Menakar Pengaruh Luar Biasa Vaksin Bagi Ekonomi Indonesia di Tahun 2021

Menakar Pengaruh Luar Biasa Vaksin Bagi Ekonomi Indonesia di Tahun 2021
info gambar utama

Kuartal keempat hanya tinggal tersisa satu bulan sebelum tahun berganti. Genap sudah hampir sepuluh bulan Indonesia dirundung pandemi Covid-19. Atau bisa dikatakan, dunia ini hampir genap satu tahun seluruh dunia dirundung pandemi virus Corona. Meski begitu, keadaannya sudah sedikit berbeda kali ini.

Tidak seperti pada bulan Mei lalu, dunia—termasuk Indonesia—seolah ditekan tombol off dalam sekejap. Pandemi akibat Covid-19 membuat seluruh aktivitas lumpuh dalam waktu cepat. Bagi beberapa negara, kebijakan karantina wilayah atau populer dikenal dengan lockdown menjadi pilihan yang dipaksa harus diterima agar penyebaran virus tidak semakin ganas.

Namun bagi Indonesia, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi salah satu tindakan lembut yang juga terpaksa diambil. Beberapa menyatakan pemerintah Indonesia seolah memberikan "konfrontasi" kepada virus baru ini, tapi di sisi lain pertimbangan ekonomi adalah sektor roda kehidupan yang tidak boleh berhenti.

Seolah-olah tidak apa-apa berjalan lambat, asal tidak berhenti total. Hasilnya pada kuartal kedua (Q-2), kontraksi ekonomi yang dialami Indonesia cukup dalam yaitu di angka -5,32 persen. Melihat kondisi ini, pemerintah dan semua pengambil kebijakan seolah bergumul dengan dua isu yang rasanya harus diselamatkan, tidak bisa memilih salah satu.

PSBB Transisi dijalani, bukan berarti kurva yang terinveksi memperlihatkan penurunan, tren peningkatan pasien terpapar Covid-19 masih terlihat. Meski begitu penyebarannya masih diperjuangkan untuk ditekan, tapi setidaknya perekonomian Indonesia akhirnya mulai bangkit dan tumbuh ke arah positif—meski masih terjadi sedikit kontraksi—dengan angka -3,49 persen.

Dalam istilah populer ekonomi, Indonesia masuk dalam jurang resesi. Akan tetapi, pasca-Q-2 terlihat tren perekonomian Indonesia semakin membaik.

Kehadiran Vaksin, Si Pembawa Harapan

Vaksin yang Diimpor Indonesia
info gambar

Masa-masa kelam berangsur menemukan titik sinar yang menjanjikan. Beberapa negara yang memilki kapabilitas membuat vaksin dari virus ini berlomba-lomba untuk bisa menyelamatkan dunia dari keterpurukan.

Indonesia sendiri telah menyiapkan rencana besar untuk proses vaksinasi. Apalagi ini sudah diteken melalui Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020, di mana Kementerian Kesehatan yang akan menjadi komando proses vaksinasi.

Bahkan, seolah tak mau ketinggalan untuk berpartisipasi dalam isu kemanusiaan, Indonesia juga punya vaksin yang dikembangkan sendiri oleh sejumlah institusi di Indonesia. Vaksin yang diberi nama Merah Putih ini direncanakan mulai bisa didistribusikan kepada masyarakat pada triwulan keempat 2021.

Seolah tak mau menunggu lama, berbagai cara pun diambil oleh pemerintah. Salah satunya dengan membeli vaksin yang lebih cepat sudah teruji. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 99 tahun 2020, dalam komando Kementerian Kesehatan pemerintah lantas mendapatkan beberapa komitmen pasokan vaksin dari beberapa perusahaan negara asing.

Sedikitnya ada enam jenis vaksin yang sudah melalui kesepakatan kerja sama untuk segera dikirimkan ke Indonesia, yaitu:

Vaksin G42/Sinopharm. Vaksin yang dikembangkan oleh Grup Farmasi Nasional China ini menyanggupi akan memasok 15 juta dosis vaksin (dual dose) untuk Indonesia tahun 2020. Rencananya 5 juta dosis akan mulai datang pada November ini.

Vaksin SinoVac. Vaksin yang diproduksi oleh raksasa biofarmasi China, Sinovac Biotech Ltd. ini sudah bekerja sama dengan perusahaan pelat merah Bio Farma. Sinovac kabarnya menyanggupi 3 juta dosis vaksin hingga akhir Desember 2020.

Vaksin Cansino. Vaksin yang dikembangkan oleh CanSino Biologics dan tim yang dipimpin oleh ahli penyakit menular Chen Wei dari China ini telah mendapatkan paten. Untuk tahun 2020 Cansino menyanggupi 100.000 vaksin (single dose) untuk Indonesia. Selanjutnya akan dikirimkan 15-20 juta untuk periode tahun 2021.

Vaksin Pfizer. Sudah ada kesepakatan antara perusahaan farmasi milik Amerika Serikat itu dengan Bio Frama. Namun, vaksin ini masih memulai uji coba kandidat. Jika terbukti ampuh, pemerintah Amerika Serikat akan memesan 100 juta dosis vaksin. Belum diketahui berapa jumlah yang dijanjikan untuk bantuan pengadaan vaksin di Indonesia.

Vaksin AstraZeneca. Kali ini adalah hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan perusahaan farmasi Inggris, AstraZeneca, untuk penyediaan calon vaksin bernama AZD1222. Kedua pihak sudah menandatangani Letter of Intent dengan tujuan sebagai Perjanjian Pembelian Awal (Advance Purchase Agreement) sebelum akhir Oktober lalu. Belum diketahui berapa jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Vaksin Sputnik V. Vaksin yang dikembangkan oleh Rusia ini masih dalam tahap negosiasi dengan Indonesia. Terutama dengan perusahaan BUMN seperti Bio Farma, Kimia Farma, dan Indofarma. Pada Agustus 2020 lalu, pihak Rusia sudah melakukan negosiasi dengan pemerintah Indonesia. Namun, belum ada perkembangan dan titik temu kesepakatan di antara keduanya. Kabarnya, harga vaksin ini diklaim lebih murah dibandingkan dengan vaksin lainnya.

Kepastian itu belum sepenuhnya akan terwujud, namun sudah ada beberapa titik terang yang layak untuk diupayakan. Setidaknya setelah ini Indonesia punya harapan.

Vaksin Jadi Salah Satu ‘’Game Changer’’

Vaksin Covid-19
info gambar

Saat ini masalah kesehatan memang menjadi faktor utama yang berdampak sangat besar terhadap lesunya perekonomian. Terbatasnya ruang gerak manusia karena penyebaran virus sampai akhirnya membuat pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terjadi di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan para periode Agustus 2020 saja jumlah angka pengangguran mengalami peningkatan sebanyak 2,6 juta orang. Dengan demikian jumlah angkatan kerja di Indonesia yang menganggur menjadi 9,77 juta orang. Hal tersebut membuat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia yang mengalami kenaikan dari 5,23 persen menjadi 7,07 persen.

Jumlah tersebut belum termasuk dengan jumlah pekerja yang juga mengalami pengurangan jam kerja yang jumlahnya sampai 24,03 juta orang. Hal ini pernah diungkapkan oleh ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, pada rangkaian acara Economic Outlook 2021 yang diselenggarakan Berita Satu Media Holdings pada 24-26 November 2020.

Baik Nina dan Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, yang juga merupakan salah satu panelis acara tersebut sepakat bahwa vaksin adalah salah sat hal yang akan membawa pengaruh besar akan laju dan prospek ekonomi di tahun 2021. Rosan menyebutnya dengan game changer.

"Dari perspektif dunia usaha, vaksinasi membuat ketidakpastian itu menjadi lebih menurun karena di dunia usaha we don’t like surprises. Ada kepercayaan, rasa aman, dan yang paling penting adalah meningkatkan belanja dan domestic consumption," kata Rosan pada sesi acara Economic Outlook 2021 Selasa (24/11).

Meski begitu, dari sisi pengusaha, Rosan mengatakan bahwa pihaknya perlu mendapatkan gambaran tentang vaksinasi ini. Sosialisasi yang massif kepada masyarakat harus terus digalakan untuk terus meningkatkan kondisi ketidakpastian dan agar masyarakat pun nyaman beraktivitas, terutama untuk mendorong konsumtif masyarakat.

Ini karena tingkat konsumsi dalam negeri Indonesia, diungkap Rosan, telah menyumbang 56-57 persen dari seluruh total nilai perekonomian.

"Kalau [vaksinasi] heavy-nya di semester pertama, berarti di semester kedua kita akan berjalan lebih cepat. Tapi kalau heavy-nya di semester kedua, berarti dana stimulus harus dicanangkan [lagi] oleh pemerintah. Yang saya tahu ini hanya untuk direncanakan enam bulan sesuai dengan RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara) 2021 yang berjumlah Rp356 triliun."

"Ini skenario yang mana [yang dipilih]? Kita juga perlu tahu apakah distribusi vaksinasi sudah terjadi di semester pertama? Atau di semester kedua? Nah ini juga kita perlu mendapatkan gambaran," papar Rosan.

Pengaruh Vaksin Terhadap Arah Investasi

Arah Investasi 2021
info gambar

"Para investor sudah mulai keluar kandang. Sudah mulai berani untuk keluar dari aset-aset aman (asset safe haven)."

Setelah memperlihatkan arah perbaikan pada kuartal ketiga, prospek ekonomi Indonesia rupanya masih berpotensi akan terus positif hingga kuartal terakhir tahun ini. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di area positif, meski belum bisa jauh dari angka 0 persen.

Upaya vaksinasi dan kombinasi antara kebijakan moneter, fiskal, serta stabilitas sistem keuangan juga membuat Perry optimis bahwa di tahun 2021 Indonesia mampu mencapai angka pertumbuhan 5 persen.

"Tahun depan 5 persen dan lima tahun ke depan 6 persen,’’ kata Perry dalam pidatonya diperhelatan Fintech Summit 2020, Rabu (11/11) yang dikutip CNNIndonesia.com.

Chief Investment Officer PT Schroders Indonesia, Irwaty Mujono, menjelaskan bahwa memang terjadi perubahan signifikan terhadap sentimen negara emerging market, termasuk Indonesia.

"Terjadi appetite yang signifikan. Mereka berbondong-bondong dari yang tadinya memburu instrumen safe haven (aset aman) dan passive income, mereka mulai memilih return yang persepsinya lebih rendah dan low risk,’’ kata Irwaty masih dalam sesi Economic Outlook: Arah Investasi 2021, Senin (23/11).

Beberapa data menyebutkan hal demikian bahwa risk appetite para investor sudah mulai tumbuh. Seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terlihat terus menguat dan sudah berada di atas 5.000. Pada 26 November, IHSG ditutup di level 5.759,91 yang merupakan level tertinggi sejak 26 Februari 2020, saat isu penyebaran Covid-19 mulai mencuat secara global.

Selain itu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyebutkan bahwa jumlah investor tahun ini tumbuh sangat signifikan. Hingga Agustus 2020 saja jumlah investor di pasar modal Indonesia sudah mencapai 3,1 juta atau naik hampir 30 persen dibandingkan tahun 2019.

Dari catatan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pertumbuhan dan penambahan investor selama sepuluh bulan terakhir sepanjang 2020 ditopang oleh pertumbuhan investor reksadana sebesar 49,4 persen dan investor Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 37,10 persen, serta investor saham yang meningkat 27,87 persen.

"Di bulan Oktober ada positive inflow asing masuk kembali ke Indonesia. Meskipun investor sahamnya masih belum mengikuti, mereka masih wait and see. Mereka optimis SUN (Surat Utang Negara atau SBN) Indonesia dan melirik saham Indonesia yang sudah tiga tahun ke belakang selalu dalam aksi jual. Dampaknya penguatan rupiah juga yang cukup signifikan," jelas Irwaty.

"Indonesia sudah memasuki recovery cycle phase," pungkas Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Dannif Utojo Danusaputro dalam sesi yang sama dengan Irwati.

"Kita berharap portofolio inflow itu akan menyeimbangkan melebarnya CAD (current account devisit) dan menstabilkan nilai tukar [rupiah]. Fed Funds Rate akan flat sampai tahun 2023 yaitu di level 0.1 persen. BI juga diproyeksikan menahan kebijakan tingkat suku bunga. Tahun depan akan menjadi tahun positif bagi pasar saham Indonesia,’’ jelas Dannif lagi.

Bagi para panelis tersebut, semuanya kembali bergantung dari asumsi terkendalinya Covid-19 dan vaksinasi yang dilakukan Indonesia. Ini karena semuanya akan sangat memengaruhi pemulihan konsumsi masyarakat yang lebih cepat.

Lebih jauh vaksinasi akan membuat ekosistem industri Indonesia semakin baik dan semakin dipercaya di mata para investor. Apalagi ada penilaian bahwa selama masa pandemi salah satu sektor yang masih bisa mendorong perekonomian Indonesia tetap tumbuh adalah sektor manufaktur. Dan salah satu sektor manufaktur yang sangat tumbuh besar itu adalah di kawasan industri.

"Peran kawasan industri dalam mendukung industri pengolahan adalah mempersiapkan industri yang clean and clear. Dari masalah lahan dan tata ruang, menyediakan infrastruktur dasar dalam kawasan industri, guna mendukung proses produksi industri pengolahan, serta menyediakan lingkungan investasi dan usaha yang nyaman dan aman bagi investor," ungkap Direktur Jenderal Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII), Kementerian Perindustrian, Dody Widodo, saat menjadi panelis Economic Outlook 2021.

GNFI juga pernah mewartakan bahwa ada 119 perusahaan asing yang berpotensi memindahkan pabriknya ke Indonesia. Potensi nilai investasi yang dapat diterima Indonesia diperkirakan bisa mencapai 41,39 miliar dolar AS atau sekitar Rp608 triliun. Ini juga bisa menjadi data bahwa ekosistem industri Indonesia dipandang layak dan menjanjikan bagi investor.

Vaksin Untuk Kenyamanan di Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata menjadi sektor yang sangat terpukul kala pandemi Covid-19 melanda. Tidak bisa dipungkiri dampak terpukulnya sektor pariwisata juga akan memengaruhi pada tingkat lapangn kerja yang semakin menurun dan produktifitas hotel dan restoran. Sektor pariwisata juga merupakan sumber kekuatan dalam roda perekonomian Indonesia.

"Dari tingkat tourist arrival, pada tahun ini ada 3,5 juta [kunjungan]. Di tahun 2019 ada 16,1 juta [kunjungan]. Jadi ini drop-nya luar biasa, 70 persen. Dan tingkat okupansi terakhir 30 persen," ungkap Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, pada sesi Economic Outlook: Sektor Pariwisata 2021 (25/11).

Dari jumlah penerbangan pun tercatat bahwa pada bulan Mei sektor penerbangan mengalami kontraksi yang sangat dalam dengan jumlah hanya 27.439 penerbangan. Hal ini penting untuk diperhatikan karena sektor penerbangan erat kaitannya dengan laju sektor pariwisata.

Tingkat Kunjungan Wisatawan ke Indonesia 2020
info gambar

Kabar baiknya, sejak bulan Juni hingga 14 November 2020 Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mencatat adanya tren peningkatan jumlah penerbangan. Dengan jumlah puncak mencapai 100.599 penerbangan pada Oktober dan pada tanggal 1-14 November 2020 sudah ada 36.960 penerbangan.

"Kita harapkan [penerbangan] bulan November bisa naik melebihi bulan Oktober," harap Hariyadi.

Upaya untuk terus memulihkan sektor pariwisata, pihak PHRI pada akhirnya akan memprioritaskan untuk membuka Bali dan menerima wisatawan domestik maupun asing. Bukan tanpa alasan dan pertimbangan, sejauh ini Bali dinilai sangat baik dalam mengelola penekanan penyebaran Covid-19.

Hingga 25 November , tercatat kasus Covid-19 berjumlah 13.389 kasus dan angka sembuh sudah mencapai 12.217 orang. Ini berarti tingkat kesembuhannya mencapai 84 persen. Dari sini terlihat bahwa Bali sudah memiliki modal utama atas kesiapannya membuka border untuk wisatawan asing.

"Masyarakatnya disiplin. Fasilitas kesehatannya mendukung. Rumah sakit, tenaga medisnya sudah cukup di sana. Konektivitasnya mencukupi. Fasilitas, destinasi, hotel, restorannya sudah sangat-sangat memadai. Test case, Bali sudah memenuhi. Baik dari safety-nya dan dari sisi komersilnya," papar Hariyadi.

Hariyadi melihat bahwa baik pemerintah maupun rakyat sangat bertanggung jawab untuk bisa memulihkan perekonomian daerahnya. Apalagi mengingat bahwa kontraksi perekonomian daerah di Bali, diungkap Hariyadi, sudah mencapai angka -12 persen.

"Makanya sudah berat sekali," katanya.

Meski begitu pengadaan vaksin tentu akan lebih meningkatkan kenyamanan masyarakat. Selain usaha pengendalian diterapkan, Hariyadi mengatakan bahwa para wisatawan akan merasa aman dan yakin melakukan kegiatan berwisata.

Direktur Utama PT Panorama Sentrawisata Tbk, Budi Tirtawisata, yang menjadi panelis setelah Hariyadi mengatakan bahwa vaksin bisa menjadi sebuah terobosan. Apalagi protokol kesehatan yang diberlakukan secara internasional masih mengikuti standar negaranya masing-masing. Hal ini menimbulkan ketidakpastian bagi para pelancong.

"Kalau ada vaksin nanti lebih pasti lagi, lebih mudah lagi. Karena dengan dia masuk ke negara tertentu dan dia sudah di vaksin, saya kira itu akan jauh lebih terseleksi orang yang akan melakukan perjalanan. Sehingga, tentu akan lebih aman dan kita pun sebagai negara penerima juga tidak akan pusing meskipun masyarakat kita juga belum semuanya secara merata dilakukan vaksinasi," jelas Budi.

Berbagai upaya memang sudah dilakukan oleh para pemegang kebijakan dari sektor pariwisata. Dari mulai menawarkan paket liburan murah, sampai sertifikasi Clean, Healt, Safety & Environment (CHSE) secara gratis pun sudah dilakukan.

Namun jika belum ada kepastian aman dan nyaman yang dirasakan oleh para pelancong, maka hal ini pun masih dirasa cukup berat untuk mendongkrak perekonomian dari sektor pariwisata.

"Nanti kita lihat euforianya [karena keberadaan vaksin]. Kalau lebih cepat, lebih baik lagi," pungkas Budi.***

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini