Doa Warga Loborui Terjawab, Air Bersih Kini Mengalir Deras ke Kampung Tandus Mereka

Doa Warga Loborui Terjawab, Air Bersih Kini Mengalir Deras ke Kampung Tandus Mereka
info gambar utama

Kawan GNFI, pernahkah membayangkan sebuah tempat yang tandus, sulit air bersih, jarang hujan, serta terisolasi nun jauh di sana? Ya, kawan, tempat itu ada di Indonesia, tempat tinggal kawan-kawan kita juga.

Adalah Desa Loborui yang merupakan desa di Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara geografis, Kabupaten Sabu Raijua terdiri dari dua gugus pulau, yakni Pulau Sabu dan Pulau Raijua yang termasuk gugusan pulau terluar dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia​. ​Posisi persinya ada di antara Pulau Sumba dan Pulau Rote.

Hal inilah yang membuat gugusan pulau ini terkucil dari luar, dan diperparah dengan kondisi geografis yang menjadikannya sebagai salah satu pulau terkering di NTT. Curah hujan yang sangat minim sepanjang tahun membuat kemarau berkepanjangan melanda Pulau Sabu dan Raijua hingga saat ini.

Miris sekali ya, kawan.

Menukil data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sumba Timur dan gugusan Pulau Sabu Raijua masuk dalam kawasan terkering di Indonesia sepanjang 2019. Dalam catatan mereka, sepanjang 259 hari atau nyaris 9 bulan tak turun hujan di wilayah tersebut, dan menjadi yang paling tandus dalam kurun itu.

Kawasan kering di Indonesia, 2019

Kemudian jika berbicara soal Desa Loborui, desa dengan penduduk 730 yang kebanyakannya adalah petani ini juga tak memiliki aliran listrik yang merata. Tak hanya sampai di situ saja penderitaan mereka, untuk membeli kebutuhan pokok harian saja, masyarakat desa harus menempuh jalur darat kurang lebih selama 2 jam dengan menggunakan sepeda motor, lalu dilanjutkan menempuh jalur laut selama 8-9 jam menuju Kota Kupang, ibu kota Provinsi NTT.

Langka air bersih

Desa Loborui, Sabu Raijua NTT
info gambar

Kemarau panjang, sulitnya akses, dan prasarana listrik yang belum merata, membuat masyarakat di sana boleh jadi sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pokok air bersih.

Bertahun-tahun masyarakat desa harus menyisihkan waktu minimal 3 jam saban harinya untuk berjalan naik dan turun bukit di tengah terik yang membakar kulit untuk mendapatkan air ke sumber air terdekat, yakni sebuah DAM/bendungan yang dibangun pemerintah setempat.

Bahkan, anak-anak harus mengurangi waktu belajar dan bermain karena harus membantu orang tua mereka mengambil air saban hari.

DAM itu memag cukup besar dan tak kering sepanjang tahun, namun sayang, karena lokasi DAM yang jauh dari pemukiman warga, membuatya menjadi masalah baru penduduk desa.

''DAM yang dibangun pemerintah ini sangat berguna bagi kami, karena satu-satunya sumber air yang tidak kering hingga sekarang, padahal dari tahun kemarin disini hanya hujan beberapa hari, pada bulan Desember kemudian sudah tidak pernah hujan lagi. Tapi jarak DAM dengan pemukiman kami ini sangat jauh, sehingga kami perlu teknologi untuk membawa air lebih dekat ke pemukiman”, kata Tarsi yang merupakan tim lapangan Yayasan Bhinneka Bhakti Nusantara (YBBN) di Sabu Laie, pada tim Sanspower melalui sambungan telepon Kamis (19/08/2020).

Masyarakat mengambil air bersih
info gambar

YBBN sebelumnya telah memberikan bantuan sosial kepada warga, berupa rehabilitasi perumahan dan gereja di Sabu Liae, serta menyuplai bantuan terkait pengadaan air bersih.

Sementara, Sanspower adalah perusahaan distributor penyedia solusi pompa air tenaga surya (PATS), serta penyedia alat energi terbarukan (renewable energy).

Proyek pengaliran air bersih untuk desa

Nah, hingga pada akhirnya diambil kesimpulan bahwa sistem PATS dirasa paling sesuai, karena tak menggunakan energi listrik untuk memompa air dari DAM ke pemukiman warga. PATS bisa dimanfaatkan melalui kondisi teriknya pulau.

Bekerja sama dengan Sanspower, YBBN akhirnya membuat proyek sosial pengaliran air bersih melalui metode PATS ke Desa Loborui. Proyek ini dikerjakan selama kurang lebih 3 bulan, mulai dari pertengahan Agustus hingga awal Novem​ber 2020.

Secara umum, proses perencanaan proyek dilakukan oleh tim Sanspower dan tim lapangan dari YBBN. Meski begitu, sulitnya akses sinyal membuat proses perencanaan antara tim Sanspower dengan tim lapangan dari YBBN sedikit terkendala dan memakan waktu cukup lama.

Kendala lainnya adalah proses pengadaan dan pengiriman barang ke lokasi yang juga sangat sulit, karena dimensi alat yang sangat besar hingga membutuhkan angkutan laut yang besar pula. Karena pulau berada pada posisi terluar di kepulauan NTT, maka memakan waktu cukup lama karena menempuh jarak yang bebeda-beda dari seriap perangkatnya.

Perlu diketahui, kawan, panel surya adalah perangkat yang sangat sensitif, sehingga penanganannya pun tak sembarangan. Sekali terbentur, maka akan merusak rangkaian panel secara keseluruhan. Nah, karena ombak-ombak di kepulauan NTT cukup besar, terutawa di Laut Sawu, itulah yang membuat kapal-kapal kargo tadi harus mencari jalur alternatif agar barang sampai dengan selamat.

Saat barang sampai ke lokasi, proses pemasangan langsung dilakukan oleh tenaga ahli dari Sanspower yang dibantu oleh masyarakat lokal. Dengan kerjasama yang baik itu, maka proses pemasangan dapat diselesaikan dengan baik.

Proses rampung, air pun mengalir deras

Pembangkit air tenaga surya
info gambar

Setelah proses pemasangan rampung, maka dilakukan edukasi terkait pemasangan, cara kerja sistem, ​kendala sederhana, hingga soal perawatan instrumen proyek PATS. Hal ini dilakukan agar warga desa juga mengetahui tentang teknologi PATS serta proses perawatannya.

7 November 2020 menjadi hari paling bersejarah masyarakat Desa Loborui, karena program pengadaan PATS telah selesai dilakukan. Tanggal itu juga ditandai dengan penyerahan pekerjaan dari tenaga ahli Sanspower kepada Pastur Frans Leckner, yang merupakan penanggungjawab program YBBN di sana.

Secara mekanisme kerja, air bersih dari DAM yang terletak di belakang bukit desa, ditarik dan ditampung ke bak penampungan air yang dibangun dekat dengan pemukiman masyarakat.

Distribusi dari bak penampungan air ke rumah-rumah dilakukan dengan menggunakan pipa air dan memanfaatkan gravitasi karena lokasi bak penampungan air yang lebih tinggi dari pemukiman. Air bersih pun dapat mengalir deras langsung ke rumah-rumah penduduk desa, sehingga dapat dimanfaatkan langsung untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Penderitaan telah usai, kawan. Masyarakat Desa Loborui saat ini tak perlu lagi menyisihkan waktu untuk berjalan jauh menaiki dan menuruni bukit untuk mengambil air bersih. Cukup membuka keran-keran di rumah mereka, maka air bersih akan mengalir dengan deras untuk mandi, masak, mencuci, dan mengairi lahan.

Doa mereka selama ini pun terjawab, karena akses air bersih yang dekat membuat kesejahteraan masyarakat desa meningkat. Lain itu, mereka nampak lebih produktif dan dapat menjaga kesehatan karena bisa mandi dan bersih-bersih dengan lebih mudah kapan pun mereka mau.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini