Empat Pelajaran Penting Perang Azerbaijan vs Armenia 2020

Empat Pelajaran Penting Perang Azerbaijan vs Armenia 2020
info gambar utama

Antara 27 September dan 10 November 2020, sebuah perang besar, singkat dan mematikan, terjadi antara dua negara bertetangga di Kaukasus, yakni Armenia dan Azerbaijan yang saling menyerang memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh dan distrik sekitarnya (yang diakui oleh dunia internasional sebagai wilayah Azerbaijan) yang telah diduduki oleh Armenia setelah Perang Pertama pada awal 1990-an.

Singkat cerita, perang singkat ini dimenangkan oleh Azerbaijan, dan mengakibatkan kekalahan telak dan memalukan bagi Armenia yang sejak awal perang yakin mereka akan kembali memenangkan perang. Kekalahan ini kemudian memaksa para pemimpin Armenia untuk mengakui kekalahannya secara resmi pada 10 November 2020 lalu, menandatangani perjanjian gencatan senjata yang ditengahi oleh Rusia, dan berjanji untuk menarik seluruh tentaranya dari wilayah Azerbaijan pada 1 Desember 2020.

Perjanjian ini mengakhiri 44 hari perang modern yang berdarah di Kaukasus. Bahkan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan menyebut bahwa kesepakatan itu "sangat menyakitkan." Mungkin tak ada satupun rakyat Armenia yang menyangka bahwa mereka akan kalah perang dengan begitu cepat, dengan korban yang begitu banyak, kehancuran persejataan yang sangat besar, dan di sisi lain, korban di pihak Azerbaijan diyakini jauh lebih sedikit.

Beberapa jam setelah 'pengakuan kekalahan tersebut' kerusuhan terjadi di Yerevan (Ibukota Armenia) dan beberapa kota lain di negara tersebut, di mana para demonstrator menyerang dan merusak gedung-gedung pemerintah untuk menunjukkan kemarahan dan rasa frustasi mereka. Rakyat Armenia memang faham, bahwa meskipun prognosis perang semakin hari semakin suram di pihak Armenia, mereka yakin akan tetap menang perang, dengan cara apapun, seperti dua dekade sebelumnya, saat mereka mempermalukan Azerbaijan. Sehingga ketika pemerintahnya mengakui kekalahan dan akan 'mengembalikan wilayah' yang disengketakan kepada pihak lawan, hal ini adalah sesuatu yang sangat memalukan sekaligus mengejutkan bagi banyak orang Armenia.

Di pihak lain, perayaan besar terjadi di Baku (Ibukota Azerbaijan) dan kota-kota lain di negara tersebut. Sesaat setelah perjanjian genjatan senjata, Presiden Ilham Aliyev secara resmi menyatakan kemenangan dan memberi selamat kepada warganya atas pemulihan integritas wilayah Azerbaijan. Perang singkat dan kemenangan telak ini telah mengubah secara signifikan lingkungan sosial dan politik di Azerbaijan, menghasilkan dukungan publik yang bulat kepada pemerintah dan kebijakannya terkait konflik dengan Armenia.

Dan perang pun berakhir.

Perang singkat ini juga seolah membuka mata seluruh dunia, tentang berakhirnya era perang konvensional yang mengandalkan perang darat, maupun perang yang mengandalkan peralatan tempur konvensional. Kemenangan Azerbaijan yang nyata dan meyakinkan ini telah memicu minat yang intensif di antara para analis militer dunia tentang pelajaran perang singkat ini untuk melihat prediksi-prediksi jalannya peperangan di masa depan.

Dunia memang menyaksikan jalannya peperangan ini melalui sosial media. Pada jam-jam awal konflik, puluhan sistem persenjataan anti-pesawat tempur Armenia yang bernilai puluhan juta dollar AS dihancurkan secara taktis oleh drone Bayraktar TB2 buatan Turki, yang membawa rudal kecil namun akurat, dan berharga lebih murah. Video-video penghancuran ini direkam melalui drone dan disebarluaskan di sosial media seluruh dunia, dan disiarkan langsung ke videotron-videotron di kota-kota di Azerbaijan.

Drone Bayraktar TB2 buatan Turki @ Global Defence News
info gambar

Azerbaikan juga mengandalkan drone Harop buatan Israel, salah satu negara pengimpor utama minyak Azerbaijan. Harop adalah drone layaknya peluru kendali, mampu terbang selama berjam-jam sebelum akhirnya memilih target dan kemudian menabrak dan menghancurkannya berkeping-keping. Drone ini akan kembali ke pangkalannya jika tidak menemukan. Azerbaijan juga mengerahkan ratusan drone pengintai yang akan menentukan titik sasaran dan mengirimkan koordinatnya pada pasukan artileri yang kemudian dengan mudah menghancurkannya.

Penggunaan drone ini makin masif seiring berjalannya peperangan, dan terlihat dalam berbagai video yang beredar di sosial media, betapa tank-tank besar, truk tentara, bunker, gudang persenjataan, dapat dengan mudah menjadi sasaran tembak dari drone-drone yang diterbangkan melalui remote control jarak jauh.

Keuntungan penggunaan pesawat tanpa awak ini jelas. Membeli, me-maintain pesawat tempur dan pesawat pembom adalah sebuah perkerjaan u mahal, melatih pilot memakan waktu lama, dan rumit. Sementara penggunaan drone (yang harganya jauh lebih murah dari pesawat tempur, dan pengoperasiannya juga jauh lebih murah) memungkinkan terjadinya pemboman yang lebih agresif di area di mana nyawa pilot tidak akan pernah terancam. Drone yang berhasil ditembak jatuh oleh tentara Armenia, akan dengan mudah digantikan perannya oleh drone lain.

Drone Harop militer Azerbaijan | @ Alert 5
info gambar

Azerbaijan sendiri sudah membeli ratusan model pesawat drone. Menurut data dari Center for the Study of the Drone, Azerbaijan telah membeli the Harpy dan Harop yang dibuat oleh Israel Aerospace Industries, dan Orbiter 1K buatan Aeronautics Group (juga Israel). Selainnya, model-model populer seperti Hermes, Heron, dan SkyStriker, juga dibeli Azerbaijan. Sementara dari Turki, Azerbaijan memborong drone Bayraktar TB2 (yang seringkali dibandingkan dengan drone Reaper yang menakutkan buatan AS), yang mampu terbang 27 jam tanpa henti, dan membawa missile ringan, juga peluncur roket berpengendali. Dari Rusia, Azerbaijan membeli drone A-2s. Beberapa tahun terakhir, Azerbaikan juga telah mengembangkan drone sendiri dan membeli lisensi dari Israel Aerospace Indutries.

Dari perang singkat yang terjadi di paruh akhir 2020 di kawasan Kaukasus tersebut, bisa diambil beberapa hal penting:

1. Pasukan darat mulai sekarang harus dilengkapi dengan sensor pendeteksi drone, pengunci sinyal (jammer), juga persenjataan kontra-drone.

Kita bisa melihat bagaimana unit-unit darat yang konvensional, tank, truk militer, panser, artileri, adalah sasaran empuk bagi drone tempur. Hancurnya peralatan tempur Armenia di hari-hari pertama peperangan, memicu runtuhnya moral pasukan di garis depan, karena mereka tidak bisa melihat musuh, apalagi melumpuhkannya.

2. Integrasi kekuatan tempur darat dan system drone yang canggih akan makin diperlukan di peperangan masa depan.

Suriah telah menjadi laboratorium perang abad 21. Semua pihak yang berseteru menguji kemampuan tempur mereka sekaligus mempelajari pertempuran model baru di sana. Secara khusus, Turki dan Rusia adalah dua negara yang mengembangkan sebuah sistem integrasi yang rumit antara pasukan darat, dengan sistem drone, selama keterlibatan mereka di Suriah.

Militer Turki secara khusus telah menggunakan drone untuk melaksanakan misi intelijen, pengawasan, akuisisi target, dan pengintaian untuk menentukan target bagi tembakan howitzer Firtina kelas 155mm dan rocket launchers. Selain itu, drone-drone Turki juga digunakan untuk menganalisa dari udara sejauh mana kerusakany yang ditimbulkan akibat serangannya. Sementara itu, setelah mencerna pelajaran dari medan pertempuran Suriah, Rusia kini telah drone Orlan-10 ke artileri kelas 152mm.

Angkatan Bersenjata Azerbaijan menunjukkan contoh lain dari drone & kompleks pendukung penembakan di darat. Dalam banyak bentrokan, termasuk pertempuran malam, sistem artileri dan roket Azerbaijan bertempur dalam koordinasi yang kuat dengan drone-dronenya.

Secara keseluruhan, dunia sedang menyaksikan kecenderungan yang meningkat dalam menggabungkan sistem drone dan kekuatan tempur konvensionalnya.

3. Drone vital untuk melumpuhkan pertahanan udara musuh

Di medan pertempuran Suriah dan Libya, drone Bayraktar TB-2 dari militer Turki mendapat julukan baru, yakni Pantsir-hunter, yang berarti “ Sang Pemburu Pantsir”, karena keberhasilannya melumpuhkan pertahanan udara jarak pendek hingga menengah Pantsir yang diproduksi Rusia.

Mengikuti jejak Turki, militer Azerbaijan secara efektif menggunakan drone, terutama Bayraktar TB-2, untuk memburu pertahanan udara Armenia. Hanya dalam dua minggu pertama peperangan, tentara Azerbaijan berhasil menghancurkan sekitar 60 buah sistem pertahanan udara Armenia, kebanyakan sistem 9K33 OSA dan 9K35 Strela peninggalan Uni Soviet.

Azerbaijan juga menggunakan Harop buatan Israel (drone kamikaze) untuk bertempur di garda depan. Harop ini cukup unik, karena dua fitur utamanya, pertama karena drone ini memiliki otonomi untuk berperang mencari musuh dan menghancurkannya tanpa harus dioperasikan manusia, juga karena drone ini memiliki kemampuan anti-radiasi yang berarti dia dapat mendeteksi dan secara mandiri menghasilkan emisi radar. Karakteristik terakhir ini telah secara sensasional dimanifestasikan dalam pelumpuhan sistem rudal SAM (Surface to Air Missile / rudal permukaan-ke-udara) canggih -300 buatan Rusia yang dioperasikan oleh angkatan bersenjata Armenia.

Secara keseluruhan, dengan tidak adanya arsitektur pertahanan udara network-sentris yang kuat, drone terbukti menjadi aset SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses / pelumpuh pertahanan udara) yang efektif.

4. Meski memasuki era drone, perhitungan geostrategis militer masih penting

Sementara keunggulan teknologi dan perang drone Azerbaijan sejauh ini menunjukkan kemampuan perang mereka yang kuat, namun kampanye ofensif tetap harus menggunakan konsep dan persenjataan konvesional untuk membersihkan dan mempertahankan wilayah yang berhasil direbut. Ketika Azerbaijan mulai berhasil mendesak militer Armenia melalui perang yang 'dipimpin' drone, Azerbaijan mulai menggunakan kekuatan militer gabungan di semua lini tempur.

Seberapa kuatnya kemampuan drone sebuah negara, tetap saja perebutan wilayah hanya bisa dilakukan pasukan darat. Pada pertengahan Oktober, meskipun militer Azerbaijan mampu memamerkan kekuatan perang drone yang menakutkan, keuntungan teritorialnya tetap saja terbatas. Di situ lah pasukan gabungan turun dan merebut posisi-posisi kunci hingga akhirnya memaksa Armenia bertekuk lutut.

Secara keseluruhan, perang Azerbaijan vs Armenia menunjukkan bahwa perhitungan geostrategis militer konvesional masih relevan. Kemampuan perang konvensional untuk membersihkan, mempertahankan, dan merebut wilayah tetap penting. Namun, peperangan masa depan akan memasuki tahab baru, drone sekarang merupakan bagian integral dari seni operasional perang senjata gabungan modern.

Dan Indonesia, tak boleh tertinggal dalam hal ini.

====

Referensi:

Gady, Franz-Stefan, and Alexander Stronell. “What the Nagorno-Karabakh Conflict Revealed About Future Warfighting.” World Politics Review, www.worldpoliticsreview.com/articles/29229/what-the-nagorno-karabakh-conflict-revealed-about-future-warfighting.

“Nagorno-Karabakh The Future of War?” World Today News, 18 Oct. 2020, www.world-today-news.com/nagorno-karabakh-the-future-of-war/.

https:// dronecenter.bard.edu/files/2019/10/CSD-Drone-Databook-Web.pdf

Eckel, Mike. “Drone Wars: In Nagorno-Karabakh, The Future Of Warfare Is Now.” RadioFreeEurope/RadioLiberty, Radio Free Europe / Radio Liberty, 12 Oct. 2020, www.rferl.org/a/drone-wars-in-nagorno-karabakh-the-future-of-warfare-is-now/30885007.html.

“ANALYSIS - Five Key Military Takeaways from Azerbaijani-Armenian War.” Anadolu Ajansı, www.aa.com.tr/en/analysis/analysis-five-key-military-takeaways-from-azerbaijani-armenian-war/2024430.

https://www.globalsecurity.org/military/library/report/2009/ssi_terrill02.pdf

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini