan juga memiliki sifat seperti tanaman padi, sama-sama bisa hamil. Hal itulah yang membuat kaum hawa mewakili sifat tanaman ini yang ketika matang menghasilkan berkah, di mana padi ketika meteng akan melahirkan beras.

Sajian dalam ritual juga disertakan anyaman dan kepangan daun padi yang direpresentasikan sebagai Dewi Sri. Selama ritual Wiwitan, tidak boleh ada yang berbicara sedikitpun sebagai wujud hormat kepada sang dewi.

Kegiatan yang didukung oleh BB Padi yaitu Penanaman kembali padi Rojolele asli Delanggu yang saat ini sudah tidak ditemukan lagi di wilayah Kecamatan Delanggu. Selain menggela ritual Wiwitan, juga ada pembuatan artefak tradisional seperti tali waru, pengusir hama burung tradisional, dan juga pembuatan gubuk jerami autentik yang dibimbing oleh pengrajin lokal dari kalangan petani.

Ecofish, cara mensterilkan saluran irigasi dengan sekam padi.
info gambar

Ada pula kegiatan perbaikan lingkungan dengan membuat ecofish atau jerami yang dibentuk menyerupai ikan dan diisi dengan sekam padi yang dibakar. Desain ini merupakan karya kolaborasi Kondo Yuichiro dan Kimihide Nagase yang keduanya merupakan alumni dari Chiba University Jepang. Pembuatan ecofish dilakukan bersama-sama dengan kelompok rukun tani dan 40 ecofish tersebut diletakkan di saluran irigasi pertanian padi untuk menjernihkan kualitas air ke sawah.

Kegiatan ketiga yaitu pengembangan kerajinan tangan dengan membuat kembali banyu londo (sabun dari merang yang dibakar) dilengkapi dengan sikat yang dibuat dari jerami, serta pengembangan pembuatan alas bermaterialkan jerami padi. Sementara pada kegiatan keempat yaitu mendokumentasikan potensi UKM yang ada di area Delanggu karena belum semua masyarakat lokal aware terhadap potensi daerah tersebut secara menyeluruh.

Lumpia Duleg Desa Gatak.
info gambar

Salah satu yang disorot terkait UKM ialah pembuatan camilan lumpia Duleg. Camilan tradisional ini tidak muncul baru-baru ini, tetapi sudah ada sejak masa Orde Lama yakni tahun 1950-an. Ada kisah menarik dari lumpia ini. Awalnya lumpia ini disangka eksperimen yang gagal. Namun, karena rasanya yang unik membuat kuliner ini dipertahankan cita rasanya hingga kini.

Kelima yaitu kegiatan kesenian dengan penyelenggaraan seni tari dan gejok lesung oleh sanggar seni Semoyo Endo Desa Gatak, dan pelaksanaan mural di Desa Sabrang yang inspirasinya diambil dari karya-karya yang dibuat oleh siswa-siswi TK Al-Hikam Delanggu. Kegiatan terakhir yaitu pelaksanaan kompetisi permainan yang didesain dari potensi lokal baik material maupun tema seperti balap kebo damen, lempar damen, pembuatan mozaik dari limbah gerabah, dan lainnya. Dalam kategori ini, video tutorial pembuatan wayang damen, dan berbagai dolanan lainnya juga diperkenalkan untuk mengajak masyarakat turut membuat kerajinan tersebut.

Penari cilik dari Sanggar Tari Semoyo Endo memeragakan Tari Bedayan Lumpia Budeg dan Gundul-Gundul Pacul dan Padang Bulan.
info gambar

Melalui kegiatan tersebut masyarakat lokal tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai potensi lokal dalam konteks utiliter dan juga nilai, tetapi juga dapat mengimplementasikan kegiatan tersebut di lingkungan masing-masing terutama area pertanian padi. Rencananya, kegiatan ini akan terus diupayakan terus digelar pada 2021 mendatang.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini