Sejarah Hari Ini (1 Desember 1956) - Mohammad Hatta Tanggalkan Jabatan Wakil Presiden

Sejarah Hari Ini (1 Desember 1956) - Mohammad Hatta Tanggalkan Jabatan Wakil Presiden
info gambar utama

Lewat hasil sidang, DPR akhirnya menyepakti permintaan pengunduran diri Mohammad Hatta dari jabatan wakil presiden.

Terhitung 1 Desember 1956, Hatta resmi mundur dari jabatan yang diembaninya selama 11 tahun.

Tercatat bukan hanya sekali Mohammad Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden.

Pada Senin 23 Juli 1956, Ketua DPR Sartono menerima kejutan karena mendapat surat pengunduran dari Hatta.

"Merdeka, dengan ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Segera, setelah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi," begitulah isi surat tertanggal 20 Juli 1956 tersebut.

Surat tertanggal 20 Juli 1956 itu, makin membuat Sartono terkaget-kaget, karena isinya permintaan mengundurkan diri Hatta.

Hubungannya dengan Presiden Sukarno yang mulai merenggang sejak Indonesia kembali ke negara kesatuan tahun 1950 menjadi alasan.

"Bagi saya yang sudah lama bertengkar dengan Soekarno tentang bentuk dan susunan pemerintahan yang efisien, ada baiknya diberikan fair chance kepada Presiden Soekarno untuk mengalami sendiri, apakah sistemnya itu akan menjadi suatu sukses atau suatu kegagalan," tulis Hatta dalam buku yang berjudul Demokrasi Kita.

Setelah meletakkan jabatannya, Hatta sibuk menulis sejumlah buku.

Hatta pidato
info gambar

Hal ini menjadi angin segar bagi kalangan akademisi yang saat itu mesti melahap buku berbahasa asing.

"Dalam bulan ini juga beliau (Hatta) akan menyelesaikan karangan-karangannya mengenai pengetahuan ekonomi dan sosiologi, yang kemudian akan disusul dengan buku mengenai sejarah Indonesia. Bukankah kabar ini sangat menggembirakan? Sebab hanya sedikit sekali ekonom-ekonom kita yang mau membuang waktunya untuk mengarang buku-buku. Kebanyakan buku-buku yang harus kami pelajari tertulis dalam bahasa asing, yang sedikit banyak merupakan satu handicap," kata pembaca Star Weekly, Thio Kiem Lian.

---

Referensi: TEMPO Publishing, "Soekarno-Hatta : Melihat Hubungan Persekutuan Dan Konflik Diantara Dua Proklamator" | Star Weekly

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini