Peran Abdurrahman Baswedan untuk Kemerdekaan Indonesia

Peran Abdurrahman Baswedan untuk Kemerdekaan Indonesia
info gambar utama

"Peranakan Arab meskipoen rapet sekali perheoboengannja dengan anak negeri aseli di Indonesia ini, oleh karena Igamanja, sehingga banjak diantara merika jang pande bitjara dengan bahasa Djawa atawa Soenda, tapi marika tida, meloepakan kepada bahasanja sendiri. Meskipoen bisa menoelis dan membatja hoeroef jang lain, tapi marika tida loepa kepada hoeroefnya sendiri. Djadi dengan keadaan begini, meski djaoe dari negeri leloehoernja, jaitoe negeri Arab, tapi perhoeboengan antara marika dengan negeri itoe masi selaloe ada sedja. Marika masih memponjain kepentingan kepada negeri asalnja, marika masi bisa hadepin soeal-soeal negri dan bangsanja.”

Bakrie Soera-atmaja, Mata Hari, 1934

Kuatnya identitas peranakan Arab di Indonesia bukanlah hal yang baru saat ini. Haikal Hasan dalam bukunya dengan judul Indonesia-Arab; dalam Pergerakan Kemerdekaan (2019) menggambarkan bahwa kehidupan peranakan Arab pada awal masuk di Hindia-Belanda, sampai awal abad 20-an dapat dikatakan kaku.

Mereka masih sangat terikat dengan kebudayaan leluhurnya. Mereka juga belum mengakui bahwa tanah kelahiran mereka adalah Indonesia. Golongan peranakan Arab masih berpikiran bahwa tanah air mereka adalah Hadramaut.

Bahkan, hal ini juga di ketahui ketika Peranakan Arab menerbitkan suatu majalah bernama Al Mahjar di Surabaya yang berarti “tempat berhijrah”. Hal ini dapat dimaksudkan bahwa nusantara pada saat itu hanyalah tempat singgah atau hijrah bagi orang-orang Arab.

Selanjutnya dalam Algadri, Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda (1996) menuturkan pada tahun 1930 dibentuk Indo Arabische Verbond (IAB) oleh Alamudi. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan mempersatukan peranakan Arab.

Akan tetapi, usaha ini gagal karena organisasi ini terlalu mengandalkan dukungan orang-orang kaya dan mereka dianggap belum bisa lepas dari sistem sosial Hadramaut. Mereka kurang mengaitkan diri dengan kenyataan dalam masyarakat Indonesia, yang sebagian dari peranakan Arab sudah membaur dengan orang-orang Bumiputera dalam keadaan sosial budayanya.

Akan tetapi, pada yang sama muncul nama Abdurrahman Baswedan yang merupakan nasionalis dari kaum peranakan Arab. Tidak berlebihan jika Ia dikatakan sebagai nasionalis dari kelompok keturunan Indo-Hadrami, jika dilihat dari asal usul kuatnya identitas mereka di negeri ini.

Ia muncul guna mengubah persepsi golongan keturunan “Indo-Hadramaut” menuju kepada Tanah Air Indonesia. Di sisi lain, perbedaan tradisi dalam golongan internal peranakan Arab berkembang menjadi konflik. perseteruan tersebut mengenai perbedaan fatwa pendapa atau tradisi dikalangan sayyid dengan non sayyid yang semakin parah.

Atas usaha yang dilakukan Baswedan, pada tahun 1934 ia berhasil mempelopori Sumpah Pemuda Arab yang pada intinya adalah setia kepada Tanah Air Indonesia. Bertepatan dengan hal tersebut dikumandangkan berdirinya Persatoean Arab Indonesia (PAI) di Semarang, guna mempersatukan keturunan Indo-Hadrami.

Baswedan dan Liem Koen Han

Bersumber dari tulisan Kwartanada berjudul Belajar dari Liem, Baswedan, dan Sin Tit Po yang diterbitkan oleh majalah Tempo (2014), tertulis bahwa nasib identitas peranakan Tionghoa sama dengan Peranakan Arab. Mereka masih terikat dengan tanah leluhurnya dan belum mengakui Indonesia merupakan tanah air mereka.

Atas hal tersebut, Liem Koen Ham yang bisa dianggap sebagai nasionalis peranakan Tionghoa mendirikan Persatuan Tionghoa Indonesia (PTI) pada tahun 1932. Liem Koen Han dengan organisasinya mengawali perjuangannya dengan mendirikan surat kabar bernama sin tit po.

Surat kabar tersebut ditulis dengan bahasa Indonesia yang kebanyakan tulisannya memuat semangat nasionalisme. Hal ini juga bukan sebuah kebetulah ketika adanya hubungan erat antara Abdurrahman Baswedan dengan Liem Koen Han di sin tit po.

Liem Koen Ham diketahui merupakan guru besar bagi Abdurrahman Baswedan. Baswedan juga menjadi jurnalis dan redaktur bagi sin tit po yang banyak menulis tentang semangat nasionalisme bagi kaum peranakan.

Sejak saat itu, hubungan persahabatan antara Abdurrahman Baswedan dan Liem Koen Han semakin erat. Hal ini tentu menyadarkan kita bahwasannya persaudaraan Tanah Air tidak terikat dengan etnisitas apapun.

Berdua, mereka dapat dikatakan sebagai delegasi dari peranakan Tionghoa maupun Arab, dalam menyadarkan kepetingan semangat nasionalisme bagi Indonesia di kalangan mereka, yaitu peranakan Tionghoa maupun Arab dari kebudayaannya.

Berdua juga, mereka telah berhasil untuk melupakan kaum peranakan atas tanah leluhurnya baik di Tionghoa maupun Hadramaut. Hasilnya pun bisa dilihat sampai saat ini, di mana para kaum peranakan melebur berasimilasi bersama dengan kebudayaan masyarakat asli Indonesia.

Baswedan dan Indonesia

Suratmin dan Didi Kwartanada dalam bukunya di bab akhir yang berjudul A.R. Baswedan Membangun Bangsa Merajut Keindonesiaan (2014) juga membahas puncak dari karier nasionalisme Abdurrahman Baswedan setelah mengalami masa-masa sulit di Hindia Belanda. yang berujung kepada perjuangan kepentingan nasional dan internasional.

Abddurahman Baswedan pada masa kurun waktu kemerdekaan menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ia juga ikut dalam pembahasan dasar negara yang kemudian pernah dipidatokan oleh Presiden Soekarno mengenai lahirnya Pancasila.

Setelah terjadinya perstiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tentunya dibutuhkan pengakuan dunia internasional agar memperkuat pencapaian kemerdekaan Indonesia. Abdurrahman Baswedan merupakan salah satu tokoh yang berjuang untuk mewakilkan Indonesia bagi pengakuan kemerdekaan Indonesia, khususnya dari Liga Arab atau negara-negara Timur Tengah. Abdurrahman Baswedan juga memiliki integritas yang tinggi dalam mewujudkan pengakuan kedaulatan kemerdekaan Indonesia bersama tokoh-tokoh nasional lainnya.

Pada saat proses diplomasi, Abdurrahman Baswedan masuk ke dalam tim atas koordianator Agus Salim untuk pengakuan kemerdekaan dari negara-negara Timur Tengah termasuk Mesir. Negara Mesir sendiri merupakan negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, sedang Abdurrahman Baswedan menjadi perantaranya. Ia dikirim oleh Indonesia guna menerima surat pengakuan Mesir secara de jure maupun de facto pada tahun 1946.

Selain itu mengutip dari Jawa Pos, terdapat peristiwa yang menarik dalam proses penerimaan surat pengakuan tersebut. Menurut Baha’udin selaku sejarawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), saat peneriman surat pengakuan dari Mesir, surat tersebut merupakan surat yang rahasia pada awalnya.

Hal tersebut diketahui karena kondisi Indonesia yang pada saat itu terdapat peristiwa Agresi Belanda yang memblokade beberapa wilayah bekas Hindia Belanda. Oleh karena itu, Abdurrahman Baswedan mempunyai inisiatif untuk menyembunyikan surat tersebut dengan cara melipat dan menyimpannya di kaos kaki untuk lolos dari pemeriksaan ketat dikapal yang akan menuju ke Hindia-Belanda.

Akhirnya, atas kecerdikan dan usaha dari Abdurrahman Baswedan tersebut, Indonesia dapat memperkokoh kedaulatan kemerdekaannya, yang tentunya pada waktu itu sangat membutuhkan pengakuan dari dunia internasional. Selanjutnya, pada tahun 1946-1947, Abdurrahman Baswedan ditunjuk sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet Sutan Syahrir.

Referensi:Jawapos

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini