Menyesap Kopi Solok yang Nikmat dan Cerita Kopi Indonesia yang Mendunia

Menyesap Kopi Solok yang Nikmat dan Cerita Kopi Indonesia yang Mendunia
info gambar utama

Kawan GNFI, siapa yang tak suka kopi? Tentu tak ada bukan. Hal ini boleh jadi yang membuat Indonesia sebagai negara penyesap kopi dan penghasil kopi terbaik di dunia. Lalu, salah satu kopi yang terkenal adalah kopi Solok, Sumatra Barat.

Kopi Solok Radjo yang cukup terkenal disana yang diproduksi oleh Koperasi Petani Kopi Solok Radjo, dari dataran tinggi Kabupaten Solok. Kebun-kebun kopi itu terhampar di pinggir Danau Atas, Danau Bawah, Danau Talang, Lembah Gumanti, dan lereng Gunung Talang, yang secara keseluruhan terletak dalam satu kawasan.

Kopi Solok digemari karena punya karakter unik. Kopi yang digiling punya bau rempah dengan aroma serai dan cita rasa mirip buah. Kopi ini ditanam di dataran tinggi Solok pada ketinggian 1.200-1.800 mdpl, di kawasan berudara sejuk, yang pada pada malam hari suhunya bisa mencapai 15 derajat Celsius.

Dalam beberpa catatan, perkembangan Kopi Solok Radjo cukup pesat. Dulu awalnya dua ton per tahun green bean. Petani kopi yang bergabung dalam koperasi itu juga makin banyak, sudah 2600 petani kopi.

Dua tahun berturut-turut Kopi Solok dari Solok Radjo berhasil meraih penghargaan dari kompetisi kopi bergengsi di ajang Melbourne International Coffee Expo di Melbourne. Pada Maret 2016 kopi honey Solok yang diberi nama Limau Cirago dari Solok Radjo yang dibawa Roasteri Tanamera di Jakarta meraih dua penghargaan bergengsi, yakni perak dan perunggu di ajang Melbourne International Coffee Expo 2016.

Dengan prospek yang besar itu, nyatanya ada beberapa kendala saat ini menjadi perhatian para petani, yakni soal pengadaan bibit. Para petani memang sudah punya keinginan besar untuk menanam kopi. Meski pada beberapa kesempatan, pemerintah daerah memberikan bantuan puluhan ribu batang bibit kopi, namun mereka rasa itu belum cukup.

Konsumsi kopi yang terus meningkat di Indonesia

Sebagai informasi saja, Indonesia juga masuk jajaran pengonsumsi kopi terbanyak di dunia. Data dari International Coffee Organization (ICO), mencatat konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2016-2017 mencapai 4,6 juta lb (karung/60 kg), dan berada di urutan ke-6 negara dengan konsumsi kopi terbesar di dunia di bawah Rusia.

Sementara jumlah konsumsi kopi terbesar di dunia adalah negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa dengan konsumsi lebih dari 42,6 juta lb, diikuti Amerika Serikat (25,8 lb) dan Brasil (21,2 lb.

Komsumsi kopi tertinggi di dunia

Di Indonesia sendiri, konsumsi kopi tercatat meningkat saban tahunnya. Demikian catatan dari ICO pada periode 2010-2019. Dalam catatan itu, konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2010-2011 mencapai 3,33 juta lb, meningkat menjadi 4,25 juta lb pada periode 2013-2014, dan puncaknya tahun lalu (2019) dengan catatan 4,8 juta lb.

Boleh jadi, hal ini didorong oleh konsumsi kopi bagi kalangan perkotaan yang dan mulai merambahnya gerai-gerai kopi modern yang dikembangkan para pelaku UKM dan perusahaan kuliner. Anak muda mulai menikmati beragam kopi dari seluruh penjuru negeri dengan cara mudah, mulai dari kopi murni, hingga kopi dengan campuran sirup.

konsumsi kopi di Indonesia

Meski konsumsi kopi di Indonesia yang terus meningkat saban tahunnya itu, nyatanya tak berbanding lurus dengan produksi kopi, ekspor, dan impor kopi di Indonesia. Dalam catatan BPS, Kementerian Pertanian (Kementan), dan Direktorat Jenderal Perkebunan, produksi kopi cenderung dinamis secara periodik pada kurun 2012 hingga 2019.

Pada 2012, produksi kopi nasional mencapai 692,1 juta ton, kemudian menurun pada 2014 dengan 647,8 juta ton. Lalu pada 2016 perlahan meningkat dengan cacatan 663,9 juta ton, terus naik hingga 2018 yang mendapat raihan 756,1 juta ton. Tren kenaikan itu terus hingga 2019 dengan membukukan 761 juta ton.

Produksi kopi di Indonesia

Catatan produksi kopi itu juga memengaruhi jumlah ekspor kopi dari Indonesia. Sepanjang kurun itu, tercatat ekspor kopi cukup dinamis, namun dengan tren keseluruhan menurun. Catatan itu menunjukkan pada tahun 2013, 2015, 2016, dan 2019, ekspornya cenderung naik, namun pada tahun 2014, 2016, dan 2018, cenderung menurun.

Sementara soal impor kopi, dari 2012 ke 2013 ada penurunan, dari 52,6 ribu ton ke 15,8 ribu ton. Kemudian melandai dari 19,1 ribu ton (2014) hingga 14,2 ribu ton pada 2017. Pada 2018, catatan impornya cenderung naik yang mencapai 76,8 ribu ton, dan kembali turun pada 2019 dengan membukukan 32,1 ribu ton.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini