Catatan Gemilang Prestasi Indonesia di Ajang Shell Eco-marathon pada 10 Tahun Terakhir

Catatan Gemilang Prestasi Indonesia di Ajang Shell Eco-marathon pada 10 Tahun Terakhir
info gambar utama

Kawan GNFI, tentunya kita patut bangga membaca judul di atas yang menggambarkan betapa kompetitifnya anak muda Indonesia dalam berkompetisi di Shell Eco-Marathon (SEM), yang merupakan ajang kompetisi bergengsi dunia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Secara umum, SEM adalah kompetisi global tahunan yang diadakan sejak tahun 1985 yang mengajak anak-anak muda menguji gagasan dan inovasi di bidang teknologi untuk menjawab isu-isu efisiensi energi dan mencari solusi energi masa depan.

Penyelenggaraan SEM kemudian berkembang ke Benua Amerika yang dimulai pada tahun 2007 dan berlanjut ke Benua Asia pada 2010. Saban tahunnya, ajang ini rutin diselenggarakan di tiga kawasan, yakni Asia Pasifik, Amerika, dan Eropa yang juga diikuti oleh peserta dari negara-negara di Afrika dan Timur Tengah.

Sejumlah negara yang berpartisipasi secara kontinyu diantaranya adalah Amerika Serikat, Belanda, Indonesia, Pakistan, Malaysia, Singapura, China, Thailand, Prancis, Spanyol, India, Filipina, Jepang, dan lainnya.

Khusus untuk tahun 2020 ini, ada penghargaan khusus yang diberikan oleh Royal Dutch Shell melalui apresiasi Spirit of Shell Eco-marathon kepada tim-tim mahasiswa yang selama masa pandemi Covid-19 telah menunjukkan ketekunan, kepedulian, empati, dan tentunya inovasi.

Semangat dan minat yang besar terhadap empat pilar yang meliputi Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), ditunjukkan oleh tim-tim mahasiswa peserta SEM, melalui wujud karya dan kontribusi mereka terhadap lingkungan sekitarnya.

Satu hal yang sangat membanggakan adalah tiga tim yang terpilih mewakili Asia merupakan tim-tim dari Indonesia, yakni Tim Apatte62 dari Universitas Brawijaya, Tim Semeru dari Universitas Negeri Malang, dan ITS Team Sapuangin dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Ketiganya mengusung inovasi yang solutif dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, baik lingkungan kampus dan kota tempat mereka menuntut ilmu, khususnya di masa pandemi Covid-19 ini.

Hingga pada akhirnya, Tim Apatte62 yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan menjuarai kompetisi Spirit of Shell Eco-marathon Virtual Off-Track Award 2020 Asia Region yang diikuti oleh beberapa negara, seperti Brunei Darussalam, China, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Lantas, apakah hanya itu kawan? Tentu tidak.

Semangat untuk mengharumkan nama Indonesia di ajang ini memang sejatinya telah diwariskan sejak periode 2010 hingga 2019. Pada periode itu, tim-tim mahasiwa asal Indonesia memang selalu langganan juara di beragam kategori.

Berikut paparannya, kawan.

2010

Pada 2010 adalah kali pertama kalinya SEM hadir di benua Asia, yang dilangsungkan di Sirkuit Internasional Sepang (SIC), Malaysia, dan diikuti 112 tim dari 12 negara. Adalah mobil dari tim Sapuangin besutan mahasiswa-mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang memenangkan kategori Combustion Grand Prize.

2011-2015

Para rentang lima tahun ini, tim Indonesia mendominasi SEM dengan secara konsisten menyabet juara 1 hingga 3 beberapa tahun berturut-turut. Salah satunya yang paling fantastis terjadi pada 2012 ketika tim-tim mahasiswa Indonesia menyabeti 5 penghargaan untuk kategori Urban Concept.

Setahun sebelumnya (2011), dua tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Cikal Nusantara dan Rakata berhasil membawa pulang prestasi dari ajang yang diikuti oleh 94 tim dari 13 negara se-Asia. Tim Cikal Nusantara berhasil meraih penghargaan Gasoline Fuel Award, dan menjadi satu-satunya tim yang berhasil lolos tahap uji coba pada hari pertama.

Sementara pada 2013, gantian tim Rakata yang berhasil menyabet juara pertama SEM Asia pada kategori Shell Student Energy Challenge, dan mengungguli 149 tim lain dari total 16 negara.

Hasil impresif juga terjadi pada 2014. Empat tim Indonesia meraih juara pertama dalam SEM yang digelar di Manila, Filipina, pada 6-9 Februari. Tim yang menjadi jawara adalah tim Sadewa Otto asal Universitas Indonesia (UI), tim Mesin Polnep Diesel dari Politeknik Negeri Pontianak, tim Horas Mesin dari Universitas Sumatera Utara (USU), dan tim Sapuangin 8 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Kemudian pada 2015, lagi-lagi tim Indonesia mendominasi titel dalam kategori UrbanConcept Shell FuelSave Diesel (tim ITS 2 Surabaya), kategori Prototype Shell FuelSave Gasoline buah karya tim Batavia Generation dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kategori Urban Concept Shell FuelSave alternative fuel besutan tim Horas Mesin dari USU.

2016

Lalu di tahun 2016 adalah kali pertama para juara SEM di setiap zona Asia, Eropa, dan Amerika Serikat, berkumpul untuk berkompetisi di Drivers’ World Championship (DWC) di London, Inggris. Di sana, tim Indonesia tampil mendominasi melalui Bumi Siliwangi Team 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia, yang kemudian keluar sebagai juara DWC.

Sebagai bentuk apresiasi, mereka berkesempatan mendatangi pusat produsen mobil paling legendaris di dunia, melalui hadiah wisata kunjungan ke markas Scuderia Ferrari di Italia.

2017

Pada 2017, tiga tim mahasiswa yang mewakili Asia lagi-lagi dikirim lagi ke DWC yang diselenggarakan di London, Inggris. Dua di antara tim-tim tersebut berasal dari Indonesia, yakni dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan ITS Surabaya tampil di DWC.

Tim lain yang juga mendulang prestasi di tahun itu adalah tim Sadewa UI yang berhasil menyabet juara pertama SEM Asia untuk kategori Urban Concept Gasoline.

2018

Di 2018, tim ITS 2 dari ITS Surabaya berhasil menjuarai DWC dan menjadi tim dari Indonesia ke-2 dalam sejarah yang mendatangi markas Scuderia Ferrari, setelah mengalahkan tim Kanada dan Prancis yang menempati posisi ke-2 dan ke-3 berturut-turut.

2019

Sementara di 2019, tim ITS 5 yang juga dari ITS Surabaya memenangkan penghargaan Hydrogen Newcomer Awards di DWC 2019 yang diselenggarakan di Sirkuit Sepang, Malaysia.

Pencapaian mereka sebagai juara kedua di DWC Asia di kompetisi tersebut mengantarkan mereka untuk berhak mengikuti babak kualifikasi DWC 2019 tingkat global yang diadakan di Surrey, Inggris.

Nah, kawan, beberapa catatan yang dijabarkan di atas tadi mengindikasikan bahwa mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia memang andal untuk mendulang prestasi di ajang bergengsi Shell Eco-Marathon.

Ini tentunya patut mendapatkan apresiasi serta dorongan dari berbagai pihak untuk terus meregenerasi guna meneruskan tongkat estafet prestasi kelas dunia tersebut.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini