Napak Tilas Pengasingan Bung Karno di Ende, Flores (1)

Napak Tilas Pengasingan Bung Karno di Ende, Flores (1)
info gambar utama

“Kenapa Flores?” Pertanyaan ini diajukan Inggit kepada Sukarno berkali-kali, sejak sebelum berangkat ke pengasingan, hingga saat sudah berada di rumah pengasingan di Kota Ende, Flores.

Bung Karno bersama keluarga sampai di Pelabuhan Ende pada 14 Januari 1934 menggunakan KM van Riebeeck. Pasir hitam terhampar di pantai barat kota Ende, Pulau Flores ini. Ende dipilih Gubernur Jenderal Belanda, karena letaknya yang terpencil. Jauh dari pusat pergolakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jauh dari rekan-rekan seperjuangannya. Di tempat terpencil inilah, menurut rencana Pemerintah Belanda, Bung Karno harus melewatkan sisa akhir hidupnya.

Tak ada penyambutan meriah saat kedatangannya. Tak ada kawan untuk berdiskusi. Bung Karno hanya ditemani istrinya, Inggit Garnasi; mertuanya, Ibu Amsi; dan anak angkatnya, Ratna Djuami.

Mereka ditempatkan di sebuah rumah sederhana yang hanya memiliki dua kamar. Rumah itu terletak di tengah pondok penduduk biasa yang beratap ilalang. Jalannya tanah, yang akan berlumpur saat hujan, dan menjadi bongkahan saat panas terik matahari. Air bersih didapat dari sumur yang ada di halaman belakang rumah. Tak ada listrik, apalagi telpon dan telegram. Satu-satunya cara berhubungan dengan dunia luar adalah dengan memanfaatkan kapal pos yang singgah di Ende sekali sebulan.

Halaman belakang Rumah Pengasingan Bung Karno. Foto: Pribadi
info gambar

Rumah pengasingan Bung Karno dirawat dengan baik hingga kini. Hampir seluruh bangunan masih asli. Pemugaran, perbaikan perawatan bangunan dan isinya, sedapat mungkin tetap menyerupai aslinya waktu itu. Seperti sprei dan kelambu tempat tidur Bung Karno yang telah diganti dan rutin dibersihkan. Sedangkan perabot-perabot masih asli dan dalam kondisi yang baik karena dirawat dengan baik.

Di rumah ini, serta dilengkapi oleh berbagai lokasi di Ende menjadi tempat Bung Karno melakukan pengendapan, perenungan kembali seluruh rangkaian perjuangan yang ia lakukan. Berdialog dengan dirinya sendiri dan juga mendapatkan kembali semangat spiritualnya.

Refleksi Penggalian Pancasila

Di rumah pengasingan Bung Karno inilah, pada 23 November 2020 diadakan diskusi Napak Tilas Refleksi Penggalian Pancasila oleh Bung Karno yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dengan narasumber Ngatawi Al Zastrouw (Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia), Syaiful Arif (Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila), Taufik Rahzen (budayawan) dan dihadiri oleh perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia dari Aceh, Papua dan Jakarta.

Diskusi Napak Tilas Bung Karno. Foto: Dokumentasi BPIP
info gambar

Salah satu perdebatan di masyarakat adalah apakah Pancasila itu selaras dengan ajaran agama? Zastrouw mengumpamakan seandainya tanaman tebu diibaratkan agama yang dibuat langsung oleh Tuhan YME, maka gula diibaratkan Pancasila, yang pembuatannya melalui proses nalar dan akal manusia dengan bahan dasar yang telah diberikan Tuhan YME.

Kiri ke kanan: Syaiful Arif, Ngatawi Al Zastrouw dan Selvie Amalia
Diskusi Syaiful Arif & Ngatawi Al Zastrouw | Foto: Selvie GNFI

Pancasila dirumuskan Bung Karno dalam rangkaian panjang perjalanan hidupnya. Di Ende, ia pun mendapatkan kesempatan untuk kembali memperdalam ilmu agama Islam, serta juga bergaul dengan para pastor di Rumah Biara Santo Yosef. Ia sering meminjam buku-buku perpustakaan biara untuk dibaca pada waktu luangnya.

Buku-buku itu dibacanya di serambi Rumah Biara Santo Yosef sembari menghadap ke laut yang terlihat jelas. Di serambi itu, terletak patung Bung Karno yang sedang duduk di kursi kayu dan menghadap ke laut yang diresmikan pada 14 Januari 2019 lalu. Serambi itu kini diberi nama Serambi Soekarno.

Patung Bung Karno di Serambi Soekarno, Rumah Biara Santo Yosef. Foto: Pribadi.
info gambar

Bukan Bung Karno jika ia mudah menyerah. Semangat perjuangan ia tularkan ke masyarakat melalui sandiwara tonil yang ia tulis sendiri. Selama empat tahun sembilan bulan dan empat hari masa pengasingan, ia telah menyelesaikan 13 naskah sandiwara tonil. Pemerannya adalah masyarakat sekitar dan dipentaskan di gedung Imakulata milik Biara Santo Yosef.

Tempat lain dimana Bung Karno suka merenung adalah di bawah pohon sukun yang letaknya tidak jauh dari tepi pantai. Pada tahun 1950 saat ia berkunjung kembali ke Ende, ia pun mengungkapkan perenungan yang selama ini dilakukan di bawah pohon sukun ini. “Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Bung Karno, yang kemudian diabadikan pada dinding pagar di lapangan ini.

Pohon sukun yang ada saat ini bukanlah pohon yang sama saat Bung Karno dalam pengasingan di Ende tahun 1934-1938. Pohon sukun tersebut telah mati pada tahun 1970-an. Pemerintah saat itu mencoba menanam ulang pohon sukun di lokasi yang sama, namun tidak juga tumbuh dengan baik. Hingga akhirnya lokasi penanaman bergeser dan pohon sukun tersebut bisa dinikmati kerindangannya oleh pengunjung.

Lokasi perenungan Bung Karno di lapangan Pancasila, Ende. Foto: Pribadi
info gambar

Di Pulau Bunga yang sepi inilah, Bung Karno bisa berhenti dari hiruk pikuk pergerakan perjuangan, dan mengendapkan seluruh pemikiran perjuangannya, hingga memperoleh gagasan yang menjadi dasar negara Indonesia, Pancasila. (BERSAMBUNG)***

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini