Prospek Ekonomi Indonesia 2021: Dua Hal Ini yang Akan Jadi ‘’Game Changer’’

Prospek Ekonomi Indonesia 2021: Dua Hal Ini yang Akan Jadi ‘’Game Changer’’
info gambar utama

‘’Covid-19’’ dan ‘’Resesi’’ adalah kata kunci yang bisa dikatakan sepanjang tahun 2020 menjadi sangat populer. Kuartal keempat hanya tinggal tersisa satu bulan sehingga tahun akan berganti. Seluruh dunia, termasuk Indonesia masih berlomba-lomba untuk melahirkan vaksin di tengah perjuangan orang-orang garda terdepan akan penyebaran Covid-19.

Selama masih belum paten, meyakinkan, tepat, dan cepat, Indonesia dan dunia masih dirundung rasa ketidakpastian dan tidak percaya diri dalam melakukan banyak hal. Sayangnya, seluruh perilaku manusia di tengah ketidakpastian itu sangat memengaruhi berputarnya roda perekonomian negara.

Ketepatan vaksin yang manjur dan ampuh membutuhkan waktu, tapi kondisi negeri tidak bisa menunggu. Harus terus berputar dan berjalan, meski harus terseok-seok. Sebenarnya bagaimana gambaran dan prospek ekonomi Indonesia di tahun 2021 yang tinggal satu bulan ini?

Game Changer Tahun 2021: Vaksinasi dan Cipta Kerja

Tak dapat dipungkiri, masalah kesehatan menjadi isu utama yang berdampak sangat besar akan lesunya perekonomian. Terbatasnya ruang gerak manusia karena penyebaran virus sampai akhirnya membuat pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terjadi. Perilaku manusia seolah lumpuh.

Yang dirugikan tentu saja bukan masyarakat yang terdampak PHK, namun para pelaku usaha juga terpaksa melakukan itu. Dampak lebih jauhnya lagi lapangan pekerjaan justru semakin menyempit.

Ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, memaparkan data tentang tingkat pengangguran Indonesia akibat Covid-19. Total jumlah penduduk usia kerja yang terdampak bertambah 29,12 juta orang. Total jumlah ini terbagi menjadi tiga kategori.

  • Pengangguran karena Covid-19 berjumlah 2,56 juta orang
  • Penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja berjumlah 24,03 juta orang.
  • Bukan angkatan kerja karena Covid-19 berjumlah 1,77 juta orang.
Prospek Ekonomi Indonesia 2021
info gambar

Baik Nina dan Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, sepakat bahwa vaksin adalah salah satu hal yang akan membawa pengaruh besar akan laju dan prospek ekonomi di tahun 2021. Rosan bilang bahwa vaksin ini adalah game changer.

‘’Dari perspektif dunia usaha, vaksinasi membuat ketidakpastian itu menjadi lebih menurun karena di dunia usaha we don’t like suprises. Ada kepercayaan, rasa aman, dan yang paling penting adalah meningkatkan belanja dan domestic consumption,’’ kata Rosan dalam acara Economic Outlook 2021 yang diselenggarakan Berita Satu Media Holdings, Selasa (24/11/2020).

Rosan juga mengungkapkan bahwa konsumsi dalam negeri telah menyumbang 56-57 persen perekonomian Indonesia. Sisanya?

‘’Undang-Undang (UU) Cipta Kerja,’’ pungkas Rosan.

Investasi—baik dari dalam negeri maupun luar negeri—menyumbang kontribusi sampai 31 persen terhadap perekonomian Indonesia. Meski begitu, investasi juga harus berjalan beriringan dengan faktor konsumsi masyarakatnya juga menurut Rosan.

‘’Dari konsumsi akan meningkatkan kapasitas investasi dari dunia usaha karena dengan adanya ini orang mulai spending. Dan kalau kita lihat [kalangan kelas masyarakat] yang top dan middle ini nggak spending. Padahal mereka berkontribusi terhadap total konsumsi nasional 80 persen lebih,’’ ungkapnya.

Sebagai pembicara pertama sebelum Rosan, Nina pun menyinggung soal UU Cipta Kerja. Ia sebenarnya menyayangkan bahwa hanya karena sosialisasinya cukup lambat, sehingga masyarakat belum memahaminya secara menyeluruh.

‘’Itulah kenapa [pengaruh UU Cipta Kerja} tidak akan cepat memberikan dampak pada than ini. UU Cipta Kerja hanyalah garis besar. Yang diharapkan adalah peraturan implementasi yang diharapkan selesai tahun ini,’’ jelas Nina.

Kalau menurut Rosan, sesuai dengan yang diamanatkan UU Cipta Kerja dan aturan pelaksanaannya seharusnya sudah selesai paling lambat Februari 2021 mendatang. Selesai ini dalam artinya sudah selesai dari peraturan pemerintahnya dan peraturan presidennya.

Rosan melihat bahwa Indonesia punya potensi untuk meningkatkan investasi. Dia menyinggung soal ‘’perdebatan’’ global yang terjadi antara beberapa negara dengan China.

‘’Kita ada opportunity. Ada tension dengan China seperti AS, Jepang, Eropa, yang sudah menyampaikan ke perusahaan-perusahaannya untuk keluar dari China. Karena mereka tidak ingin global change-nya terkonsentrasi di China,’’ katanya.

Stimulasi di Berbagai Sektor, Terutama Sektor Keuangan dan Pasar Modal

Bagi dunia usaha, seperti yang diungkapkan Rosan, menunggu perubahan bukanlah solusi jika roda perekonomian negeri ini ingin terus berjalan. Maka dari itu pemerintah dan para pemangku kebijakan pun pada akhirnya membuat stimulasi-stimulasi yang bisa mendorong orang untuk bisa belanja, konsumsi, sampai melihat potensi lapangan pekerjaan yang baru.

Kita hanya tidak tahu saja, bahwa stimulasi-stimulasi ini harus melewati perdebatan panjang yang seru. Segala kebijakan fiskal dan kebijakan moneter dikeluarkan demi mendorong dan menstimulasi hal-hal yang dapat mendorong perekonomian Indonesia.

Perekonomian Indonesia Membaik
info gambar

Ketua Dewan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan dukungan dari sektor keuangan. Salah satunya adalah perbaikan likuiditas di sistem perbankan. Purbaya mengaku perubahan ini belum signifikan, tapi menunjukkan adanya perbaikan.

‘’Pertama ada injeksi uang besar dari pemerintah ke BI [Bank Indonesia]. Ini inline dengan kebijakan-kebijakan fiskal yang agresif. Ini juga yang membuat sedikit perbaikan di Q3. Ada juga laju pendanaan dari pihak ketiga, lalu laju pertumbuhan yang beredar yang tadinya -13 sampai -15 persen, kemudian turun menjadi -9 persen. Sekarang sudah mendekat -3 persen dan menuju ke arah positif,’’ papar Purbaya.

Sedangkan dari sektor pasar modal—yang menjadi salah satu stimulasi investasi—juga diungkap Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, tetap memberi kontribusi.

‘’Pada saat kita kena hit di bulan Maret, kita mengeluarkan kebijakan bisa menahan agar kontraksi di pasar modal ini tidak terlalu dalam. Seperti trading halt-nya kita perketat. Pembelian saham di bursa oleh emiten kita perbolehkan,’’ ungkap Wimboh.

Lebih lanjut Wimboh menambahkan bahwa pihaknya tinggal memberikan stimulasi kepada para pengusaha di sektor riil.

‘’Kita tahu bahwa kemarin bansos [bantuan sosial] yang lebih diarahkan bagaimana masyarakat bisa makan, memenuhi kebutuhan primernya. Tapi tidak bisa dengan bansos itu untuk belanja kebutuhan sekunder. Kebutuhan sekunder hanya bisa di stimulate kalau masyarakat bekerja. Ini kuncinya,’’ tegasnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini