Sejarah Hari Ini (29 November 1956) - Imbangi Uni Soviet, Timnas Indonesia Banjir Pujian

Sejarah Hari Ini (29 November 1956) - Imbangi Uni Soviet, Timnas Indonesia Banjir Pujian
info gambar utama

Olimpiade ke-16 dilangsungkan di Melbourne, Australia, pada tanggal 22 November hingga 8 Desember.

Indonesia turut mengirimkan kontingennya yang berjumlah 30 atlet di mana 21 di antaranya ialah tim sepak bola.

Timnas Indonesia cabang olahraga sepak bola tidak meraih medali dalam keikutsertaannya yang pertama di Olimpiade kala itu.

Namun, skuad asuhan pelatih asing kelahiran Bosnia Herzegovina, Antun "Toni" Pogacnik, sukses mencuri perhatian dan panen pujian meski hanya bermain melawan satu kesebelasan.

Ya, lawannya saat itu ialah Uni Soviet (kelak pecah dan sebagian besar wilayahnya menjadi Rusia), yang menjadi salah satu tim sepak bola unggulan pada masanya.

Sebelum melawan Indonesia, Uni Soviet yang diperkuat salah satu kiper terbaik dunia saat itu, Lev Yashin, sukses menghempaskan Jerman Barat ronde pertama

Indonesia sendiri pada ronde pertama seharusnya melawan Vietnam Selatan, tetapi urung digelar karena sang lawan membatalkan keikutsertaannya.

Penyerang timnas sepak bola Indonesia, Ramang.
info gambar

Di perempat final, Uni Soviet dan Indonesia pun bertemu di Stadion Olympic Park, Melbourne, pada 29 November 1956.

Pada pertandingan yang dipimpin wasit Jepang Shigemaru Takenokoshi dan disaksikan 3.228 pasang mata itu, Indonesia kurang diperhitungkan malahan diprediksi bakal kalah.

Starting XI
Uni Soviet
Lev Yashin;
Nikolay Tischenko, Anatoly Bashashkin;
Boris Kuznetsov, Jozef Betza, Igor Netto;
Boris Tatushin, Anatoly Isayev, Eduard Streltzov, Sergey Salnikov, Vladimir Ryzhkin

Indonesia
Maulwi Saelan;
Mohammad Rasjid, Chairuddin Siregar;
Ramlan Jatim, Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw;
Aang Witarsa, Phoa Sian Liong, Ashari Danu, Thio Him Tjiang, Andi Ramang

Nyatanya timnas Indonesia mampu memperlihatkan hasrat tidak mau kalah.

Ramang dkk berhasil menahan gempuran pemain Uni Soviet selama menit normal (90 menit) bahkan hingga waktu ekstra.

Laga yang berlangsung selama 120 menit pun berakhir tanpa gol alias 0-0.

Menurut kantor berita Prancis, AFP, yang dikabarkan kembali surat kabar De Nieuwsgier terbitan 30 November 1956, pemain Uni Soviet tidak bisa menyembunyikan raut wajah tidak puas dan kekesalannya ketika meninggalkan lapangan.

Panen Pujian

Laman FIFA menyebut seperti ini: "...Soviet hampir tidak bisa melewati ketangguhan skuad Indonesia di perempat final...".

Ya, timnas Indonesia saat itu menjadi pusat perhatian berkat ketangguhannya dalam bertahan melawan Uni Soviat yang jauh diunggulkan.

Sebuah artikel surat kabar berbahasa Belanda mengabarkan Maulwi Saelan menjadi pemain terbaik pertandingan.
info gambar

Kiper Maulwi Saelan yang menjadi benteng terakhir timnas menjadi pahlawan karena aksinya.

Penyiar Radio Republik Indonesia Biro Surabaya, Mahargono, menjadi penyiar laga Uni Soviet versus Indonesia dalam Olimpiade Melbourne 1956.
info gambar

Penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) Biro Surabaya yang melaporkan pertandingan Indonesia di Olimpiade itu, Mahargono, mengaku sampai tak kuasa menahan air mata melihat Saelan jatuh bangun menghalau bola masuk ke jala gawangnya.

"Suatu contoh lagi ialah baru-baru ini di Melbourne, ketika barisan belakang kita digempur habis-habisan oleh penyerang-penyerang Rusia dan kiper kita Saelan jatuh bangun menolak segala peluru musuh yang dengan derasnya menghujani benteng kita. Dan ketika Saelan berjibaku, menjatuhkan diri di depan ujung sepatu lawan dalam usahanya menolak serangan lawan, maka kami melihat mukanya terkena tendangan lawan dan seketika itu juga melelehlah air mata kami dengan derasnya dan kerongkongan kami lalu seperti tersumbat rasanya. Dengan suara yang terputus-putus kami masih pula mencoba menuturkan dengan kata-kata apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan beberapa hari kemudian salah seorang perwira yang ikut pula dalam Olimpiade itu mendapatkan surat dari rumah yang mengatakan, bahwa si penulis surat pun ikut pula menangis mendengar reportase kami tersebut. Dia seakan-akan bisa pula melihat dengan mata kepala sendiri kejadian-kejadian yang sangat bersejarah itu."
Mahargono (Star Weekly, 19 Januari 1957)

Tak hanya Saelan, pemain lini tengah Ramlan, Kiat Sek, dan Liong Houw juga mendapatkan pujian dari media asing.

Seusai pertandingan, petinggi Persepakbolaan Inggris yang kelak menjadi Presiden FIFA ke-6 (1961-1974), Sir Stanley Roud, juga melayangkan pujian bagi timnas Indonesia.

"Baru kali ini saya melihat permainan bertahan yang begitu sempurna," ucap Roud seperti dikutip GNFI dari BOLA edisi 27 Juli 1984.

Pujian juga datang dari jurnalis surat kabar Australia, The Age, Bill Fleming.

Lewat artikel berjudul "Russia, Indonesia in Thrilling Soccer Draw", Fleming menyanjung kepantasan Indonesia medali "khusus" berkat keberaniannya.

"Jika saja ada medali Olimpiade untuk sebuah keberanian, keuletan, dan penolakan untuk mengakui inferioritas, tim sepak bola Indonesia akan memenanginya di Olympic Park kemarin. Mereka membingungkan para ahli, membuat terkesima penonton dan membuat tim Rusia bermain imbang tanpa gol, bahkan setelah waktu tambahan digelar. Itu adalah pertandingan sepak bola paling fantastis yang pernah saya lihat."
Bill Fleming (The Age, 30 November 1956)

Untuk menentukan siapa yang melaju ke babak berikutnya, pertandingan antara Indonesia versus Uni Soviet pun digelar kembali di tempat yang sama pada 1 Desember.

Dibandingkan laga sebelumnya, jumlah penonton menjadi dua kali lipat di laga revans.

Hal ini bisa terjadi mungkin karena adanya rasa penasaran dari khalayak pada aksi timnas Indonesia yang sukses menuai pujian pada laga pertama.

Sayangnya, timnas Indonesia harus takluk dengan skor 0-4.

Indonesia pun mesti angkat koper, sementara Uni Soviet sanggup melaju ke babak final bahkan berhasil meraih medali emas.

Ketua panitia Olimpiade kontingen Indonesia, Sri Paku Alam, menyambut kiper Maulwi Saelan.
info gambar

Meskipun pulang membawa tangan hampa, pemerintah Indonesia turut bangga atas perjuangan para atlet di kancah internasional.

Hal itu bisa dilihat dari sambutan spesial yang dilakukan panitia Olimpiade kontingen Indonesia sekembalinya mereka di tanah air pada 11 Desember.

---

Referensi: Rsssf.com | FIFA.com | Tabloid BOLA | The Age | Star Weekly | De Nieuwsgier | Java Bode

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini