Kisah di Balik Layar Kongres Pemuda Indonesia 2020

Kisah di Balik Layar Kongres Pemuda Indonesia 2020
info gambar utama

Tidak akan ada Kongres Pemuda Indonesia 2020 kalau tidak diawali dengan Kongres Pemuda I 1926 dan Kongres Pemuda II 1928. Tidak akan ada gagasan dan resolusi baru bagi Indonesia kalau hasil kongres dan Sumpah Pemuda—sebagai sumpah persatuan pemuda Indonesia bersatu—itu rampung dan digemakan.

Kini, semuanya telah bersatu dalam tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, Indonesia. Namun, tidak akan ada Kongres Pemuda Indonesia 2020, kalau para pemuda-pemudinya merasa cukup selesai dengan tiga poin Sumpah Pemuda. Padahal Indonesia masih butuh peran pemuda-pemudi Indonesia. Masih ada yang belum selesai, Kawan. Negeri ini masih butuh persatuan pemuda-pemudi Indonesia.

Momen yang Kerap Terlupakan pada Kongres Pemuda Terdahulu

Awalnya, hanya organisasi Budi Utomo saja yang menjadi perkumpulan para pemuda Indonesia. Namun kemunculannya mendorong organisasi-organisasi pemuda lainnya seperti Tri Koro Darmo yang biasa kita sebut Jong Java, lalu ada Jong Sumatera Bond, Jong Ambon, Jong Betawi, Jong Minahasa atau Pemuda Timor, dan perkumpulan pemuda lainnya yang dilatarbelakangi oleh etnis, agama, dan kesamaan spesifik lainnya.

Ya, awalnya organisasi-organisasi atau perkumpulan pemuda itu masih bersifat kedaerahan, yang hanya memperjuangkan dan mementingkan organisasi di daerahnya sendiri. Lalu keadaan dan kesadaran para pemuda daerah ini mulai goyah karena sudah mulai terasa agitasi politik yang dimulai sejak 1910 hingga mencapai puncak tahun 1920. Tentu saja hasutan dan huru-hara itu datang dari pemerintah kolonial.

Sejak pertengahan 1920, para pemuda yang keresahan ini mulai mendiskusikan upaya dan kerangka untuk melakukan satu misi besar. Misi yang bisa jadi mudah atau bisa jadi sulit di tengah pemerintahan kolonial. Misi itu adalah PERSATUAN. Harus disegerakan untuk membentuk wadah gerakan kesatuan pemuda.

Hingga akhirnya dicetuskan Kongres Pemuda I atau disebut juga Kerapatan Besar Pemuda. Tidak hanya organisasi pemuda dengan latar belakang etnis, organisasi pemuda seperti Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Theosofi, dan masih banyak pemuda dengan latar belakang berbeda hadir pada kongres yang dilaksanakan mulai 30 April hingga 2 Mei 1926 itu di Batavia—kini Jakarta.

Kongres Pemuda I dan II
info gambar

Yang perdana tidak selalu berjalan dengan mulus. Usaha para pemuda ini untuk menjelaskan makna ‘’persatuan’’ sulit dilakukan karena sadar akan perbedaan landasan dari setiap organisasi pemuda. Meski begitu dasar-dasar pemikiran bersama Kongres Pemuda I terbentuk sedikitnya ada dua hal, yakni:

  • Cita-cita Indonesia merdeka menjadi cita-cita semua pemuda Indonesia.
  • Semua perkumpulan pemuda berdaya upaya menggalang persatuan organisasi pemuda dalam suatu wadah.

Setelah Kongres Pemuda I, pertemuan demi pertemuan antar organisasi pemuda terus dilakukan. Ini dilakukan untuk mencapai persatuan secara nyata. Hingga akhirnya disepakati untuk melakukan kembali Kongres Pemuda II demi menemukan kesatuan pemikiran.

Dua tahun kemudian, Kongres Pemuda II dilaksanakan pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia. Hari pertama, kongres dilakukan di Gedung Katolikee Jongelingen Bond atau Gedung Pemuda Katolik. Dilanjutkan hari kedua, kongres diadakan di Gedung Oost Java. Gedung ini merupakan rumah pondokan atau kos-kosan para mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), yang merupakan sekolah untuk pendidikan kedokteran bagi rakyat pribumi pada zaman Hindia Belanda.

Gedung itu milik seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kok Liong—nama yang jarang tertulis dalam sejarah. Nantinya gedung itu yang menjadi saksi paling penting dalam sejarah. Ada sumpah yang diucapkan oleh para pemuda di gedung itu.

Situasi Kongres Pemuda II lebih ramai dibandingkan kongres sebelumnya. Kongres ini diikuti oleh lebih banyak peserta. Hadir pula Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, serta beberapa orang perwakilan dari pemuda peranakan kaum Tionghoa di Indonesia, seperti Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie.

Belajar dari sulitnya menemukan makna ‘’persatuan’’ pada kongres sebelumnya, tujuan Kongres Pemuda II lebih diperjelas, antara lain:

  • Melahirkan cita-cita semua perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia.
  • Membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia.
  • Memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Setelah dua hari menjalani adu pendapat, tak dipungkiri juga mungkin ada perdebatan—kita tak tahu pasti—lalu situasi kembali kondusif, mungkin memanas lagi, belum lagi pihak Belanda yang patroli yang tak segan-segan menangkap siapapun bagi mereka yang berani menyulut ‘’kemerdekaan’’.

Yang terpenting, tujuan akan persatuan harus diakhiri dengan kesepakatan!

Hingga akhirnya kesepakatan itu terangkum dalam tiga janji yang kaya akan makna. Kaya akan semangat yang hingga kini menjadi acuan para pemuda. Rumusan tiga janji ini kemudian disebut sebagai Sumpah Pemuda.

Pertama. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kedua. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tidak ada lagi debat, tidak ada lagi adu pendapat, tidak ada lagi yang dipertanyakan. Tiga janji itu telah merangkum semua tujuan persatuan yang ingin dicapai.

‘’Generasi ’28 itu menjadi penting sekarang ini dihayati karena mereka generasi kosmopolitan yang benar-benar memikirkan pentingnya membangun network dan jaringan. Bagaimana mereka mampu membangun suatu kesadaran berbangsa, bernegara, berbahasa satu itu? Karena mereka memiliki yang disebut kesadaran,’’ ungkap Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Dewan Pengaruh, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Kongres Pemuda Indonesia 2020: ‘’Merangkai Gagasan, Membangun Harapan’’

Kongres Pemuda 2020
info gambar

Sembilan puluh dua tahun kemudian, gaung para pemuda itu dicoba untuk kembali disuarakan. Ada hal yang harus dibahas lagi. Ada hal yang harus dipersatukan lagi. Sudah terlalu lama pemuda-pemudi ini gelisah dalam diam. Indonesia butuh Kongres Pemuda lanjutan.

Bagi mereka di ujung timur Indonesia yang sudah melakukan pergerakan, membutuhkan peran dan ide paling mutakhir dari pemuda barat Indonesia. Begitu pun sebaliknya, bagi yang tinggal di bagian barat Indonesia, yang daerahnya sudah lebih terjangkau oleh teknologi paling mutakhir, tak boleh tutup mata atas apa yang terjadi di ujung timur Indonesia. Masing-masing dari mereka perlu menyampaikan gagasannya untuk kebaikan negeri ini.

Pemimpin.id dan Good News From Indonesia akhirnya memberikan wadah. Wadah pengumpulan gagasan yang bisa jadi tumpah. Indonesia kini sudah jauh berbeda karena ‘’musuh’’ bersamanya tidak lagi satu seperti dulu—yaitu penajah Belanda. Lalu siapa ‘’musuh’’ yang akan menjadi pembahasan pemuda kali ini?

Sejak 28 September hingga 16 Oktober, para pemuda dari 34 provinsi akhirnya menyampaikan gagasan-gagasan mereka masing-masing. Ada yang melihatnya dari perspektif kebijakan, ada pula yang melihatkan dari perspektif praktis sesuai dengan keadaannya. Total ada 300 pemuda dengan 300 lebih gagasan yang masuk untuk disampaikan dan disuarakan.

Tak mudah menyaring gagasan yang dinilai dan ditentukan sebagai urusan paling darurat, namun tak sulit menemukan pemuda yang menyampaikan ide dan gagasan briliannya. Semua bisa menyampaikan gagasan dalam bentuk apapun, baik itu berbentuk artikel, audio, bahkan video. Pemuda dari timur Indonesia secara mengejutkan menyampaikan gagasan yang tak pernah terpikirkan oleh pemuda dari barat Indonesia.

Semuanya menyampaikan gagasan yang menyinggung lima sektor, yaitu:

  • Pendidikan, Sumber Daya Manusia, Riset, dan Teknologi
  • Infrastruktur Dasar dan Lingkungan
  • Ekonomi dan Kewirausahaan
  • Kesehatan dan Kehidupan Sosial
  • Politik dan Hukum

Dua hari proses penyaringan gagasan dilakukan, hingga akhirnya terpilih 130 gagasan yang mewakili 34 provinsi di seluruh Indonesia. Hari pengumuman gagasan terpilih pun akan tiba. Setelah terpilih, para pencetus gagasan harus bertanggungjawab dengan gagasannya masing-masing. Setiap nama dari setiap provinsi diumumkan secara publik.

Jika kita pernah punya sosok Muhammad Yamin, Soenario Sastrowardoyo, Soegondo Joyopuspito, Djoko Marsaid, dan lainnya untuk generasi pemuda 1928, maka kini Indonesia punya Julio Akhgan Sulung Patandung dari Papua, Prima Adyaksantara dari Kalimantan, I Wayan Darsana dari Bali, bersama 127 para pencetus gagasan lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mereka datang dari latar belakang berbeda, mulai dari dosen, pelajar, mahasiswa, pengusaha, sampai local heroes yang memilih untuk mengabdikan dirinya untuk memberdayakan lingkungannya. Apapun itu latar belakangnya, mereka yang terpilih benar-benar menyampaikan gagasan sesuai yang dilihat, dirasakan, dan pernah diperjuangkan.

‘’Merangkai Gagasan, Membangun Harapan’’

Adalah sebuah tema yang sangat tepat untuk Indonesia. Sepanjang tahun 2020, kehidupan di Indonesia sudah sangat dinamis dan terjadi dalam waktu yang sangat cepat tanpa pernah ada yang bisa memprediksi.

Indonesia dihadapkan pada krisis yang mengharuskan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat bersikap ‘’lentur’’ terhadap setiap perubahan yang terjadi. Kata ‘’harapan’’ dianggap menjadi kata yang cocok dan menjadi pemantik semua orang untuk melakukan perubahan segera.

Situasi Panas Saat Sidang Kongres Berjalan

Kongres Pemuda Indonesia 2020
info gambar

Rangkaian Kongres Pemuda Indonesia 2020 dimulai dengan studium generale pada 26 Oktober 2020 dengan dua sesi yang masing-masing memiliki tema.

Sesi pertama bertajuk ‘’Melihat Potensi Anak Muda Melalui Gerakan Perubahan’’. Sesi ini membahas tentang keunikan gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh anak muda yang bisa memberi kontribusi signifikan bagi Indonesia serta bagaimana mengintegrasikannya dengan gerakan-gerakan di sektor lain supaya bisa menjadi inisiasi strategis bagi Indonesia.

Sesi kedua bertajuk ‘’Kolaborasi Lintas Sektor Untuk Indonesia Kuat’’. Sesi ini membahas bentuk nyata kolaborasi yang telah maupun akan bisa dilakukan antar berbagai sektor masyarakat sehingga melahirkan gerakan yang signifikan bagi kemajuan Indonesia.

Banyak tokoh pembicara yang mengisi acara. Semuanya saling memberikan pendapat mereka tentang pemuda Indonesia pada zaman sekarang. Zaman di mana konsentrasi para pemuda semakin terpecah namun dapat bersatu dengan satu tujuan.

Kalau kata CEO PT. Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat, saat ini apapun sektornya, masyarakat Indonesia paling membutuhkan kehadiran anak muda.

‘’Anak muda harus diberi kesempatan agar mereka bisa mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang lebih berguna, bagi diri sendiri, dan orang banyak. Adanya kehadiran anak muda membantu perusahaan di berbagai lintas sektor dalam bidang teknologi dan inovasi,’’ katanya.

Hingga akhirnya sidang kongres pun tiba. 130 peserta dari 34 provinsi di seluruh Indonesia bersiap menyampaikan gagasannya. Setiap orang diberi kesempatan berbicara dua menit. Dimulai dengan memperkenalkan diri yang merupakan perwakilan dari salah satu provinsi. Setelah itu mereka menyampaikan gagasannya masing-masing.

Masing-masing peserta yang menyampaikan gagasan sesuai sektor selanjutnya dikumpulkan dalam perkumpulan yang lebih kecil lagi. Didampingi panelis, mereka diberi kesempatan untuk menjabarkan resolusi masing-masing dengan lebih rinci. Peserta dalam sektor tersebut juga diberi kesempatan untuk memberikan masukan dan pendapat tentang gagasan dan resolusi yang paling utama dan harus segera dijalankan.

Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Ada yang mempertanyakan, ada yang bersepakat. Ada yang berpendapat gagasan dan resolusinya harus diprioritaskan, ada juga yang menganggapnya bukan yang utama.

Situasi sidang yang intens itu tergambar dari setiap sektor. Tidak ada yang saling menyalahkan karena semua sadar bahwa semua yang diungkapkan adalah penting untuk Indonesia yang kini semakin terlihat banyak sekali sektor yang harus diperbaiki. Persebaran anak muda di 34 provinsi menjadi salah satu upaya untuk segera memperbaiki sektor tersebut di lingkungannya masing-masing.

Layaknya lilin-lilin kecil yang mampu menerangi setiap sudut. Mungkin selama ini lampu pijar paling terang memang berada di Jawa, namun lilin-lilin di berbagai daerah lainnya perlu sokongan. Lilin itu harus tetap menyala agar Indonesia bisa menyala dengan terang.

Kalau di Jawa sudah kelimpungan dengan urusan sinyal karena pembelajaran jarak jauh dan butuh kelas pendampingan orang tua kepada anak mereka, hal ini tidak berlaku bagi beberapa provinsi. Sebagian dari mereka untuk bisa menjangkau sekolah harus menggunakan perahu, melewati sungai, berjalan berkilo-kilo meter.

Jangan dulu soal sinyal dan perangkat pintar untuk belajar, ketersediaan sekolah yang belum terjangkau masih menjadi persoalan penting. Bagi pemuda di Jawa, tentu saja hal ini bukan jadi perdebatan utama karena pendidikan adalah hak mutlak yang harus tersedia untuk seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali!

Setelah terbentuk kesepakatan di masing-masing sektor, seluruh peserta kongres bergabung lagi pada kelompok besar. Tapi ada yang aneh. Kelompok yang membahas sektor Politik dan Hukum tak kunjung bergabung. Seharusnya mereka sudah harus bergabung dengan yang lainnya pukul 16.30 WIB.

Kongres ini sudah terlalu panjang dan cukup melelahkan, apalagi kongres dilakukan secara virtual. Sejak pukul 10.00 WIB masing-masing pemuda sudah menyampaikan dan mendebatkan setiap gagasan sampai akhirnya terbentuk kesepakatan.

Sektor Politik dan Hukum memang jadi sektor yang paling menarik untuk dibahas. Paling banyak yang dibahas, paling seru diperdebatkan. Ini menyangkut kepemimpinan, kekuasaan, dan bagaimana peran mereka sebagai wakil rakyat. Kalau tidak dibatasi oleh waktu mungkin teman-teman di sektor Politik dan Hukum akan meminta perpanjangan waktu.

Namun atas sikap legowo dari setiap peserta, baru pada pukul 18.30 WIB peserta kongres dari sektor Politik dan Hukum akhirnya bergabung dengan yang lainnya. Bukan tidak mungkin satu di antara mereka masih ada yang dongkol dan tak puas. Tapi inilah demokrasi, semua diputuskan berdasarkan suara terbanyak. Bagi yang mendapat suara paling sedikit harus menerima. Bagi yang mendapat suara paling banyak juga sebisa mungkin harus bisa mewakili suara yang sedikit.

Satu Bulan Setelah Kongres Pemuda Indonesia 2020

Hampir 30 hari Kongres Pemuda Indonesia berlalu, namun resolusi yang terbentuk tidak boleh berhenti. Masing-masing pemuda di setiap provinsi tetap melaksanakan resolusi yang disepakati. Pemimpin.id maupun Good News From Indonesia berusaha mendorong dan memfasilitasi yang dibutuhkan.

Pemimpin.id tak segan akan memberikan pelatihan, kelas, dan motivasi. Good News From Indonesia bisa menjadi lahan bagi mereka untuk memberitakan perkembangan upaya resolusi yang sudah disepakati. Meski hanya 300 pemuda yang terpilih dalam kongres, namun mereka bukan tokoh final.

Sedikitnya mereka akan menjadi pemantik semangat di setiap daerahnya masing-masing. Mereka punya tanggung jawab untuk menjalankan, mengajak, mendukung, mendorong, menginisiasi, mengadvokasi, dan menyelesaikan resolusi.

Kita patut bersyukur, berkat teknologi, para alumni Kongres Pemuda 2020 ini masih bisa saling terkoneksi. Semua berkumpul dan terbung dalam grup Whatsapp. Mereka saling dulung, saling tanya, ‘’Bagaimana pelaksanaan resolusinya, Kawan? Sudah selesai? Oke, kita mulai dari mana lagi.’’

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini